.....apa saja yang terpikirkan,yang jadi perhatianku, kehidupanku, pengalaman(ku dan orang lain), apa yang kusukai, apa yang tidak kusuka,apa yang ingin kubagikan, apa yang menyentuhku,apa yang tidak ingin aku lupakan, yang menginspirasiku, yang menolongku, menguatkanku, dan berarti buatku.

Dan di atas segalanya, perjalananku bersama Yesusku, saat-saat aku belajar berjalan bersama-Nya, bergantung sepenuhnya kepada-Nya,menikmati pemeliharaan dan kasih-Nya yang sempurna atas hidupku.

Monday, August 31, 2015

Mengatur Keuangan Pribadi



Gara-gara baca postingan Kezia yang ini , jadi tertarik deh ngomongin duit. Sejak menjadi PNS saya mulai tertarik dengan yang namanya pengelolaan keuangan. Bukannnn… bukan karena saya mata duitan, hahahaha (meskipun gak pula nolak kalau ada yang mau ngasih duit. LOL-kidding). Bukan pula karena saya memiliki apa yang dinamakan orang-orang kecerdasan finansial, sama sekali tidak. Justru karena saya merasa tidak pandai mengatur uang, saya belajar mengelola keuangan saya. Bo, bisa stress beneran deh kalau saya tidak belajar mengelola keuangan. Bayangkan, saat saya menjadi CPNS (tahun 2010), gaji hanya 1,3 juta. Itu gaji dipotong 500 ribu per bulan (selama 35 bulan) untuk membayar kredit motor, wuih…saya merasa menjadi orang termiskin di dunia*sedih* Kenapa juga beli kredit Meg? Ya iya laaaa…Mau beli cash gak ada duitnya, hehehehe. Mau gak beli motor, tapi itu dah jadi kebutuhan untuk transportasi (tidak ada angkutan umum dari rumah ke kantor). See? Kalau saya tidak belajar mengelola keuangan, apa jadinya saya? I know Tuhan memelihara saya, tapi saya juga bertanggung jawab mengelola apa yang dipercayakan pada saya (kali ini saya ngomongin DUIT).

Friday, August 28, 2015

Peliharaan Mamahku

Mamahku memelihara semut Jepang yang katanya bisa dimakan untuk obat,di sebuah toples diletakkannya 4 ekor semut,kapas dan ragi (makanan untuk semut tersebut),setelah beberapa minggu semut jepang tersebut bertambah banyak dengan bonus beberapa ekor belatung.Dita sepupuku heran melihat toples tersebut.

Dita : Mbak,apa itu?
Ruri : Semut Jepang Dit,peliharaan bude,buat obat.
Dita : Ih,belatungnya kok banyak?
Ruri : Ga tau Dit.
Dita : Oo...mungkin karena ada raginya mbak,ada lalat bertelur di situ.
Dita : Yang dimakan apanya mbak?
Ruri : Raginya Dit,semutnya makan ragi.
Dita : Bukan mbak,yang dimakan bude apanya?
Aku : Belatungnya Dit,huahahahaha.

Tuesday, August 25, 2015

Pencobaan

Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: “Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab
Allah tidak dapat dicobai olehyang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun. Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudahmatang, ia melahirkan maut. Yakobus 1:13-15

Banyak orang berkata bahwa pencobaan dan ujian adalah hal yang berbeda.Pencobaan dikatakan bukanlah dari Tuhan dan memiliki tujuan yang berbeda dengan dengan ujian. Sebuah ilustrasi menggambarkan pencobaan sebagai sebuah burung yang hinggap di kepala kita,kemudian keputusan kitalah yang akan menentukan apakah si burung akan membuat sarang di kepala kita atau tidak.
Hari ini aku belajar, bahwa saat kita dicobai (oleh iblis atau keinginan kita sendiri),kita memiliki kesempatan memutuskan melakukan hal yang benar sama besarnya dengan kesempatan memutuskan hal yang salah.Kita berkuasa menentukan pilihan kita. Apakah kita akan membiarkan burung itu membuat sarang di kepala kita atau tidak?

Monday, August 24, 2015

Saat Kecewa Kepada Dia yang Dianggap Panutan



“Kamu kenapa dek?”, tanya abangku.
“Sedih bang.”
“Kenapa?”
“Nih.” Kutunjukkan sebuah berita online yang baru saja kubaca. Isinya tentang perselingkuhan seorang pencipta lagu FS dan artis FF.
“Mereka masih manusia dek.”
Iya pulak sih, selagi kita manusia, kita masih bisa berbuat salah. Masih bisa berdosa. Kata Lassma, gak ada manusia yang kebal terhadap dosa, indeed. Tapi aku harus mengakui, jauh di lubuk hatiku, aku kecewa. Aku tidak menyangka seseorang yang selama ini dipakai Tuhan dengan luar biasa bisa berbuat demikian.

Semua manusia bisa berbuat dosa. Beda jenis dosanya aja kali. Mereka mungkin jatuh dalam dosa A, tapi aku juga bisa jatuh dalam dosa B. Berdoa dan berjaga-jaga saja lah…Ga ada manusia yg sempurna. Kita sama-sama gak sempurna,sama-sama berdosa, sama-sama butuh kasih karunia Tuhan supaya tetap hidup benar. Sama-sama berjuang untuk menyenangkan Tuhan.

Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah. Matius 26:41

Ayat ini yang terngiang-ngiang beberapa hari ini di telingaku.
Ayat ini bersuara nyaring di hatiku.
Ayat ini menjadi rhema bagiku.

Kembali diingatkan banyak hal:
Betapa lemahnya aku, dia, mereka dan manusia yang lain.
Aku perlu belajar untuk menjauhkan diriku dari pencobaan, jangan mendekati area yang aku tahu berbahaya.
Bukan setan atau iblis yang mencobaiku, tapi aku dicobai oleh keinginanku sendiri.
Aku perlu lebih banyak berdoa dan berjaga-jaga, jangan menganggap diriku kuat. Tuhan Yesus yang kuat, aku lemah, dan aku perlu belajar bergantung padaNya.
Aku tidak boleh tinggal tetap dalam dosa.
Satu keputusan yang salah ternyata berdampak bagi banyak orang.
Hidup bukan tentang hanya tentang bahagia atau tidak, hidup adalah kesempatan memuliakan Tuhan.
Tuhan Yesus sungguh-sungguh mengasihi semua orang.
Tuhan Yesus mengampuni mereka yang sadar akan dosanya dan berbalik kepadaNya.
Tuhan Yesus bisa memakai semua orang, Dia memakai orang-orang yang gagal, hancur dan hina.

Lagi, aku kembali diingatkan untuk tidak membuat Tuhan Yesusku bersedih.

Kasongan, 24 Agustus 2015
-Mega Menulis-

Monday, August 10, 2015

Sudah Berapa Bulan Meg?



“Sudah berapa bulan Meg?”, tanya seorang kenalanku sambil melirik ke peyutku yang mungil ini.
Jiahhh….Aku Cuma bisa tertawa mesem dan berkata,”Belum kok, doakanlah yaaa…”
Ditanya,”Sudah isi belum?” atau “Sudah hamil belum?” ternyata tidak lebih menyakitkan daripada dikira hamil padahal belum hamil, huhuhuhuhu.
Yang artinye, AKU TAMBAH GEMUK DUNKKKK T_T
“Tuh kan dek, apa abang bilang?” abangku berkomentar demikian sambil tertawa mendengar perkataan kenalanku itu.
BAYANGKAN!!!
Abangku cuma bereaksi gitu *sigh*.
Eike kan habis merit hepi yeeee…kalo aku tau-tau kurus kering kan pemirsa jadi bertanya-tanya, ini meritnya jangan-jangan menderita nih ato disiksa suami neh makanya jadi kurus kering. Jadi, ngeliat bodiku sekarang bisa dipastikan daku bahagia lahir batin. LOL.

Eniwei,yang konyol lagi, seorang kenalanku yang lain (lagi-lagi) bertanya,”Sudah isi belum?”
Kujawablah kalau belum, sekalian tanya apa resepnya, secara anaknya dah beberapa orang gitu.
Dengan santainya dia bilang gini,”Kalau aku sih resepnya, dibawa santai aja, jangan kepikiran, ntar malah jadi stress.”
Dengan (pura-pura) polos (padahal nyindir) aku bilang gini,”Sbenare yang bikin kepikiran sih kalau ada yang tanya-tanya. Kalo ngga ma gak terlalu mikir”.
INI ASLI NYINDIR-maksudnye, daku jadi kepikiran gara-gara dia nanya gitu :p Ngarepnya dia minta maaf ato ngerasa gak enak.
Eh pemirsa, dia malah bilang gini,”Kalau saya gitu lo…jarang ketemu tapi menghasilkan”.
E  BUSEEETTTTTT… Hahahahahaha *tepokjidat* Gak jadi kesel banget, malah ngakak.

Pelajaran hari ini : Ternyata di dunia ini ada aja orang yang super tidak sensitif, sementara di sisi lain over sensitif, ada pula yang kadar sensitifnya ps-pasan. Mau pilih jadi yang mana, tergantung kita. Be happy aja. Bersukacitalah senantiasa Meg. Sekali lagi kukatakan bersukacitalah! \(“,)/

Kasongan, 10 Agustus 2015
-Mega Menulis-

Apakah Panggilan Saya?



“Apakah panggilan saya sehingga melaluinya Tuhan paling dimuliakan?”
Pertanyaan tersebut ditanyakan Kak Johan bagi kami dalam salah satu sesi Kelas Berbuah di Kaliurang bertahun-tahun yang lalu. Dalam segala sesuatu yang kita kerjakan, kita dapat memuliakan Tuhan saat kita mengerjakannya karena Dia dan untuk Dia. Kita dapat memuliakanNya saat kita beribadah di gereja, namun kita juga dapat memuliakanNya saat kita memilih mengikuti sebuah acara bersama teman-teman kuliah kita. Pertanyaannya bukan lagi apa yang harus saya kerjakan untuk memuliakan Tuhan tapi di antara pilihan-pilihan ini, yang manakah yang paling memuliakan Tuhan?

Contoh:
Saat dihadapkan pada dua pilihan, bekerja di kantor pemerintah dan melayani sebuah suku terabaikan di pedalaman, mungkin kita bertanya-tanya, manakah yang Tuhan ingin saya kerjakan?
Manakah yang memuliakan Tuhan?
“Tentu saja dong, melayani suku terabaikan”, demikian jawab seseorang. Bagi sebagian besar orang, melayani sebagai misionaris akan memuliakan Tuhan, berbeda dengan pekerjaan kantoran yang sarat pergumulan biasa. Benarkah demikian?
A BIG NO
Setiap pekerjaan dapat memberikan kita kesempatan untuk memuliakan Tuhan.
Seandainya anak-anak TUHAN hanya bekerja di bidang-bidang yang ‘rohani’ saja, lalu siapa yang akan menjangkau mereka yang belum mengenal TUHAN di pemerintahan, atau mereka yang belum mengenal Tuhan di dunia perbankan, atau di dunia pendidikan. TUHAN rindu setiap anakNya memuliakan Dia di setiap tempat yang Dia taruh. Bagi kita yang terpanggil bekerja di kantoran biasa, jangan pernah berpikir kalau pekerjaanmu adalah pekerjaan biasa, pekerjaanmu adalah sarana bagi TUHAN dimuliakan. Siapa bilang menjadi guru TK tidak memuliakan Tuhan? Siapa bilang menjadi ibu rumah tangga tidak memuliakan TUHAN. Segala pekerjaan bisa jadi sarana memuliakan Dia. Tergantung pada sikap hati kita.


Sebuah film lawas berjudul Saving Private Ryan, memberikan gambaran yang mengena sekali. Singkat cerita, ada sebuah tim yang memiliki misi khusus menyelamatkan seorang tentara muda bernama Ryan yang sedang berperang. Saudara-saudara Ryan diketahui telah gugur di medan perang, sehingga orang tuanya sedih sekali sehingga memohon agar anak satu-satunya yang tersisa dipulangkan. Jika sempat tontonlah film ini, bagus banget d^^b. Ryan membawa anak cucunya ke makam penyelamatnya dan berkata (kurang lebih seperti ini), “Kau lihat, aku tidak menyia-nyiakan hidup yang telah kau berikan.” Ryan berhasil diselamatkan namun tim yang bertugas membawanya pulang gugur di medan perang.


Mengapa kita harus mempermuliakan Tuhan?

Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka. 2 Korintus 5:15

Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu! 1 Korintus 6:20


Demikianlah Kristus juga telah telah mati bagi kita, tapi tidak selesai sampai di situ. Dia mati supaya kita hidup untuk diriNya. Hidup kita adalah bagiNya. Hidup kita adalah bagi kemuliaanNya.

Diselamatkan DARI sangat berbeda dengan diselamatkan UNTUK. Keselamatan bukan hanya agar kita terhindar DARI hukuman kekal, melainkan agar kita hidup UNTUK memancarkan kemuliaan-Nya. (Cat & Dog Theology-Bob Sjogren dan Gerald Robinson)

Bagaimana kita mempermuliakan Tuhan?
Yesus berkata demikian:
Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya.Yohanes 17:4
Ia mempermuliakan BAPANya dengan menyelesaikan pekerjaan yang diberikan padaNya.
Kita tahu, Yesus melakukan berbagai mukzizat, kita dapat berkata dengan yakin bahwa seluruh hidupnya memancarkan kemuliaan Allah. Yesus menyembuhkan orang sakit, Ia mengajar banyak orang, Ia membangkitkan orang mati, Ia mengubah air menjadi anggur, Ia mati di kayu salib menebus dosa kita, de el el, de es be. Tapi sesungguhnya, pekerjaan apa sih yang diberikan padaNya? Cekidot!

Suatu kali, pagi-pagi sekali, murid-murid mencari Yesus dan menyampaikan bahwa betapa banyak orang mencari Yesus (Markus 1:35-39), tapi apa yang terjadi? Simak ini!
 waktu menemukan Dia mereka berkata: "Semua orang mencari Engkau." Jawab-Nya: "Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang." Markus 1:37-38
Yesus tahu untuk apa Dia ada di dunia ini.
Dia tahu apa yang menjadi panggilanNya.
Bagaimana dengan kita, bagaimana kita mengetahui panggilan kita masing-masing?
Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya. Efesus 2:10

Satu-satunya cara mengetahui panggilan kita adalah dengan bertanya kepada pencipta kita. Sebagaimana suatu benda diciptakan dengan tujuan tertentu, demikian juga kita. TUHAN menciptakan kita untuk tujuan tertentu. Sebuah pisau dapur (mungkin) dapat saja menebang sebuah pohon, tentunya dengan usaha keras bertahun-tahun, tapi apakah efektif menggunakan pisau dapur untuk menebang sebuah pohon? Kita tahu jawabannya tidak. Demikian pula, sebuah gergaji dapat digunakan memotong sayuran dan daging (dengan susah payah), tapi apakah efektif? Rancangan Allah bagi setiap masing-masing kita sangat unik, panggilanNya bagi kita sudah disesuaikan dengan karuniaNya bagi masing-masing kita, kemampuan dan bakat yang diberikanNya, hobi kita, kesukaan kita. HE KNOWS US SO WELL. Dia mengenal kita lebih dari kita mengenali diri kita sendiri. Jangan ragu untuk bertanya padaNya dan menggumuli panggilan pribadi kita. Setiap kita memang dipanggil dari semula untuk menjadi serupa dengan Kristus dan memuliakan ALLAH kita dengan cara yang paling memuliakanNya. Hanya saat kita hidup sesuai dengan tujuan-Nya maka kita memenuhi rancanganNya secara maksimal. Mengerjakan hal lain yang bukan diperuntukkan bagi kita tidak mendatangkan kemuliaan maksimal bagi Tuhan.

Kita kehilangan hak untuk menentukan visi kita sendiri. Pada saat yang sama kita juga tidak berhak untuk hidup tanpa visi. Pikirkan ini: Jika Allah memiliki visi mengenai apa yang harus Anda lakukan dengan jatah tahun-tahun Anda, Anda sebaiknya masuk di dalamnya. Alangkah tragisnya jika kita melewatkan hal itu.(Visioneering-Andy Stanley)

Jika kita dihadapkan pada pilihan yang ada, bertanyalah pada TUHAN, “Dimanakah Dia paling dimuliakan?”


Kasongan, 10 Agustus 2015
-Mega Menulis-

Thursday, August 6, 2015

Jangan Sok Pintar!!!



Aku ngga tahu apakah semua calon pengantin mengalami ini, yang jelas menjelang hari pernikahan kami, perbedaan pendapat dengan si abang (yeah... calon suamiku orang Batak ^^) semakin sering terjadi. Sebelumnya ngga sesering ini. Kami jarang banget bertengkar. Sekarang entah kenapa, saat abangku mengatakan hal yang berbeda dengan pendapatku, segera saja aku merengut, nada suaraku meninggi, atau dalam skenario lain aku ngambek. Diam. Kalau sudah begini, abangku akan berusaha menenangkanku, menjelaskan segala sesuatunya dengan sabar lalu mendiamkanku, dia nampaknya mengerti kalau aku berlaku seperti itu maka aku aku perlu waktu untuk mencerna segala sesuatunya. Setelah aku menenagkan diri, biasanya aku akan minta maaf atas segala kekasaranku, lalu kami akan membicarakan segala sesuatunya baik-baik.
Kupikir semua masalah selesai.
Sampai suatu kali abangku berkata,”Kamu tu dek, kelihatannya aja nggih... nggih…(bahasa Jawa, nggih: iya) padahal sebenarnya keras kepala.”
WHAT???!!
Reaksi pertamaku adalah gak terima mendengarnya berkata seperti itu. Siapa sih yang senang disebut KERAS KEPALA?  
Ayat ini terngiang-ngiang di kepalaku:
Tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah. 1 Petrus 3:4
Selama ini aku merasa lemah lembut kayak di ayat itu kok (tsahhhhh… ^^V), lemah lembut ngga cuma bicara tentang cara berkata-kata kan? Aku merasa sudah melewati pelajaran itu. Aku ngga merasa keras kepala kok. Aku masih bisa diajar. Aku masih bisa dibentuk.  

Iya sihhhh, kalau ada yang ngga sesuai dengan pendapat dan keinginanku, aku merasa ngga terima awalnya. Tapi toh aku selalu mau berubah kok. Mosok gitu masih dibilang keras kepala sih?
Iya sihhh, emosiku terkadang meledak-ledak, bahkan tangisan bisa jadi caraku meluapkan perasaan jika merasakan amarah, kesedihan, ato kejengkelan. Tapi aku mau kok berubah. Lagipula bukan salahku, orang-orang aja yang terlalu ngeselin.
Setelah awalnya gak terima dengan sebutan ‘keras kepala’ dari abangku, yang aku rasakan kemudian adalah kesedihan. Bayangkan, calon suamiku, orang yang akan menjadi pasangan hidupku memandangku demikian selama ini. Sedih.
Aku bertanya sama Tuhan, apa iya aku keras kepala, toh selama ini aku kan mau diajar ya?
Dan Tuhan ingatkan aku akan banyak hal, ternyata….
Saat aku dikritik atau ditegur, aku diam, atau ngambek. Hatiku ngga terima.  Aku menolak dikoreksi saat aku ngga merasa seperti itu kok. Padahal kan harusnya aku tanya sama diri sendiri, benar ngga sih. Kalo benar ya terima saja, terus berubah. Kalau memang kritik itu salah, ya terimalah dengan respon yang benar. Jangan jadi defensif dan langsung bilang, ”Aku kan gak kayak gituuuu…!!!”
Ngga jarang saat seseorang yang menegurku, aku berekasi seperti ini dalam hati, ”Ah, kamu aja selama ini ngapain, kayak yang dah bener aja, kelakuanmu kan lebih parah dari aku”. Ternyata aku menganggap diriku lebih baik dari orang lain sehingga ngga mau diajar oleh orang lain. Tanpa sadar, aku merendahkan mereka yang menegurku atau berbeda denganku.
Kelihatannya aja diam dan terima, padahaalllll….
Nampaknya benar, aku keras kepala T_T Kalau sesuatu gak sesuai keinginanku, keluar deh keras kepalanya.

Lalu aku teringat lagi ayat lain:
Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan; Amsal 3:7

Ayat di atas menamparku sangat keras, kebenaran tersebut menyadarkanku kalau selama ini rupanya aku menganggap diri pintar dan paling benar, ujung-ujungnya jadi keras kepala, ngga mau menerima pendapat orang lain dan  susah dikritik. Saat menganggap diri sendiri paling benar, ego akan selalu bermain, dan aku jadi sulit diajar. Menerima pendapat yang berbeda saja sulit, apalagi kritik #sigh.

Ngga mudah ternyata bagiku menerima teguran dari orang lain.  Baru sadar deh, terkadang aku menjadi marah, tersinggung atau merasa direndahkan waktu orang lain menegur . Padahal  Tuhan mau aku menjadi wanita yang memiliki roh lemah lembut dan tenteram. Ia ingin aku menjadi wanita yang bisa diajar, wanita yang mau diajar, wanita yang mau mendengarkan nasihat, yang mau mendengarkan teguran, yang mau mendengarkan ajaran orang tua, wanita yang mencintai didikan, dan taat sama Tuhan.

Saat aku merenungkan kesalahanku, aku berdoa dan bertanya pada Tuhan, bener gak sih aku seperti yang dikatakan abangku. Dan Tuhan mengingatkan aku pada firmanNya. Dia banyak mengoreksiku melalui firmanNya. Dia membuatku membandingkan diri dengan firmanNya dan ya, aku memang sok pintar, aku menganggap diri lebih pandai dati orang lain, sehingga susah ditegur. Aku gak gampang menerima teguran.

Setelah itu, kusadari hal ini, bagian terpenting jika kita ingin diubahkan adalah kita harus memiliki Kristus dalam hidup kita dan mengenakanNya. Kalo ngga ma percuma, kita akan terus bersandar pada pengertian kita sendiri.

Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya. Roma 13:14

Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, Efesus 6:11, 14
Tuhan Yesus mengatakan, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup” Yoh 14 :6

Kebenaran itu adalah Kristus. Berikatpinggangkan kebenaran berarti mengenakan Kristus. Mengenakan Kristus berarti dengan sadar menyertakanNya dalam setiap peperangan kita, dalam setiap pergumulan kita, dalam setiap hal kecil di kehidupan kita. Mengenakan Kristus berarti secara sadar mempercayai Dia, menaati Dia,bergantung padaNya dan melekat padaNya, satu-satunya kebenaran yang harus kita pegang. FirmanNya bekerja leluasa mengubahkan kita jika kita memilih mempercayai dan menaati Dia.

Tanpa mempercayai Kristus, membaca Alkitab akan membosankan karena banyak hal yang tidak kita mengerti. Tanpa Kristus, aku mungkin menghapalkan firmanNya dan esok bisa saja melupakannya, karena tidak ada yang mengingatkanku. Tanpa Kristus, melakukan firmanNya akan terasa berat, karena memang kita tak akan dapat melakukannya tanpa Dia. Menuliskan bagian ini membuatku menangis, menyadari sungguh hanya karena Kristus di dalamku maka aku bersedia dan mau diubahkan. Semua pekerjaan tanganNya semata.

Jika kita ingin mengubah diri kita, tidak bisa tidak, pertama-tama kita harus terlebih dulu datang pada Kristus, membiarkan Ia hidup dalam kita dan kita hidup di dalam Dia.  
Kedua, menyimpan firmanNya (membaca, menghapalkan firmanNya dan merenungkan firmanNya sebanyak mungkin) akan menolong kita karena jika ada yang tidak benar dalam hidup kita, Tuhan akan mengingatkan firmanNya dan mengoreksi hidup kita melalui firmanNya.

Menyadari kebenaran ini, aku tobattttt…. Aku benar-benar berusaha ngga sok pintar lagi. Aku berusaha berhenti menganggap diriku benar, atau berpikir pendapatku paling tepat. Aku berusaha ngga sombong.

AKU MENGHAPAL AYAT yang diingatkan Tuhan tentang betapa sok pintarnya aku. Dan setiap aku tergoda untuk memperdebatkan pendapatku, atau saat aku ditegur, aku memperkatakan kebenaran firman Tuhan tersebut berulang-ulang:
Jangan menganggap dirimu sendiri bijak! Jangan sok pintar! Takut sama Tuhan dan jangan berbuat jahat!

Memperkatakan hal tersebut mencambuk egoku. Menyadarkanku bahwa sesungguhnya aku ngga sepandai yang kukira. Aku diingatkan, bisa saja Tuhan menegurku melalui orang lain, siapapun, bahkan orang yang kuanggap ngga tahu apa-apa, atau bisanya ngomong doang. Dia bisa pakai semua orang.

Sejak saat itu, aku merasakan Tuhan banyak sekali menempatkanku dalam posisi dimana kuperlu belajar lagi bagaimana bersikap, membiasakan diri mengambil respon yang benar saat bersilangan pendapat dengan orang lain. Aku berlatih membungkam mulutku dan berhenti berdebat yang ngga perlu. Aku belajar bahwa terkadang aku ngga perlu bersikeras menunjukkan aku benar untuk hal yang gak prinsip. Aku berlatih untuk mengalah.
Aku belajar menghargai pendapat orang lain. Aku belajar menaruh hormat pada orang lain.
Aku belajar ngga membela diri ketika merasa di serang, yakni, waktu ditegur, atau waktu dinasehati dengan  nasihat yang berlawanan dengan apa yang ada di pikiranku.

SUSAH BANGETTTTT…. T_T Dan aku masih sering gagal…

Baru saja, beberapa waktu yang lalu aku gagal, aku sempat berdebat dengan mamahku mengenai undangan pernikahanku. Sepele alasannya. Dan setelahnya aku menyesal. Menyesal karena tidak berbicara baik-baik dengan mamah (nada suara kami sama-sama meninggi), menyesal karena aku meributkan hal yang sepele, menyesal karena aku kok ngga bisa langsung mengalah mengikuti keinginan mamah, menyesal karena sadar ternyata aku masih keras kepala dan maunya dituruti. Aku merasa sangat bersalah. Setelah menyadari kesalahanku, aku memutuskan untuk mengalah, nggabersikeras untuk sesuatu yang ngga prinsip. Aku mau menuruti pendapat mamahku. Setelahnya aku lega. Beneran deh ^^V

Sampai detik ini, aku masih belajar bersikap rendah hati, supaya gak sok pintar dan gak menganggap diri paling benar lagi, supaya gak keras kepala lagi. Puji Tuhan, karena Tuhan masih bersabar dan gak pernah menyerah mengingatkanku. Dia sungguh baik \(“,)/

PS. Abangku bilang aku udah mendingan lo sekarang ^^V Well, respon awal masih agak gak enak sih katanya. Tapi dah berkurang tuh ngototannya :p

Ditulis untuk Majalah Pearl Edisi 26 

blog comments powered by Disqus

FoLLoWeRs