.....apa saja yang terpikirkan,yang jadi perhatianku, kehidupanku, pengalaman(ku dan orang lain), apa yang kusukai, apa yang tidak kusuka,apa yang ingin kubagikan, apa yang menyentuhku,apa yang tidak ingin aku lupakan, yang menginspirasiku, yang menolongku, menguatkanku, dan berarti buatku.

Dan di atas segalanya, perjalananku bersama Yesusku, saat-saat aku belajar berjalan bersama-Nya, bergantung sepenuhnya kepada-Nya,menikmati pemeliharaan dan kasih-Nya yang sempurna atas hidupku.

Monday, January 21, 2013

Sahabat Sang Mempelai



Yohanes 3:22-30

Yohanes Pembaptis menyamakan dirinya dengan sahabat mempelai lelaki dan Yohanes mengumpamakan mempelai lelaki adalah Yesus.  Dan saat banyak muridnya berselih dengan orang lain, merasa iri karena banyak orang ingin dibaptis Yesus daripada gurunya, sikap Yohanes adalah:


1.       Ia tidak cemburu
Dia tidak pernah mempermasalahkan siapa yang lebih banyak membaptis, dia melakukan tugasnya saja, dan menolak untuk iri hati terhadap pekerjaan yang dilakukan orang lain. Yang terpenting pelayanan bagi Tuhan terlaksana, gak peduli siapapun yang melakukan. Dia menyadari apa tugasnya, dan melakukan apa yang dipercayakan padanya dengan sungguh. Jadi, tidak ada tempat baginya untuk menatap pekerjaan orang lain, lalu berpikir seandainya dia yang mengerjakan itu pasti dia akan lebih baik. TIDAK! Dia fokus pada apa yang menjadi bagiannya.Dan dia hanya mengerjakan itu. Di bagian ini aku ketampar-tampar, seringkali aku terlalu banyak melihat orang lain, pencapaian mereka, menginginkan apa yang menjadi bagian orang lain, padahal Allah punya bagian khusus untukku. Tidak perlu aku iri hati dengan apa yang dimiliki orang lain.

2.       Ia tahu panggilan hidupnya
Yohanes Pembaptis mengatakan kepada semua orang bahwa ia mempersiapkan jalan bagi Tuhan, dia adalah suara yang berseru-seru di padang gurun itu. Dia mengetahui panggilan hidupnya dengan tepat dan dia memenuhi panggilan hidupnya. Seberapa banyak dari kita yang gak memenuhi panggilan hidup kita. Dan boro-boro memenuhi, mungkin ada pula yang tidak tahu panggilan Allah akan hidupnya. 

3.       Ia mengenali siapa dirinya dan siapa Allahnya
Pengenalan akan diri kita pribadi dan Allah dimulai dengan hubungan pribadi dengan Allah, hubungan yang intim dengan Allah. Dan Yohanes Pembaptis pasti memilikinya, jika tidak, bagaimana mungkin dia mengenali Yesus sebagai Mesias. Bayangkan dengan murid-murid Yesus yang mengikuti Yesus tap setelah sekian lama baru mengenal dan mengakui Yesus sebagai Tuhan, padahal mereka mengikuti Dia setiap hari.

4.       Sukacitanya adalah melihat Allah dipermuliakan
Bagi Yohanes Pembaptis, tidak ada tempatnya untuk dipermuliakan, yang harus dilihat orang saat dia melayani, membaptis, berjalan, hidup dan bernapas adalah Allah yang telah hadir di dalam hidupnya. Setiap hari, dia semakin tidak kelihatan, dan Allah saja yang terlihat dalam hidupnya. Jika orang lain tidak mengenali Tuhan setelah dilayaninya, mungkin dia merasa gagal, karena dia adalah yang mempersiapkan kedatangan sang mempelai, ia memastikan, Allah mendapatkan kemuliaan yang harus diterimanya saat ia datang. Tidak masalah bagi Yohanes bila orang lain tidak mengingat atau mengenalinya, yang terpenting jangan sampai orang-orang tidak mengenali Sang Mempelai Lelaki yang telah datang.

Entah mengapa, saat membaca bagian sate hari ini, aku teringat pengalamanku menjadi sahabat mempelai. Well,aku gak pernah menjadi sahabat mempelai lelaki (secara, aku perempuan :p, hahahaha),tapi aku mempunyai sahabat (perempuan) yang telah menikah, dan aku turut hadir dalam pemberkatan dan resepsi pernikahan mereka. Dalam pernikahan Vanni, Sintha, Tia dan Ria aku mengikuti acara pemberkatan dan resepsinya (biasanya ma kalo ada kawan menikah, resepsinya saja yang aku ikuti, tapi untuk keempat wanita ini, aku turut mengikuti pemberkatannya).



Keempat kasusnya (kasuss? Tuing..tuing...) sama, aku dan Fani menantikan kedatangan mereka di gereja (selalu ada Fani juga di sana, hahahaha *colek fani). Aku tidak tahu bagaimana dengan Fani, tapi sebelum mereka datang, aku selalu penasaran, bagaimana rupa mereka dalam ‘seragam’ pengantinnya. Paling sebel kalo nunggunya lama (kenapa sih gak on time mereka ni, gak sesuai dengan yang di undangan, adaaaa aja beda waktunya, hahahhaa). Tapi begitu mereka datang, hilanglah rasa sebelku, berganti senang (akhirnyaaaa, datang juga... ^^).Dan mereka sama, mereka tampil berbeda dari biasanya (ya iya lah, mana ada hari biasa pakai baju pengantin, huahahahahahha), berbeda bukan sekedar karena pakaian ya, tapi mereka terlihat suangaaatttt cantik, bersinar, dan bahagia (pastinyaaa dunk...), disertai  secuil wajah tegang (hahahaha, mikirin katering kali ya *ngaco*).



Mengikuti pemberkatan pernikahan mereka membuatku terharu, mengingat perjalanan cinta mereka yang akhirnya sampai pada pernikahan (jadi teringat beberapa momen curhat), dan adalah kebahagiaan mendengar janji nikah mereka, ahhhh...Asli, momen ini bener-bener aku nantikan, suatu keajaiban menyaksikan 2 insan berkomitmen mengasihi dalam suka dan duka di hadapan Tuhan, dan Tuhan yang menjadi saksi atas komitmen mereka, aaaarrrgghhhh...jadi pengen nikah juga *lohhh???!!! Hahahahahaha ^^V


Kasongan, 20 Januari 2013
-Mega Menulis-

4 comments:

Volare Amanda said...

mbak mega... membukakan sesuatu.... humm..

Mega said...

membukakan apa nih Manda? ^^

Felhis said...

yuk yuk, makin kita ukir kisah hidup kita dengan perjalanan cinta kita dengan sang mempelai, supaya pas hari dimana pernikahan dengan mempelai Kristus, kita siap memasuki 'altar'

Anonymous said...

meg mula tegang tu oleh uyuh menghafal janji kudus pernikahan.. takut salah wkwkwkwk... jd terharu ingat moment itu... smga mega n fani cepet nyusul...

blog comments powered by Disqus

FoLLoWeRs