.....apa saja yang terpikirkan,yang jadi perhatianku, kehidupanku, pengalaman(ku dan orang lain), apa yang kusukai, apa yang tidak kusuka,apa yang ingin kubagikan, apa yang menyentuhku,apa yang tidak ingin aku lupakan, yang menginspirasiku, yang menolongku, menguatkanku, dan berarti buatku.

Dan di atas segalanya, perjalananku bersama Yesusku, saat-saat aku belajar berjalan bersama-Nya, bergantung sepenuhnya kepada-Nya,menikmati pemeliharaan dan kasih-Nya yang sempurna atas hidupku.

Thursday, August 6, 2015

Jangan Sok Pintar!!!



Aku ngga tahu apakah semua calon pengantin mengalami ini, yang jelas menjelang hari pernikahan kami, perbedaan pendapat dengan si abang (yeah... calon suamiku orang Batak ^^) semakin sering terjadi. Sebelumnya ngga sesering ini. Kami jarang banget bertengkar. Sekarang entah kenapa, saat abangku mengatakan hal yang berbeda dengan pendapatku, segera saja aku merengut, nada suaraku meninggi, atau dalam skenario lain aku ngambek. Diam. Kalau sudah begini, abangku akan berusaha menenangkanku, menjelaskan segala sesuatunya dengan sabar lalu mendiamkanku, dia nampaknya mengerti kalau aku berlaku seperti itu maka aku aku perlu waktu untuk mencerna segala sesuatunya. Setelah aku menenagkan diri, biasanya aku akan minta maaf atas segala kekasaranku, lalu kami akan membicarakan segala sesuatunya baik-baik.
Kupikir semua masalah selesai.
Sampai suatu kali abangku berkata,”Kamu tu dek, kelihatannya aja nggih... nggih…(bahasa Jawa, nggih: iya) padahal sebenarnya keras kepala.”
WHAT???!!
Reaksi pertamaku adalah gak terima mendengarnya berkata seperti itu. Siapa sih yang senang disebut KERAS KEPALA?  
Ayat ini terngiang-ngiang di kepalaku:
Tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah. 1 Petrus 3:4
Selama ini aku merasa lemah lembut kayak di ayat itu kok (tsahhhhh… ^^V), lemah lembut ngga cuma bicara tentang cara berkata-kata kan? Aku merasa sudah melewati pelajaran itu. Aku ngga merasa keras kepala kok. Aku masih bisa diajar. Aku masih bisa dibentuk.  

Iya sihhhh, kalau ada yang ngga sesuai dengan pendapat dan keinginanku, aku merasa ngga terima awalnya. Tapi toh aku selalu mau berubah kok. Mosok gitu masih dibilang keras kepala sih?
Iya sihhh, emosiku terkadang meledak-ledak, bahkan tangisan bisa jadi caraku meluapkan perasaan jika merasakan amarah, kesedihan, ato kejengkelan. Tapi aku mau kok berubah. Lagipula bukan salahku, orang-orang aja yang terlalu ngeselin.
Setelah awalnya gak terima dengan sebutan ‘keras kepala’ dari abangku, yang aku rasakan kemudian adalah kesedihan. Bayangkan, calon suamiku, orang yang akan menjadi pasangan hidupku memandangku demikian selama ini. Sedih.
Aku bertanya sama Tuhan, apa iya aku keras kepala, toh selama ini aku kan mau diajar ya?
Dan Tuhan ingatkan aku akan banyak hal, ternyata….
Saat aku dikritik atau ditegur, aku diam, atau ngambek. Hatiku ngga terima.  Aku menolak dikoreksi saat aku ngga merasa seperti itu kok. Padahal kan harusnya aku tanya sama diri sendiri, benar ngga sih. Kalo benar ya terima saja, terus berubah. Kalau memang kritik itu salah, ya terimalah dengan respon yang benar. Jangan jadi defensif dan langsung bilang, ”Aku kan gak kayak gituuuu…!!!”
Ngga jarang saat seseorang yang menegurku, aku berekasi seperti ini dalam hati, ”Ah, kamu aja selama ini ngapain, kayak yang dah bener aja, kelakuanmu kan lebih parah dari aku”. Ternyata aku menganggap diriku lebih baik dari orang lain sehingga ngga mau diajar oleh orang lain. Tanpa sadar, aku merendahkan mereka yang menegurku atau berbeda denganku.
Kelihatannya aja diam dan terima, padahaalllll….
Nampaknya benar, aku keras kepala T_T Kalau sesuatu gak sesuai keinginanku, keluar deh keras kepalanya.

Lalu aku teringat lagi ayat lain:
Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan; Amsal 3:7

Ayat di atas menamparku sangat keras, kebenaran tersebut menyadarkanku kalau selama ini rupanya aku menganggap diri pintar dan paling benar, ujung-ujungnya jadi keras kepala, ngga mau menerima pendapat orang lain dan  susah dikritik. Saat menganggap diri sendiri paling benar, ego akan selalu bermain, dan aku jadi sulit diajar. Menerima pendapat yang berbeda saja sulit, apalagi kritik #sigh.

Ngga mudah ternyata bagiku menerima teguran dari orang lain.  Baru sadar deh, terkadang aku menjadi marah, tersinggung atau merasa direndahkan waktu orang lain menegur . Padahal  Tuhan mau aku menjadi wanita yang memiliki roh lemah lembut dan tenteram. Ia ingin aku menjadi wanita yang bisa diajar, wanita yang mau diajar, wanita yang mau mendengarkan nasihat, yang mau mendengarkan teguran, yang mau mendengarkan ajaran orang tua, wanita yang mencintai didikan, dan taat sama Tuhan.

Saat aku merenungkan kesalahanku, aku berdoa dan bertanya pada Tuhan, bener gak sih aku seperti yang dikatakan abangku. Dan Tuhan mengingatkan aku pada firmanNya. Dia banyak mengoreksiku melalui firmanNya. Dia membuatku membandingkan diri dengan firmanNya dan ya, aku memang sok pintar, aku menganggap diri lebih pandai dati orang lain, sehingga susah ditegur. Aku gak gampang menerima teguran.

Setelah itu, kusadari hal ini, bagian terpenting jika kita ingin diubahkan adalah kita harus memiliki Kristus dalam hidup kita dan mengenakanNya. Kalo ngga ma percuma, kita akan terus bersandar pada pengertian kita sendiri.

Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya. Roma 13:14

Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, Efesus 6:11, 14
Tuhan Yesus mengatakan, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup” Yoh 14 :6

Kebenaran itu adalah Kristus. Berikatpinggangkan kebenaran berarti mengenakan Kristus. Mengenakan Kristus berarti dengan sadar menyertakanNya dalam setiap peperangan kita, dalam setiap pergumulan kita, dalam setiap hal kecil di kehidupan kita. Mengenakan Kristus berarti secara sadar mempercayai Dia, menaati Dia,bergantung padaNya dan melekat padaNya, satu-satunya kebenaran yang harus kita pegang. FirmanNya bekerja leluasa mengubahkan kita jika kita memilih mempercayai dan menaati Dia.

Tanpa mempercayai Kristus, membaca Alkitab akan membosankan karena banyak hal yang tidak kita mengerti. Tanpa Kristus, aku mungkin menghapalkan firmanNya dan esok bisa saja melupakannya, karena tidak ada yang mengingatkanku. Tanpa Kristus, melakukan firmanNya akan terasa berat, karena memang kita tak akan dapat melakukannya tanpa Dia. Menuliskan bagian ini membuatku menangis, menyadari sungguh hanya karena Kristus di dalamku maka aku bersedia dan mau diubahkan. Semua pekerjaan tanganNya semata.

Jika kita ingin mengubah diri kita, tidak bisa tidak, pertama-tama kita harus terlebih dulu datang pada Kristus, membiarkan Ia hidup dalam kita dan kita hidup di dalam Dia.  
Kedua, menyimpan firmanNya (membaca, menghapalkan firmanNya dan merenungkan firmanNya sebanyak mungkin) akan menolong kita karena jika ada yang tidak benar dalam hidup kita, Tuhan akan mengingatkan firmanNya dan mengoreksi hidup kita melalui firmanNya.

Menyadari kebenaran ini, aku tobattttt…. Aku benar-benar berusaha ngga sok pintar lagi. Aku berusaha berhenti menganggap diriku benar, atau berpikir pendapatku paling tepat. Aku berusaha ngga sombong.

AKU MENGHAPAL AYAT yang diingatkan Tuhan tentang betapa sok pintarnya aku. Dan setiap aku tergoda untuk memperdebatkan pendapatku, atau saat aku ditegur, aku memperkatakan kebenaran firman Tuhan tersebut berulang-ulang:
Jangan menganggap dirimu sendiri bijak! Jangan sok pintar! Takut sama Tuhan dan jangan berbuat jahat!

Memperkatakan hal tersebut mencambuk egoku. Menyadarkanku bahwa sesungguhnya aku ngga sepandai yang kukira. Aku diingatkan, bisa saja Tuhan menegurku melalui orang lain, siapapun, bahkan orang yang kuanggap ngga tahu apa-apa, atau bisanya ngomong doang. Dia bisa pakai semua orang.

Sejak saat itu, aku merasakan Tuhan banyak sekali menempatkanku dalam posisi dimana kuperlu belajar lagi bagaimana bersikap, membiasakan diri mengambil respon yang benar saat bersilangan pendapat dengan orang lain. Aku berlatih membungkam mulutku dan berhenti berdebat yang ngga perlu. Aku belajar bahwa terkadang aku ngga perlu bersikeras menunjukkan aku benar untuk hal yang gak prinsip. Aku berlatih untuk mengalah.
Aku belajar menghargai pendapat orang lain. Aku belajar menaruh hormat pada orang lain.
Aku belajar ngga membela diri ketika merasa di serang, yakni, waktu ditegur, atau waktu dinasehati dengan  nasihat yang berlawanan dengan apa yang ada di pikiranku.

SUSAH BANGETTTTT…. T_T Dan aku masih sering gagal…

Baru saja, beberapa waktu yang lalu aku gagal, aku sempat berdebat dengan mamahku mengenai undangan pernikahanku. Sepele alasannya. Dan setelahnya aku menyesal. Menyesal karena tidak berbicara baik-baik dengan mamah (nada suara kami sama-sama meninggi), menyesal karena aku meributkan hal yang sepele, menyesal karena aku kok ngga bisa langsung mengalah mengikuti keinginan mamah, menyesal karena sadar ternyata aku masih keras kepala dan maunya dituruti. Aku merasa sangat bersalah. Setelah menyadari kesalahanku, aku memutuskan untuk mengalah, nggabersikeras untuk sesuatu yang ngga prinsip. Aku mau menuruti pendapat mamahku. Setelahnya aku lega. Beneran deh ^^V

Sampai detik ini, aku masih belajar bersikap rendah hati, supaya gak sok pintar dan gak menganggap diri paling benar lagi, supaya gak keras kepala lagi. Puji Tuhan, karena Tuhan masih bersabar dan gak pernah menyerah mengingatkanku. Dia sungguh baik \(“,)/

PS. Abangku bilang aku udah mendingan lo sekarang ^^V Well, respon awal masih agak gak enak sih katanya. Tapi dah berkurang tuh ngototannya :p

Ditulis untuk Majalah Pearl Edisi 26 

No comments:

blog comments powered by Disqus

FoLLoWeRs