.....apa saja yang terpikirkan,yang jadi perhatianku, kehidupanku, pengalaman(ku dan orang lain), apa yang kusukai, apa yang tidak kusuka,apa yang ingin kubagikan, apa yang menyentuhku,apa yang tidak ingin aku lupakan, yang menginspirasiku, yang menolongku, menguatkanku, dan berarti buatku.

Dan di atas segalanya, perjalananku bersama Yesusku, saat-saat aku belajar berjalan bersama-Nya, bergantung sepenuhnya kepada-Nya,menikmati pemeliharaan dan kasih-Nya yang sempurna atas hidupku.

Monday, June 16, 2014

Surat Untuk Papah (2)



“Selamat ulang tahun pah….”, aku mengucapkan itu sambil menyalami papah, lalu papah mencium pipiku dan bilang,”Makasihlah nak….”.

Itu yang akan kita lakukan pada tanggal 14 Juni setiap pagi.
Kalau papah masih ada di sini.  
Tapi papah sudah pulang ke kekekalan 7 tahun yang lalu, jadi tahun ini kita gak bisa melakukannya ya pah T_T
Aku mimpi ketemu papah di hari ulang tahun papah tahun ini. Mimpi yang aneh, mengingatnya pun aku tersenyum. Mosok dah setua ini aku ikut lomba cerdas cermat kehutanan, heelllooowwww, baru tahu pun ada cerdas-cermat kayak gini, lalu di mimpiku aku “belajar” sama papah , tentang berbagai istilah, nama latin tumbuhan, agroforestry, dll. Hahahahaha. Mimpi yang mokso tenan :p Tapi aku sungguh senang bisa ketemu papah walopun Cuma dalam mimpi. Segitu kangennya aku pah, sampai bawah sadarku pun “merancang” mimpi yang nyeleneh bin ajaib gitu :p Seandainya aku ceritakan ke Mina Anyi, dia pasti sudah sibuk menghitung nomor buntut yang akan ditembaknya, hahahaha.  Jadi aku gak cerita kok pah :p

Pah, Belanda menang lawan Spnyol loooooo….!!! 5-1 lagi. Ckckckck. Bener-bener pembalasan dendam yang manis yap ah, secara piala dunia sebelumnya mereka gagal menjadi juara gara-gara Spanyol. Fiuhhhh,  kalo papah masih ada, papah pasti akan tersenyum lebar karena mendapatkan hadiah istimewa ini. Semoga tahun ini Belanda jadi juara piala dunia ya pah.

Setiap piala dunia, aku selalu teringat sama papah, apalagi kalau Belanda yang sedang bertanding. Gimana gak ingat papah,wong setiap kali kita menonton bola dulu, aku terpaksa mendengarkan papah mendongeng tentang Belanda si juara tanpa gelar. Aneh, apaan coba juara tanpa gelar, hahahaha. Tapi papah gak bosan mengatakan itu. Aku jadi kasihan sama Belanda kalau mendengar cerita papah, dianugerahi tim yang luar biasa bagus, tapi gak pernah sekali pun jadi juara piala dunia. Bahkan waktu era keemasan Gullit pun mereka Cuma berhasil menjadi juara EURO di tahun 1988. Dan aku heran , kok papah segitunya sih suka sama Belanda. Sampai-sampai, tiap piala dunia, selalu Belanda yang papah dukung. Iya sih, kita menonton bareng piala dunia Cuma 3 kali piala dunia (1998, 2002, 2006),tapi selama 3 kali itu pun papah konsisten mendukung Belanda.  Kenapa sih papah suka banget sama Belanda? Karena total footballnya? Atau karena apa? Aku belum pernah menanyakan ini sama papah. Kalo dipikir aneh deh, piala dunia demi piala dunia berlalu, gak peduli apakah Belanda punya the dream team apa ngga, Belanda selalu punya tempat istimewa di hati papah. Kenapa ya, dulu-dulu aku gak pernah menanyakan ini, kecintaan papah sama Belanda kuterima dengan wajar tanpa merasa aneh ato perlu ditanyakan kenapa. Sekarang malah aku baru heran.

Aku dah ga segila bola kayak dulu pah, kalau dulu, tim yang kudukung adalah tim yang di dalamnya ada pemain yang aku suka banget. Tapi sekarang, entah kenapa, Belanda selalu menduduki tempat istimewa di hatiku. Karena papah ^^ Tahun 2010 yang lalu, adalah  pertama kalinya aku menonton piala dunia tanpa papah dan aku mendoakan kemenangan Belanda, saat Belanda di final, aku berpikir juara tanpa gelarnya akan berakhir , rupanya ngga *sigh. Semoga tahun ini ya pah, tim kesayangan papah mematahkan kutukan “juara tanpa gelarnya” ^^ Amin.

Sekarang aku menonton piala dunia sendirian pah. Papah dah gak ada. Adi di Banjarmasin. Mamah dan Ruri gak suka nonton bola.
Aku pengen nonton piala dunia sama papah.
Aku kangen nonton piala dunia sama papah.


Kasongan, 16 Juni 2014
-Mega Menulis-


2 comments:

Asyiknya Menulis said...

sama meg, kalau piala dunia jadi teringat sama bapak juga. Suka aja dulu kalau final dia bagunin semua isi rumah tuk nonton bareng final piala dunia hahaha. Sekarang semuanya hanya tinggal kenangan yg selalu kuingat. miss you daddy

Mega said...

Uly, bapak sudah pulang ke rumah BABE di surga juga ya? I feel you sis :( Kalo papahku dulu suka mbangunin nonton karena dia minta dibikin indomie, hahaha. Dulu kadang jengkel lo, wong lagi gak pengen nonton pertandingan itu tau2 dibangunin cuma buat bikin indomie. Ironisnya, sekarang pengen benget dibangunin lagi kayak dulu ^^

blog comments powered by Disqus

FoLLoWeRs