.....apa saja yang terpikirkan,yang jadi perhatianku, kehidupanku, pengalaman(ku dan orang lain), apa yang kusukai, apa yang tidak kusuka,apa yang ingin kubagikan, apa yang menyentuhku,apa yang tidak ingin aku lupakan, yang menginspirasiku, yang menolongku, menguatkanku, dan berarti buatku.

Dan di atas segalanya, perjalananku bersama Yesusku, saat-saat aku belajar berjalan bersama-Nya, bergantung sepenuhnya kepada-Nya,menikmati pemeliharaan dan kasih-Nya yang sempurna atas hidupku.

Friday, August 30, 2013

Musa, Kaleb dan Debora



To : anggit@preciousmail.com
Subject : 2nd #letter

Dear Anggit,
How are you there? Sedang menikmati coklat favoritmu kah sekarang? Eh, aku suka coklat juga looo...Err,ngomong-ngomong soal coklat nih, jadi teringat saat aku dibilang ‘pelit’ sama abangnya abangku, gini ceritanya, aku kan diajak abangku ngumpul bareng keluarganya sewaktu di Jakarta, abang iparnya membawa sekotak coklat impor, aih...coklatnya mungil-mungil dan cantik banget bentuknya, di dalamnya ada coklat cair lagi. Macem-macem kan tuh bentuknya. Aku gak tahu lah ya, gimana caramu menikmati coklat Nggit , tapi aku menikmati setiap gigitanku, pelan-pelaaannnn banget, meresapi manisnya, aihhh...satu coklat mungil itu aku ngabisin waktu berapa menit. Dan tau-tau abangnya abangku dalam hitungan detik menelan (catet ya: MENELAN! Soale gak dinikmati banget makannya) tu coklat, hap..hap...hap...Gak nyampe semenit coba. Aku nyelutuk dunk gini,”Wah bang, pelan-pelan bang, dinikmati...”. Rupanya si abang itu juga sempat ngamatin juga caraku menikmati coklatku, dan tau-tau dia bilang,”Wah Ga, Cuma orang pelit yang makan coklatnya kayak gitu.” Hahahaha, kalo diingat sekarang lucu, tapi waktu itu aku bengong doang Nggit. Speechless. Malu ^^’
Senang deh, denger kamu disana jadi bisa menyalurkan hobi memasakmu. Jangan-jangan sekarang kamu sedang mencoba resep baru di dapurmu nih? Emang deh ya, punya dapur sendiri bikin gatel buat bereksperimen resep ini itu, hohohoho. Aku juga. Aku baru punya dapur looo...Dapur beneran.Hohohoho.  Jadi makin semangat buat masak. Sayangnya, gak bisa nih kirimin foto masakanku, kamera di hapeku rusak, huhuhuhuhu. Aku bilang sama Tuhan, pengen banget aku punya hape baru, wah...kalo dikasih puji Tuhan banget, tapi kalo ngga pun puji Tuhan. Berarti aku belum memerlukannya ^^

Tau gak sih, believe it or not, hari dimana aku membaca suratmu, sorenya saat ngutak-ngatik chanel TV, di Cinemax sedang memutar sebuah film berjudul The Ten Commandments, dengan tokoh sentralnya Musa. Kebetulan? I don’t think so. Sayang, aku gak sempat menontonnya sampai habis, penyakit lama kumat, listrik mati *sigh* Yang aku ingat, saat itu aku sampai ada bagian dimana Musa disidang saat tertangkap membunuh orang Mesir untuk membela bangsanya, saat itu ia ditanya, apa kekuatan yang dimiliki seorang pria seperti dia sehingga berani berpikir sanggup membebaskan bangsanya. Dan Musa menjawab,”Perlu lebih dari seorang pria untuk melepaskan suatu bangsa dari perbudakan. Ini memerlukan kekuatan Tuhan”. Dan tiba-tiba...byarrr...pet...Listrik mati. Nyebelin ah.
                     
Aku mengagumi Musa yang dikenal sebagai orang yang paling lemah lembut di muka bumi ^^ Dan menonton film yang aku ceritakan tadi,aku  juga mulai melihat sisi lain Musa, yang berani meninggalkan zona nyamannya, dan mengorbankan dirinya, diusir dari istana, demi kepentingan bangsanya. Mengenai mengapa Musa tidak diizinkan Allah masuk ke tanah perjanjian, kupikir dulu itu karena Allah menganggap serius pelanggaran yang dilakukan Musa. Dia melanggar Firman Tuhan. Allah bersikap keras sama Musa.Tapi posisi Musa adalah pemimpin bangsa Israel saat itu. Dan ada konsekuensi saat kita tidak menjunjung tinggi kekudusan Allah. Allah mengampuni, of course, tapi kita gak bebas dari konsekuensi pelanggaran kita. Aku baru berpikir ini Nggit, bagaimana kalau sebenarnya bagian Musa bukanlah memasuki tanah perjanjian, bagaimana jika bagiannya adalah menjadi nabi yang berbicara muka dengan muka dengan Allah. Bagaimana jika Musa sebenarnya lebih ingin berkata,”Tuhan adalah bagianku, kata jiwaku”. Dan Tuhan menjawabnya. Well, just my thought.

Dan Kaleb, adalah salah satu tokoh favoritku lo Nggit, one day, kalo aku punya anak kembar cowok, mau kuberi nama Yosua dan Kaleb, hohoho. Atau David dan Daud? Yang belakangan baru terpikir kemudian sih, hahaha, kamu lebih milih yang mana? Apaan sihhh....*khalayan tingkat tinggi*

Bagaimana ya aku bisa melihat terang, sementara apa yang di depan adalah perang?Memiliki keyakinan yang gak tergoyahkan kepada Allah di tengah ketidakpastian?

Pertanyaanmu itu dalam sekejap jadi pertanyaanku juga kemarin, dan gak disangka dapat pencerahan melalui Ruri adikku. Kemarin dia datang dari Palangkaraya untuk berlibur di Kasongan, siang hari dia tiba,eh, eh...waktu sore dia baru tahu kalau komik dan buku bacaan yang seharusnya dibawanya malah ketinggalan, tapi dia tenang-tenang aja, rencana kepulangannya gak berubah, dia bilang dia bisa bertahan karena dia tahu besok masih ada laptopnya menanti, tebak Nggit, keesokan paginya dia baru sadar charger laptopnya ketinggalan *tepok jidat*, hahahaha.
Tapi, kalimatnya yang bilang kalo dia bisa bertahan karena dia tahu besok masih ada laptopnya menanti itu seketika jadi pernyataan yang juga menghangatkan hatiku, ini kali ya yang bikin Kaleb bisa bertahan, dia tahu apa yang menantinya, dan dia yakin tidak akan dikecewakan oleh Allah, dia mengenal Allahnya.

Well, aku gak tahu sih, kamu akan seperti Musa atau Kaleb.
Seandainya boleh memilih, kamu ingin seperti siapa Nggit?
Sejujurnya, menurutku kamu akan menjadi  seperti Anggit, hohohoho.
Seorang wanita yang unik, yang gak ada duanya, bahkan tiganya di dunia ini, seorang wanita yang akan setia pada setiap proses yang dikerjakan Allah dalam hidupnya,dan setiap hari dibentuk makin indah oleh tanganNya. Karena kamu tahu, segala sesuatu adalah tentang Tuhan maka kamu akan memancarkan kemulianNya dan melangkah dalam ketaatan pada BAPA kita. Kamu akan hidup untuk mengenalNya dan membuatNya dikenal.
That’s my pray sis ^^

Kupikir, pergumulanmu mengenai persekutuan juga jadi pergumulanku disini Nggit. Aku belum menemukan di tempat ini (Kasongan maksudku), orang-orang yang dengannya aku bisa berbagi apapun dan menceritakan apapun tanpa mikir, kemudian bertumbuh bersama dengannya. Aku berusaha tetap berhubungan dengan mereka yang menjadi rekanku bertumbuh semasa kuliah dulu, walaupun sejujurnya, tetap beda rasanya dengan punya seseorang yang bisa bertemu muka dengan muka, duduk bersama dan berbicara apapun. Dan waktu kudapati itu gak mudah. Duduk diam, menulis, talking with God menjadi sesuatu yang lebih sering aku lakukan sekarang-sekarang ini.

Eh Nggit, aku baru aja kepikiran jadi kayak Debora tu gak gampang ya. Dia istri, ibu sekaligus hakim, alamakkkk..... Gimana tuh ya. Entah napa jadi mikir yang, kalo aku sudah menikah, punya anak, dan masih bekerja gimana ya? Huaaaa.....Tiba-tiba sempat gentar!  Tapi mengingat anugerah Tuhan selalu cukup buat kita semua, jadi senyum. Ntar berapa hari kemudian bisa kepikiran. Aih, kalo dipikir sih ngapain ya mikirin sesuatu yang belum waktunya dipikirin, kalo waktunya tiba pasti bisalah ditanggung, fiuh... Peperangan di dalam pikiran ini susah ya, musuh belum nampak aja, bisa dah stres sendiri, ckckckck. Please pray for me Nggit. Thank you ya. God bless you Nggit.

Love,
a soon to get marriedlady in Kalimantan

No comments:

blog comments powered by Disqus

FoLLoWeRs