.....apa saja yang terpikirkan,yang jadi perhatianku, kehidupanku, pengalaman(ku dan orang lain), apa yang kusukai, apa yang tidak kusuka,apa yang ingin kubagikan, apa yang menyentuhku,apa yang tidak ingin aku lupakan, yang menginspirasiku, yang menolongku, menguatkanku, dan berarti buatku.

Dan di atas segalanya, perjalananku bersama Yesusku, saat-saat aku belajar berjalan bersama-Nya, bergantung sepenuhnya kepada-Nya,menikmati pemeliharaan dan kasih-Nya yang sempurna atas hidupku.

Friday, November 5, 2010

“Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.”

“Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.”




Domba adalah makhluk dengan kebiasaan buruk, jika ditinggalkan sendirian,

mereka akan mengikuti jalur yang sama sehingga bagian itu menjadi gundul, merumput di perbukitan yang itu-itu saja sampai bukit itu berubah menjadi gurun, mencemari wilayah mereka hingga rusak oleh parasit dan penyakit.



Satu pengamanan terbesar yang perlu dilakukan gembala adalah dengan membuat mereka tetap berpindah-pindah. Mereka tidak boleh dibiarkan terlalu lama berada di wilayah yang sama. Mereka harus digiring ke padang rumput secara periodik, untuk mencegah rumput habis dimakan. Ini juga untuk menghindari terbentuknya jalan setapak dan erosi karena tanah terlalu sering dilewati. Ini juga mencegah domba terinfeksi parasit atau penyakit yang masuk ke dalam tubuh, sebab domba pindah dari tanah yang terinfeksi sebelum organisme-organisme itu menyelesaikan bagian hidupnya.



Harus ada rencana tindakan yang sudah ditentukan sebelumnya, rotasi yang disengaja dan direncanakan dari satu tempat merumput, ke tempat merumput yang lain. Inilah yang muncul di benak Daud waktu ia berbicara tentang ”dituntun di jalan yang benar.”



Sekarang kita melihat kesamaannya dengan manusia, pola perilaku dan kebiasaan hidup kita mirip dengan domba ini. Kebanyakan dari kita sangat tegar tengkuk dan keras kepala. ”Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalan sendiri.” (Yesaya 53:6) Sama seperti domba yang buta, terbiasa dan bodoh karena suka mengikuti jalur kecil yang sama hingga terbentuk selokan besar, kita manusia juga suka melekat dengan kebiasaan sama yang menghancurkan kehidupan.



Mengambil ”jalan saya sendiri” berarti hanya melakukan apa yang saya mau. Saya bebas memaksakan kehendak saya. Padahal ”ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut.”



Domba yang keras kepala, mengikuti kemauannya sendiri, sombong, merasa dapat mencukupi kebutuhanannya sendiri, bersikeras menempuh jalannya yang lama dan merumput di tanah lama yang sudah tercemar. Dunia dipenuhi kawanan seperti itu, kita suka mengikuti kemauan kita sendiri, kita bersikeras tidak akan mengikuti kemanapun TUHAN mau memimpin kita, padahal DIA Sang Gembala yang baik senantiasa rindu menuntun kita di jalan yang benar. Hanya sedikit orang yang mau mengikuti jalan yang benar ini.



Ketimbang saya memilih jalan saya sendiri, seharusnya saya bersedia memilih jalan Kristus: hanya melakukan apa yang Dia minta saya lakukan. Pada dasarnya, ini adalah ketaatan yang sederhana dan terang-terangan. Ini berarti saya hanya pergi ke tempat Dia mengajak saya pergi. Saya mengatakan apa yang Dia perintahkan untuk katakan. Saya bertindak dan bereaksi dengan cara yang Dia inginkan.



Mungkin banyak orang menganggap itu hal yang mustahil. Tapi jika kita bersungguh-sungguh mau melaksanakan kehendak-Nya, dan dituntun oleh-Nya, Dia membuat hal itu mungkin. Sebab hanya Tuhanlah, yang mengerjakan di dalam kita, baik kemauan maupun pekerjaan, menurut kerelaannnya. (Filipi 2:13)



Sumber: A Shepherd Looks At Psalm 23-W. Phillip Keller



Kasongan, 22 Juli 2010

-Mega Menulis-

No comments:

blog comments powered by Disqus

FoLLoWeRs