.....apa saja yang terpikirkan,yang jadi perhatianku, kehidupanku, pengalaman(ku dan orang lain), apa yang kusukai, apa yang tidak kusuka,apa yang ingin kubagikan, apa yang menyentuhku,apa yang tidak ingin aku lupakan, yang menginspirasiku, yang menolongku, menguatkanku, dan berarti buatku.

Dan di atas segalanya, perjalananku bersama Yesusku, saat-saat aku belajar berjalan bersama-Nya, bergantung sepenuhnya kepada-Nya,menikmati pemeliharaan dan kasih-Nya yang sempurna atas hidupku.

Wednesday, August 31, 2011

Teologi Kucing dan Anjing (Bab 12): Merampas Kemuliaan dari Allah Pada Masa Sulit



Untuk menolong kita memahami lebih banyak tentang bagaimana memuliakan Allah pada masa-masa sulit, kita perlu berbicara tentang sesuatu yang disebut “Kemuliaan Potensial”. Untuk lebih memahaminya, mari kita berpikir tentang uang kertas $ 100. Kalau anda diberikan uang tersebut, apakah anda mau menerimanya? Tentu saja anda mau ^^ Tetapi kalau uang tersebut diremas-remas, digulung, apakah anda mau menerimanya? Tentu saja, nilainya tidak berubah! Kita boleh menginjak-injaknya, memakinya, menggunakan namanya dengan sia-sia, tetapi apa pun yang kita lakukan nilainya tidak berubah!

Prinsip yang sama juga berlaku bagi kemuliaan Allah. Tidak menjadi soal apa pun yang kita lakukan tehadap kemuliaan Allah, nilainya selalu ada. Melihat keadaan-keadaan yang sangat sulit, kita mungkin tidak melihat kemuliaan-Nya bersinar, tetapi kemuliaan itu ada. Kemuliaan Allah tidak pernah kehilangan nilainya maupun kehadirannya. Karena kita diciptakan untuk memancarkan kemuliaan-Nya, kemuliaan itu dapat bersinar menembus setiap keadaan kita yang sulit. Oleh sebab itu, sasaran hidup kita hendaknya mencari kemuliaan-Nya melalui setiap tahap dan keadaan dalam kehidupan kita.

Kita ingin mendefinisikan “Kemuliaan Potensial” sebagai kemuliaan yang dapat diberikan kepada Allah dan yang mencerminkan kedaulatan-Nya yang sempurna dalam segala keadaan. Kemuliaan potensial ada di sekitar kita di mana pun kita berada, apa pun yang sedang kita lakukan, serta bagaimana pun keadaan kita. Allah selalu ada dan selalu berkarya. Alkitab mengingatkan kita:”Sebab segala ssuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia.” (Roma 11:36)

Berapa banyak hal?
SEGALA SESUATU!
Hal itu mencakup segala sesuatu, dari mulai mengganti popok bayi, berkendaraan, menonton sepak bola, mencium bunga mawar, dan bahkan ketika kita mengalami penderitaan atau peyakit yang membahayakan nyawa kita. Kita dapat melihat kemuliaan dengan benar dan memancarkannya kembali kepada Allah dengan berkata,”Allah, Engaku sungguh mengagumkan”, atau kita berusaha bertahan dalam keadaan yang kita hadapi dan tidak mengakui bahwa tangan-Nya bekerja dalam kehidupan kita dan kita tidak memancarkan kembali kemuliaan tersebut kepada Allah.

Kemuliaan potensial sering hilang pada masa-masa sulit, yaitu masa-masa ketika kita tidak memperoleh kehidupan yang aman, mudah dan nyaman seperti yang kita harapkan. Keadaan-keadaan itu memberikan kesempatan untuk memancarkan kemuliaan Allah, tetapi kita tidak melihatnya.

Kucing sering kali kehilangan kemuliaan Allah karena mereka begitu terfokus pada apa yang dapat diperoleh orang. Mereka mrelihat kematiaan dan hati mereka terluka. Mereka tidak pernah mengalihkan perhatian mereka dari hal itu untuk memikirkan apa yang dapat diperoleh Allah dari peristiwa itu. Mari kita memahami bagaimana masa-masa sulit sarat dengan kemuliaan potensial bagi Allah dengan berkata,”Lebih sulit keadaan, lebih banyak kemuliaanyang diperoleh Allah.”

Wlaupun anjing tidak mencari-cari masa sulit, namun ketika masa sulit tiba, mereka melihatnya sebagai kesempatan untuk menyatakan kemuliaan Allah. Tetapi bagi kucing, apabila ada masa-masa ketika kemuliaan Allah tidak bersinar melalui berkat,bagaimana tanggapan mereka? Ketika mengalami penderitaan mereka berkata,”Curang! Allah itu tidak adil!” dan mereka sama sekali tidak menyadari  potensi untuk memuliakan Allah. Bahkan jika mereka tidak diberkati, mereka beranggapan tidak ada lagi alasan untuk memuliakan Allah.

Ketika keadaan tidak adil bagi kucing, mereka mulai menyalahkan Allah. Kucing tidak pernah mempertimbangkan bahwa keadaan tersebut adalah berkat tersamar untuk lebih menunjukkan kemuliaan Allah. Seharusnya, ketika keadaan itu terjadi, kita dapat mengungkapkan kemuliaan-Nya dan kemahakuasaan-Nya dengan bersyukur kepada-Nya, memuji dan menyembah Dia. Tetapi karena kucing tidak berpandangan demikian, maka kemuliaan potensial menjadi hilang.

Kita perlu belajar bahwa kehidupan tidak pernah dirancang supaya ‘adil’. Kehidupan dirancang sebagai serangkaian kesempatan untuk mencerminkan dan memancarkan kemuliaan Allah.

Di bab berikutnya, kita akan belajar kenapa pertumbuhan kucing terhambat, wait and see ya....!!
GOD bless ^-^



Palangkaraya, 31 Agustus 2011
-Mega Menulis-


No comments:

blog comments powered by Disqus

FoLLoWeRs