.....apa saja yang terpikirkan,yang jadi perhatianku, kehidupanku, pengalaman(ku dan orang lain), apa yang kusukai, apa yang tidak kusuka,apa yang ingin kubagikan, apa yang menyentuhku,apa yang tidak ingin aku lupakan, yang menginspirasiku, yang menolongku, menguatkanku, dan berarti buatku.

Dan di atas segalanya, perjalananku bersama Yesusku, saat-saat aku belajar berjalan bersama-Nya, bergantung sepenuhnya kepada-Nya,menikmati pemeliharaan dan kasih-Nya yang sempurna atas hidupku.

Tuesday, July 16, 2013

Wisdom in Book "Faith Like Potatoes"



Judul Buku                   : Faith Like Potatoes
Penulis                         : Angus Buchan & Jan Greenough & Van Waldeck
Penerbit                       : METANOIA
Dibeli di                       : TB.Rajawali

Resensi
Ini adalah kisah nyata seorang petani keturunan Skotlandia yang hidup di Amerika Selatan bernama Angus Buchan. Dan ia dipakai Allah secara luar biasa untuk menanam kentang (yeah...menanam kentang), dan menanam kentang ternyata membutuhkan iman yang luar biasa, apalagi ia belum pernah menanam kentang sebelumnya. Di saat orang lain tidak mau menanam kentang karena dipandang rugi, ia tetap taat. Allah tidak mengecewakannya, kemudian  Allah memanggilnya memberitakan Injil, dan ia menyaksikan Roh Kudus yang bekerja melalui dirinya, banyak mukzizat yang dikerjakan.


Iman Angus sungguh luar biasa, kebayang gak sih, dia belum pernah menanam kentang. Kemudian, di tahun itu diramalkan badai El Nino yang terbesar akan datang, petani lain menyarankan untuk tidak menanam tanaman yang mahal, tapi Angus dipenuhi dengan keyakinan untuk mempercayai Allah berapa pun harganya. Dan harganya sangat mahal, menanam kentang adalah investasi yang sangat besar dan beresiko. Apa yang diminta Allah sungguh menguji imannya. Tapi dia tetap menanam kentang dan memberikan perlakuan terbaik bagi kentang-kentangnya. Semua orang menonton dengan heran apa yang dia dan keluarganya lakukan, tapi dia berkata mereka sedang mempercayai Allah. Allah tidak mengecewakannya, Allah menjagai setiap inci dari tanamannya. Angus kemudian bersaksi di berbagai tempat tentang mukzizat Tuhan dan memberitakan Injil.

Hikmat
Bagian yang aku ingat banget adalah waktu Angus membandingkan dirinya dengan tetangganya yang menanam kacang kedelai, tanaman yang paling aman jika dipandang situasi kering masa itu. Dan tetangganya memang memperoleh keuntungan,tetapi sangat sedikit. Masuk akal. Karena siapa yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan yang menabur banyak akan menuai banyak. Sebenarnya kalo Angus ‘asal’ taat aja nampaknya gak salah ya, hehehehehe, kan bisa aja tuh dia nanam kentang, gak mesti semua ladangnya, trus gak usah maksimal merawatnya, eh....tapi si Angus nggak lo, dia total banget. Semua ditanamin kentang, trus semua kentangnya dirawat seperti merawat bayi katanya, kebayang gak si?

I learn, jika Allah ingin aku melakukan sesuatu, dan aku taat, itu berarti aku harus menabur banyak, jika ingin menuai banyak. Menabur doa, menabur usaha, menabur waktu, menabur air mata, menabur materi, dan menabur apapun yang diperlukan dah pokoknya supaya apa yang dikehendaki Allah jadi. Bukan berarti kita diam dan do nothing, atau hanya melakukan sekedarnya. We have to do our best, kemudian mempercayai Allah.

Aplikasi
Aku harus menabur banyak jika ingin tuaianku banyak.
Aku ingin melalui persahabatan dan hubunganku dengan orang lain, bisa jadi kesaksian bagi orang lain. Dan bagaimana aku bisa melakukannya jika aku gak menabur, aku harus spending more time dengan orang lain, gak asyik dengan duniaku sendiri. Karena harus aku akui, terkadang aku terlalu menikmati waktu-waktuku sendiri *sigh*. Jadi, aku menyempatkan setiap hari chat atau sms dengan kawan-kawanku, bertukar kabar, mengobrol yang berkualitas, sehingga mengetahui pergumulannya.

Kasongan, 15 Juli 2013
-Mega Menulis-




Judul Buku                   : Faith Like Potatoes
Penulis                         : Angus Buchan & Jan Greenough & Van Waldeck
Penerbit                      : METANOIA
Dibeli di                       : TB.Rajawali

Resensi
Ini adalah kisah nyata seorang petani keturunan Skotlandia yang hidup di Amerika Selatan bernama Angus Buchan. Dan ia dipakai Allah secara luar biasa untuk menanam kentang (yeah...menanam kentang), dan menanam kentang ternyata membutuhkan iman yang luar biasa, apalagi ia belum pernah menanam kentang sebelumnya. Di saat orang lain tidak mau menanam kentang karena dipandang rugi, ia tetap taat. Allah tidak mengecewakannya, kemudian  Allah memanggilnya memberitakan Injil, dan ia menyaksikan Roh Kudus yang bekerja melalui dirinya, banyak mukzizat yang dikerjakan.

Iman Angus sungguh luar biasa, kebayang gak sih, dia belum pernah menanam kentang. Kemudian, di tahun itu diramalkan badai El Nino yang terbesar akan datang, petani lain menyarankan untuk tidak menanam tanaman yang mahal, tapi Angus dipenuhi dengan keyakinan untuk mempercayai Allah berapa pun harganya. Dan harganya sangat mahal, menanam kentang adalah investasi yang sangat besar dan beresiko. Apa yang diminta Allah sungguh menguji imannya. Tapi dia tetap menanam kentang dan memberikan perlakuan terbaik bagi kentang-kentangnya. Semua orang menonton dengan heran apa yang dia dan keluarganya lakukan, tapi dia berkata mereka sedang mempercayai Allah. Allah tidak mengecewakannya, Allah menjagai setiap inci dari tanamannya. Angus kemudian bersaksi di berbagai tempat tentang mukzizat Tuhan dan memberitakan Injil.

Hikmat
Bagian yang aku ingat banget adalah waktu Angus membandingkan dirinya dengan tetangganya yang menanam kacang kedelai, tanaman yang paling aman jika dipandang situasi kering masa itu. Dan tetangganya memang memperoleh keuntungan,tetapi sangat sedikit. Masuk akal. Karena siapa yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan yang menabur banyak akan menuai banyak. Sebenarnya kalo Angus ‘asal’ taat aja nampaknya gak salah ya, hehehehehe, kan bisa aja tuh dia nanam kentang, gak mesti semua ladangnya, trus gak usah maksimal merawatnya, eh....tapi si Angus nggak lo, dia total banget. Semua ditanamin kentang, trus semua kentangnya dirawat seperti merawat bayi katanya, kebayang gak si?

I learn, jika Allah ingin aku melakukan sesuatu, dan aku taat, itu berarti aku harus menabur banyak, jika ingin menuai banyak. Menabur doa, menabur usaha, menabur waktu, menabur air mata, menabur materi, dan menabur apapun yang diperlukan dah pokoknya supaya apa yang dikehendaki Allah jadi. Bukan berarti kita diam dan do nothing, atau hanya melakukan sekedarnya. We have to do our best, kemudian mempercayai Allah.

Aplikasi
Aku harus menabur banyak jika ingin tuaianku banyak.
Aku ingin melalui persahabatan dan hubunganku dengan orang lain, bisa jadi kesaksian bagi orang lain. Dan bagaimana aku bisa melakukannya jika aku gak menabur, aku harus spending more time dengan orang lain, gak asyik dengan duniaku sendiri. Karena harus aku akui, terkadang aku terlalu menikmati waktu-waktuku sendiri *sigh*. Jadi, aku menyempatkan setiap hari chat atau sms dengan kawan-kawanku, bertukar kabar, mengobrol yang berkualitas, sehingga mengetahui pergumulannya.

Kasongan, 15 Juli 2013
-Mega Menulis-


No comments:

blog comments powered by Disqus

FoLLoWeRs