.....apa saja yang terpikirkan,yang jadi perhatianku, kehidupanku, pengalaman(ku dan orang lain), apa yang kusukai, apa yang tidak kusuka,apa yang ingin kubagikan, apa yang menyentuhku,apa yang tidak ingin aku lupakan, yang menginspirasiku, yang menolongku, menguatkanku, dan berarti buatku.

Dan di atas segalanya, perjalananku bersama Yesusku, saat-saat aku belajar berjalan bersama-Nya, bergantung sepenuhnya kepada-Nya,menikmati pemeliharaan dan kasih-Nya yang sempurna atas hidupku.

Wednesday, November 20, 2013

Generasi Ortu, Generasi Kita dan Generasi Kemudian

Dari semalam dan dilanjutin pagi ini,aku sama Dina ngobrolin perbedaan perilaku anak-anak di zaman orang tua kita, zaman kita dan zaman sekarang. Berasa banget bedanya.

Papahku dulu sering banget cerita kalo zaman dia sekolah tu susah banget,bener-bener perjuangan, harus naik getek trus jalan kaki beberapa km. Alamakkkk...Trus zaman papahku kuliah tu katanya gak ada yang namanya sistem SKS. Kalo ambil beberapa mata kuliah trus ada yang gak lulus,mesti ngulang semuanya. Canggih kan? Kalo zaman sekarang kayak gitu,nangis-nangis dah kita. Belum lagi ya kalo denger gimana papah mesti kerja sambil sekolah, untuk biaya hidup dan sekolahnya, geleng-geleng deh. Ngetik skripsi pake mesin tik manual booo...Artinya kalo salah dikit mesti ngulang dari awal, ga ada tuh DELETE trus ketik, apalagi copas kayak zaman sekarang. Bener-bener perlu kerja keras untuk sekolah. Untuk kuliah. Untuk hidup.

Sering mendengar cerita yang kayak gitu. Mamah ma komentarnya,"Itu kan zaman dulu mas, zaman sekarang bedaaa...." Hahahahaha. Emakku kalo ngomong emang nyantai abis,wkwkwk. Tapi keseringan denger cerita gitu aku jadi yang bener-bener menghargai perjuangan dan kerja keras papah. Jadi gak banyak menuntut macam-macam. Untuk memenuhi hobiku membaca pun, aku menyisihkan dari uang sakuku untuk menyewa buku di rental komik. Dari kecil dah diajarin ngatur duit, jadi aku ingat banget zaman SD dulu di awal minggu dikasi mamah uang jajan buat seminggu, jadi pinter-pinter ngatur aja deh. Nah, kalo papah si agak aneh juga menurutku awalnya, sering menceritakan susahnya zaman dulu dia sekolah tapi sedapat mungkin dia selalu berusaha memenuhi semua kebutuhan anak-anaknya. Namanya orang tua, mungkin dia gak mau anaknya merasakan kesusahan yang dia rasakan.

Aku bersyukur gak mesti mengalami yang papah alami.
Tapi berhubung dah tau perjuangannya, kami anak-anaknya juga cukup tahu diri sih kalo mau minta macam-macam. Untuk dapat tambahan jajan atau barang yang aku inginkan, kalo gak menyisihkan uang jajanku, aku berjualan macam-macam barang.

Dina share kalo dia pernah dengar dari Juna (juri acara Master Chef dulu) kalo generasi kita tuh punya keunikan dibanding generasi sebelumnya & sesudahnya. Generasi kita tuh generasi peralihan. Kita mengalami  konvensional & ketika teknologi berkembang. Sedangkan generasi sebelum kita tidak mengalaminya,contohnya ortu kita. Generasi sesudah kita pas lahir semua sudah tersedia jadi kalau  mereka tidak memiliki barang-barang teknologi  mereka merasa ada yang hilang dalam diri mereka. Benar-benar perjuangan menjadi ortu sekarang.

Menurut Dina kita cenderung bisa lebih mengikuti perkembangan zaman tapi juga lebih bisa mengontrol keinginan kita. Kalau generasi sekarang maunya serba cepat karena secara tidak langsung mereka sudah lahir di lingkungan yang segala sesuatunya serba tersedia jadi secara alam bawah sadar spirit tersebut msk ke dlm diri mrk. Istilahnya kalau bisa cepat,kenapa juga harus berlambat-lambat. Makanya kecenderungan pemberontakan lbih tinggi mskipun awalnya mereka mungkin hanya bersikap kritis. Sonship dibutuhkan oleh mereka dan kita kudu belajar banyak untuk punya father heart.

Pengalaman Dina, suatu hari dia pernah mengantarkan temannya apply kartu kredit sebuah bank. Dan tak gak sih, ada ibu-ibu yang nawarin anaknya sendiri untuk buat kartu kredit yang limitnya 3 jt sebulan, padahal tu anak masih SD, gilo kannnn? Kalo pengalamanku sih menyaksikan seorang anak SMP yang mengancam gak sekolah kalau gak dibelikan BB sudah beberapa kali #tepokjidat. Daku aja yang dah kerja mikir beberapa kali buat beli Bebeh ehhh...anak-anak ini pada gak tahu diri semua.Heran. Ada pula seorang anak gak tahu diri,masih SMP memaksa dibelikan motor padahal sekolahnya aja masih bolos melulu, helllooowwww....urusan sekolah aja gak bisa bertanggung jawab, gimana yang lainnya.

Masi segar dalam ingatan kita gimana hebohnya kejadian kecelakaan yang melibatkan putra musisi Ahmad Dhani. Anak SMP dah dikasih mobil mahal kayak gitu. Edan. Zaman sekarang serba kebablasan semua. Orang tua karena terlalu ingin menyenangkan anak-anaknya memberikan berbagai barang mewah maupun barang teknologi dengan gampangnya tanpa memikirkan akibatnya pada si anak. Si anak juga beranggapan merupakan kewajaran memiliki berbagai barang mewah tanpa berusaha. Cocok kan?Haissss....

Di satu sisi terkadang aku jengkel sama ortu yang kayak gitu,tapi di sisi lain mcoba ga mmahami.Mungkin ya kayak aku cerita di awal tadi,namanya ortu yang dah ngerasa mampu jadi pengen memberikan yang terbaik buat anaknya. Cuma ya kubilang memberikan tanpa melihat faktor kdewasaan anak itu berbahaya,ini bukan tentang umur aja, tapi juga dalam hal karakter dan pemikiran saat bersikap. Anak-anak yang dengan gampangnya mendapatkan kemauannya menjadi anak yang manja, tidak tahu berterima kasih dan daya juangnya gak ada. Mana mau mereka disuruh nabung dulua kalau menginginkan sesuatu. Toh pikir mereka kalau gak diberikan tinggal menangis atau marah-marah. Mereka gak bisa bedakan keinginan dan kebutuhan. Bener-bener prihatin.

Satiu lagi yang terjadi, mereka menjadi anak yang gak bisa menghargai apa yang mereka miliki toh dapatnya gampang pikir mereka. Kita harus mengakui, betapa kita menghargai apa yang sulit kita dapatkan. Nah, di kasus mereka beda, tinggal bilang ntar dapat kok. Lalu mau menghargai gimana? Gak heran kalau gak berapa lama barang yang mereka dapat rusak atau hilang. Ya iya lah, mereka gak merasakan susahnya mengadakan barang itu. Fiuhhh...kok aku jadi emosi gini ya, weleh-weleh...bener-bener curahan hati nih :p

Bukan mau menyalahakan siapa-siapa sih, toh aku belum mengalami menjadi orang tua, belum tahu rasanya punya anak yang merengek lalu berasa gak tega kalau gak memberikan :p Dan puji Allah, saat ini aku diingatkan Allahku adalah Tuhan sekaligus Bapa yang bijaksana. Dia gak asal memberikan setiap apa yang aku minta,jangan-jangan aku jadi anak yang kurang ajar ntar kalau gitu. Dia sungguh Bapa yang tahu mana kebutuhan dan mana yang sekedar keinginan. Saat aku menjadi orang tua suatu hari nanti, aku perlu belajar dan terus berkonsultasi denganNya.

Kasongan, 20 November 2013
-Mega Menulis-

No comments:

blog comments powered by Disqus

FoLLoWeRs