.....apa saja yang terpikirkan,yang jadi perhatianku, kehidupanku, pengalaman(ku dan orang lain), apa yang kusukai, apa yang tidak kusuka,apa yang ingin kubagikan, apa yang menyentuhku,apa yang tidak ingin aku lupakan, yang menginspirasiku, yang menolongku, menguatkanku, dan berarti buatku.

Dan di atas segalanya, perjalananku bersama Yesusku, saat-saat aku belajar berjalan bersama-Nya, bergantung sepenuhnya kepada-Nya,menikmati pemeliharaan dan kasih-Nya yang sempurna atas hidupku.

Tuesday, December 20, 2016

Dulu dan Sekarang

Huaaaa....Blogku berdebu!!!
#Cari sapu
#Ambil kemoceng

Sudah lama banget gak rutin tulis blog, tahu-tahu sudah mau berakhir saja tahun 2016. Resolusi untuk tulis blog tiap hari tahun depan tak berani lagi kuucapkan, secaraaaa...tahun 2016 ini saja jumlah tulisan yang aku posting gak sampai hitungan semua jari (jari tangan dan kaki kan 20 ya, ini ma gak nyampe). Alasan sih banyak. Mulai dari yang tepar selama hamil sampai yang sekarang susah menyediakan waktu buat tulis karena ngurus anak dan suami.
Saat siang gak ada kerjaan gini, aku malah mulai membandingkan masa sekarang dan masa laluku.

Dulu waktu single bisa sesukanya baca buku, nonton film, jalan-jalan, tidur. Sekarang ma, bisa tidur nyenyak semalaman saja langka banget.
Dulu, betah banget pantat nempel di kursi kantor seharian (paling-paling keluar kantor cuma buat makan siang), bahkan rela pulang kantor lembur nyelesaikan pekerjaan sampe tengah malam. Sekarang, sori saja, jam istirahat siang saja ingin pulang buat ketemu dan main dengan Sara.
Dulu sama suami kalau ingin makan nasi padang tinggal ngacir ke Rumah Makan Padang. Sekarang mendingan masak sendiri di rumah (walaupun kemampuan masak pas-pasan dan pakai tanya mbah google resepnya), yang penting di rumah sambil masak bisa main dengan Sara.
Dulu kalau belanja bulanan sama suami, gak pernah ketinggalan belanja coklat, coklat tu daftar wajib deh. Sekarang ma yang wajib susu sama popok, hahaha.
Dulu kalo belanja atau jajan ini itu gak terlalu perhitungan. Sekarang kalau mau belanja gak penting mikirnya, ini kalau beli susu jadi berapa kotak ya.LOL
Dulu malam tidur nyenyak, paling kalo gak nyenyaknya kalo gak karena aku gangguin suami (aku iseng ^^V) ya suami yang gangguin, sekarang tambah deh yang gangguin :p Puji Tuhan, Sara tidurnya kalo malam sudah kayak orang dewasa, paling banyak bangun 2x untuk minum susu.
Dulu kalo malam,dikelonin suami nonton film berdua. Sekarang ma kami berdua rebutan ngelonin anak ^^V
Dulu kalo mandi bisa berlama-lama pakai acara luluran, sekarang dongggg....mandi sebentar saja sudah was-was anak nangis, terus kadang pakai berhalusinasi lagi dengar suara tangisan anak, eh....kita sudah buru-buru selesein mandi ternyata si bocah masih tidur nyenyak.
Dulu tiap hari, sarapan dan makan malam selalu bareng suami, sekarang kalau mau makan berdua susah bareng karena tahu-tahu bisa saja Sara menangis dan ingin digendong, mau gak mau makan dipercepat dan salah satu mengalah mengurus Sara terlebih dahulu.
Dulu paling senang kalau disuruh dinas ke luar kota, maklum...kesempatan jalan-jalan bo. Sekarang galau, pengennya dinas di rumah saja #eh.
Dulu gak suka belanja online, sekarang suka ngintipin toko online ngeliat baju atau mainan bayi dan beli (akhirnya).
Dulu keluar rumah tinggal bawa badan (dan dompet plus hape) , sekarang kayak bedol desa sudah, bawa baju ganti Sara, popok, botol-botol susunya, susu, air panas, dll. Rempong banget, asli! :p
Dulu tak ada wanita lain dalam hidup suamiku selain akyu, sekarang saingan sama Sara, huahahahaha.
Dulu sedih kalo jatah buat belanja bersenang-senang (makan di luar,jajan di luar, nonton di luar-yang serba di luar lah :p) habis karena ngerasa gak kaya, sekarang ngeliat Sara bikin ngerasa jadi orang paling kaya di dunia walaupun gak punya uang.
Dulu kalo capek pengennya dipijat, sekarang pengennya ngeliat dan main sama anak, hilang sudah itu capek entah kemana.

Dan Tuhan mengingatkan aku:
Dulu ya dulu, nanti ya  nanti, sekarang ya sekarang.
Jangan sampai kita terlalu mengenang apa yang kita miliki masa lalu sampai-sampai kita tidak mensyukuri apa yang kita miliki sekarang. Jangan pula kita kuatir akan masa depan sehingga kita tidak menikmati masa sekarang.

Well, di siang hari ini aku menyempatkan diri menulis dan bilang, memang bener:
Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya. Pengkhotbah 3:1
Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir. Pengkhotbah 1:11

Setiap musim punya keindahannya sendiri.
Setiap masa ada sukacitanya masing-masing.
Asalkan kita bersama Tuhan, segala sesuatu dan masa akan jadi indah.

Kasongan, 20 Desember 2016

-Mega Menulis-

Thursday, October 20, 2016

Gara-gara Sara

Sara anakku belum lagi berusia 2 bulan,tapi kehadirannya membuatku dan abangku punya bahan untuk ditertawakan setiap harinya.

Pagi-pagi abangku memenuhi panggilan alamnya (baca:bab) sementara aku menunggui Sara,kalau-kalau dia terbangun.Melihat keadaan aman (baca:Sara tidur nyenyak),aku memutuskan ke dapur mencuci piring yang dipakai semalam.Begitu keluar dari WC abangku heran melihatku sudah di dapur dan tidak menunggu Sara.
Abang : Dimana Sara dek?
Aku : Beli lontong pecel bang.
*ngakak bareng*
Ya iya laaaa...emang bisa kemana si Sara,masih sekecil itu belum bisa ngapa-ngapain pake ditanyain dimana,ya di tempatnya semula lah.LOL

Aku,abangku dan Sara pergi ke RS karena aku dan abangku harus check up.Berhubung orang rumah sedang sibuk dan tidak ada yang bisa menjaga Sara,terpaksalah kami bawa Sara.Eh...pulang dari RS adekku Ruri bertanya seperti ini.
Ruri : Tadi Sara diajakkah ke dokternya?
Aku : Ngga cun, ditinggal di motor,dicantelin di cantelan motor.
Krik.Krik.Krik

Berhubung aku tidurnya lasak kesana kemari dan ada Sara sekarang,saat di rumah mertuaku, abangku tidak tidur sekasur bareng kami,dia menggelar peraduannya (tsaaahhh....dah lama kan gak dengar kata peraduan) sendiri di bawah ranjang (bukan di kolongnya lah yaaa..:p).
Aku : Kenapa tidur di bawah bang?
Abang : Iya lah, kasihan kalian, sesak kalo kita tidur bareng di ranjang.
Aku : Bukaaannn...maksudku tadi kok gak tidur di luar?Hahahaha.

Ini maknya si Sara agak-agak ya.Iya nih,gara-gara Sara.

Rumbai,20 Oktober 2016
-Mega Menulis-

Friday, June 3, 2016

Menguatkan Kepercayaan kepada Tuhan (Seperti Daud)

Beberapa bulan lalu, saat aku control kehamilan ke dokter kandungan, aku bertemu seorang ibu yang baru saja kehilangan bayinya karena air ketubannya terlalu sedikit. Wah… berbahaya rupanya kalau air ketuban sampai kurang. Sejak saat itu, aku berusaha minum air putih sebanyak-banyaknya supaya hal itu tidak terjadi padaku, aku takut. Ndilalah, terakhir periksa kemaren, pas di-usg dokter melihat kalau air ketubanku terlalu banyak, haiyaaaa… Sekarang jadi takut lagi gara-gara pas searching di internet ternyata akibat air ketuban yang banyak tu macam-macam #sigh.

Kalau dipikir-pikir, belum tentu semua kekuatiran atau ketakutan kita terjadi, ya kan? Seringnya kita yang terlalu berimajinasi macam-macam, lalu kuatir sendiri, takut sendiri, nangis sendiri (oke, mungkin ini aku doang :p). Itu baru berimajinasi, kebayang gak kalau kita dalam keadaan yang benar-benar terhimpit, masalah bertubi-tubi serasa tak ada jalan keluar, keadaan benar-benar  memburuk, beh…!!! Gak Cuma nangis-nangis, jangan-jangan kita sampai kehilangan harapan, atau bunuh diri (haiyaaa….).

Seorang Daud mengalami lo kesesakan yang demikian hebat hingga dia yang telah mendapatkan banyak kemenangan dalam perang MENANGIS sampai tidak kuat lagi menangis (yeah…siapa bilang laki-laki gak boleh menangis :p), sounds familiar, huh? Aku sering lo nangis sampai gak kuat lagi nangis (gitu kok bangga ya?hahaha). Melegakan mengetahui Daud sang pahlawan perang itu juga pernah melakukannya #tossyukomDaud ;) Mungkin tidak hanya Dad dan aku yang melakukannya, mungkin pembaca blog ini pernah juga melakukannya, tapi…apakah kita melakukan yang Daud lakukan kemudian? Nah, mari perhatikan ini:
1 Samuel 30:1-6“Ketika Daud serta orang-orangnya sampai ke Ziklag pada hari yang ketiga, orang Amalek telah menyerbu Tanah Negeb dan Ziklag; Ziklag telah dikalahkan oleh mereka dan dibakar habis. Perempuan-perempuan dan semua orang yang ada di sana, tua dan muda, telah ditawan mereka, dengan tidak membunuh seorangpun; mereka menggiring sekaliannya, kemudian meneruskan perjalanannya. Ketika Daud dan orang-orangnya sampai ke kota itu, tampaklah kota itu terbakar habis, dan isteri mereka serta anak mereka yang laki-laki dan perempuan telah ditawan. Lalu menangislah Daud dan rakyat yang bersama-sama dengan dia itu dengan nyaring, sampai mereka tidak kuat lagi menangis. Juga kedua isteri Daud ditawan, yakni Ahinoam, perempuan Yizreel, dan Abigail, bekas isteri Nabal, orang Karmel itu. Dan Daud sangat terjepit, karena rakyat mengatakan hendak melempari dia dengan batu. Seluruh rakyat itu telah pedih hati, masing-masing karena anaknya laki-laki dan perempuan. Tetapi Daud menguatkan kepercayaannya kepada TUHAN, Allahnya.”

Lagi sedih-sedihnya, lagi kecapean nangis (sampai gak kuat nangis lagi) eh…mau dibunuh pulak, apa gak pedih hati adek, bang?
Daud gak pedih hati doang, dia melakukan ini:
Tetapi Daud menguatkan kepercayaannya kepada TUHAN, Allahnya.

Sanggupkah kita melakukan apa yang Daud lakukan?
Saat kita kehilangan orang terkasih, apakah kita menguatkan kepercayaan kepada Allah kita?
Saat harapan kita seperti musnah, sudahkah kita menguatkan kepercayaan kita kepada Allah?
Saat hal buruk menimpa kita, sanggupkah kita menguatkan kepercayaan kita pada Allah?
Apakah semua hal buruk yang kita alami membuat kita datang kepada Tuhan seperti yang dilakukan Daud?

Daud menguatkan kepercayaanNya pada Tuhan, dia datang pada Tuhan.
Bukan untuk mengasihani diri sendiri dan bertanya,”Mengapa aku yang harus mengalami ini Tuhan?”
Bukan itu yang dilakukan Daud.
Dia bertanya kepada Tuhan, apa yang harus dilakukannya, lalu ia taat pada firman Tuhan. Tentunya hal ini tidak dapat terjadi jika ia tidak mempercayai Tuhan. Yang terjadi kemudian :
Daud melepaskan semua apa yang dirampas oleh orang Amalek itu, juga kedua istrinya dapat dilepaskan Daud. Tidak ada yang hilang pada mereka, dari hal yang kecil sampai hal yang besar, sampai anak laki-laki dan anak perempuan, dan dari jarahan sampai segala sesuatu yang telah dirampas mereka; semuanya itu dibawa Daud kembali. 1 Samuel 30:18-19

Saat kita menguatkan kepercayaan kita kepada Allah, saat kita tetap mendekat padaNya di waktu hal buruk menimpa, sesuatu terjadi, Ia berfirman dan membuat kita tetap tegak berdiri di dalam Dia. Kita jadi tahu apa yang harus diperbuat. Allah mengambil kendali dan memberikan apa yang kita perlukan. Dia tahu apa yang kita perlukan. Dia dapat memberikan kemenangan. Dia dapat memberikan pemulihan. Dia tahu kebutuhan kita. Kita akan menyaksikan bahwa sesungguhnya tidak ada yang hilang dari kita.

Pertanyaannya, maukah kita menguatkan kepercayaan kita kepadaNya?

Palangka Raya, 3 Juni 2016
-Mega Menulis-

Tuhan, apapun yang terjadi, aku mau belajar seperti Daud yang walaupun menangis tapi tetap menguatkan kepercayaanNya kepadaMu. Tolonglah aku yang tidak percaya ini Tuhan, aku mau mempercayaiMu.Amin



Thursday, May 12, 2016

Berbuat Baik Kepada Suami

Judul yang aneh bukan? Kebanyakan dari kita akan mengerutkan dahi dan berpikir, memang ada ya istri yang mau berbuat jahat pada suaminya? Bukannya semua istri ingin memberikan dan melakukan yang terbaik bagi suaminya.

Nah,sekarang perhatikan ayat berikut:

Ia berbuat baik kepada suaminya dan tidak berbuat jahat sepanjang umurnya.
Mazmur 31:12

Ayat ini mungkin akan membuat kita heran, terutama pada saat membaca bagian "sepanjang umurnya". Seorang kawan wanitaku bahkan pernah berkata, “Aku dulu nemu ayat ini rasanya gileee banget, gimana caranya berbuat baik seumur hidup gitu ya? Ga bikin yang jahat-jahat sama sekali. Sampe mikir, ‘Tuhan kenapa ayat ini Cuma buat isteri? Yang buat suami mana?’”

Kalau dipikir-pikir, bener juga sih. Aku juga bingung, ada ya wanita kayak gitu^^’ SEPANJANG UMURNYA! SEUMUR HIDUP! How can? I cannot understand.

Seumur hidup selalu berbuat baik dan tidak pernah berbuat jahat kepada suaminya. Wanita yang di Amsal 31 ini manusia atau malaikat ya? SEUMUR HIDUP! Ayat ini bisa saja membuat istri-istri merasa terintimidasi, merasa gagal menjadi seorang istri. Rasanya mustahil melakukan prinsip ini.

Berbuat baik terus-menerus kepada suami, selalu melakukan yang baik bagi dia yang kadang mengecewakan kita tentu bukan hal yang mudah. Banyak alasan untuk berlaku tidak baik pada suami. Secara sengaja atau tidak sengaja alasan ini sering kita gunakan

-       PMS
Jujur saja. hormon selalu bisa jadi kambing hitam saat kita berlaku jahat kepada suami, Misalnya, saat kita marah besar karena hal kecil atau saat kita berlaku kasar dan tidak sabar. Memang sih, hormon dapat mempengaruhi perilaku kita, tapi bukankah Allah ingin kita hidup dalam pengendalian diri?

-       Kelelahan
Kelelahan mengerjakan banyak hal di rumah atau di kantor sering membuat suami menjadi sasaran tembak. Kita perlu pelampiasan dan siapa lagi yang siap sedia menjadi korban kalau bukan suami tercinta.

-       Suami melakukan kesalahan
Yup, suami melakukan kesalahan, lalu kita membalasnya dengan berbuat jahat. Tapi bukankah sebagai manusia kita masih bisa melakukan kesalahan? Bukankah saat kita berbuat salah, kita ingin diampuni? Mengapa kita tidak belajar memberikan pengampunan sebagaimana kita ingin diampuni?

Kita bisa saja punya banyak alasan untuk berbuat tidak baik kepada suami. Sebaliknya, kita kadang merasa tidak punya alasan untuk berbuat baik. Padahal, berbuat baik sesungguhnya tidak membutuhkan alasan. Cukup karena kita tahu Allah menghendaki kita melakukan itu.

Stephen Kendrick dan Alex Kendrick dalam bukunya The Love Dare menuliskan demikian: Kemurahan atau kebaikan adalah cinta yang bertindak. Jika kesabaran adalah bagaimana cinta untuk meminimumkan keadaan yang negatif, kebaikan adalah bagaimana cinta bertindak untuk memaksimumkan keadaan yang positif. Kesabaran menghindari masalah; kebaikan menciptakan berkat. Yang satu mencegah, yang lain proaktif.

Bagaimana berbuat baik khususnya kepada suami?

1.    Kelembutan

Tidak ada yang senang dengan orang yang kasar. Bukankah kita pun demikian? Maka berhati-hatilah memperlakukan suami kita. Kita harus peka dengan apa yang dapat menyakiti hatinya. Ingat, jika hidup dan mati kita dikuasai lidah maka tentunya perkataan kita dapat mematikan dan membangkitkan semangat suami. Ucapkan perkataan yang tepat di waktu yang tepat dengan cara yang tepat, bahkan teguran pun dapat terdengar manis di telinga suami jika kita menegur dengan kelembutan.

Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya adalah seperti buah apel emas di pinggan perak. Amsal 25:11

Sangat mudah bagi kita mengkritik suami di hadapan orang lain. Sekalipun suami salah, belajarlah menahan diri, tegurlah suami empat mata, hindari mengkritiknya di hadapan orang lain. Bagaimanapun, ia adalah partner kita, jangan mengambil posisi berlawanan dengannya. Selalu berpikir sebelum berbicara. Jangan bersikap kasar lalu meyesalinya belakangan. Bahkan bila kita perlu mengatakan hal-hal yang keras, kita berusaha sebisa mungkin supaya apa yang kita sampaikan terdengar halus di telinganya. Kita sungguh-sungguh peduli pada perasaan suami.

2.Berinisiatif membantu

Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus. Galatia 6:2

Saat kita bermurah hati sedia menolong suami, kita akan mendapati jika ini melelahkan pada awalnya. Bayangkan,kita berespon pada setiap kebutuhan dan keperluannya di saat sebenarnya kita tak ingin, kita memilih melayaninya saat kita lebih butuh dilayani, saat kita lelah alih-alih beristirahat namun kita menyempatkan diri membuat kopi kesukaannya. Tapi,itulah kemurahan hati dan kebaikan. Kita belajar fokus pada kebutuhan suami dibanding kebutuhan kita sendiri. Kebaikan hati membuat kita mengambil langkah tanpa diminta. Lebih dahulu. Sebagai suami maupun istri, kita perlu belajar mendahulukan kepentingan maupun keinginan pasangan hingga ini menjadi gaya hidup kita.

2.    Kerelaan

dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri. Filipi 2:3

Sejujurnya,ini pergumulan bagiku pribadi.Aku tahu kebutuhan suamiku,aku meresponinya tapiiiii...tak jarang aku mengeluh dan bersungut-sungut dalam hati #sigh. Aku bersikap tidak menyenangkan. Aku sedang berbuat jahat pada suamiku. Bukan bermurah hati jika kita melakukan sesuatu dengan rasa terpaksa.Tidak ada kebaikan jika kita mengerjakan sesuatu bagi suami dengan mengeluh dan bersungut-sungut. Kita perlu belajar sungguh-sungguh bermurah hati melakukan kebaikan tanpa menghitung-hitung apa yang sudah dikerjakan.

Pernah aku melayani suamiku karena ingin mendengar pujian darinya, oke…aku memasak makanan kesukaannya dan aku ingin mendengar dia berkata masakanku enak, hohoho. Sebelumnya ia pernah melakukannya, enak ya dipuji tu ternyata ^^’ Tapi, kali ini dia tidak memuji masakanku (mungkin karena lupa atau memang tidak enak :p). Aku sangat kecewa. Dan aku belajar, melakukan hal yang baik dengan pamrih ternyata mendatangkan kekecewaan saat apa yang kita harapkan tidak kita dapati. Konyol bukan? Tapi sejak itu, aku belajar untuk melakukan sesuatu dengan tulus, dengan sukacita. Motivasiku hanyalah karena aku mengasihi dia dan ingin menyenangkan suamiku.

Berbuat baik pada suami tidak perlu dengan hal yang WAH. Lakukan kebaikan-kebaikan kecil yang kamu tahu akan menyenangkan dia, membuatkan kopi setiap hari, menyajikan kue manis yang dia suka, tidak mengomel/cemberut sewaktu menemaninya berkeliling di toko elektronik kesukaannya, dan banyak lagi pastinya yang kamu tahu akan membuatnya tersenyum. Biasakan dirimu. Sebagai istri pasti kamu tahu apa yang akan menyenangkan dia. Kalau tidak tahu, bertanyalah pada suami. Suami mana sih yang tidak senang jika istrinya ingin tahu bagaimana menyenangkan suaminya ^^ Sssttt…sesekali (atau sering ^^V) berpakaian seksi di tempat tidur tentunya akan sangat menyenangkan suami loooo…Hahahaha.


Yuk,kita berbuat baik bagi suami kita seumur hidup kita!\(",)/

Ditulis untuk Majalah Pearl edisi 33

Tuesday, May 10, 2016

Siapa yang Dapat Memisahkan Kita dari Kasih Kristus?

Jika kita merenungkan betapa besar kasih Allah pada manusia, pastinya kita akan terheran-heran dan berkata, “Kok bisa ya?” Kasih-Nya sungguh melampaui segala akal. Sejujurnya, manusia bukan makhluk yang mudah untuk dikasihi, karena manusia memiliki kecenderungan berbuat jahat dan melawan Allah. Alkitab dan sejarah menunjukkan betapa manusia selalu memilih untuk menentang Allah dengan melanggar larangan-Nya, sebagaimana Adam, Hawa, Musa, Nuh, Daud, Salomo, dan masih banyak lagi orang yang telah berdosa pada Allah. Semua orang  (termasuk anda dan saya) telah berbuat dosa dengan memilih menentang Sang Pencipta. Tapi anehnya, Allah memilih untuk mengasihi orang berdosa seperti kita. Bahkan karena kasih-Nya Ia merancangkan misi penyelamatan yang tidak masuk akal: Allah memberikan diri-Nya sendiri untuk menanggung dosa dan kesalahan kita! Ia mau mengorbankan diri-Nya untuk menebus dosa kita sehingga kita tidak perlu menerima penghukuman. Di mana lagi kita akan mencari kasih yang seperti ini?

Pintu kasih karunia dibuka untuk kita, agar kita menjadi anak-anak-Nya sekaligus ahli waris semua janji-Nya dalam Alkitab. Dan kasih Tuhan tidak berhenti sampai di situ. Setelah kita menjadi milik-Nya, apabila kita jatuh dalam dosa, pengampunan dan pertolongan-Nya tersedia bagi kita.
Alkitab berkata:

Tetapi dalam semuanya itu kita lebih daripada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. —Roma 8:37-39

“Tidak akan ada yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Tidakkah kalimat tersebut membuat hati terasa penuh? It surely does to me!

Orang-orang yang dikasihi Allah juga dikatakan melebihi orang-orang yang menang. Jika  euphoria seseorang yang memenangkan pertandingan hanya berlangsung sesaat, maka pengalaman dikasihi oleh Allah adalah sesuatu yang akan terus dirasakan mereka yang telah menerima Allah. Saya merasakannya: saya telah dan masih mengalami kasih-Nya setiap hari. Saya tahu bahwa saya sangat dikasihi. Kasih-Nya begitu besar sehingga Ia telah memberikan anak-Nya yang tunggal untuk menebus dosa saya—Ia mengasihi saya ketika saya berdosa. Kasih-Nya begitu kuat sehingga maut pun  tak berdaya memisahkan—ada kehidupan kekal bersama Allah menanti setelah kematian. Saat Allah telah menyatakan kasih-Nya dan kita menerima kasih itu, Ia akan menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup kita. Allah mengubah kita, kasih-Nya mengubah hidup kita, cepat atau lambat.

Mengenal Allah, dikasihi oleh-Nya, dan hidup bersama-Nya membuat kita mengetahui seperti apa hidup yang Dia inginkan. Kita mulai belajar mengasihi dari Allah yang adalah Kasih itu sendiri. Kita mulai memanggil-Nya Bapa, dan belajar dari Bapa kita di sorga bagaimana mengasihi. Firman-Nya terus meminta kita mengasihi seperti Dia mengasihi.

Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kita berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah.
—1 Yohanes 4:7

Kita mengasihi karena Allah terlebih dahulu mengasihi kita.
—1 Yoh 4:19

Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi, sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.
—Yohanes 13:34

Dan perintah ini telah kita terima dari Dia, barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya.
—1 Yohanes 4:21

Allah terlebih dahulu mengasihi kita. Ia memberikan kasih-Nya pada kita, sehingga kita mampu mengasihi orang lain. Tidaklah mungkin kita memberikan sesuatu yang tidak pernah kita miliki, demikian pula tak mungkin kita bisa mengasihi dengan benar jika kita tidak tahu bagaimana caranya mengasihi. Allah memberikan teladan-Nya dalam mengasihi.

Firman Tuhan berkata, “Ikutilah teladanku” (Efesus 5:1). Kita tidak diminta melakukan sesuatu yang tidak pernah diteladankan; Tuhan meminta kita melakukan apa yang telah dicontohkan kepada kita. Ia memerintahkan kita mengasihi sama seperti Ia telah terlebih dahulu mengasihi kita.

Jadii...
Kita dapat melepaskan pengampunan, bersabar terhadap setiap kesalahan kecil maupun besar yang dilakukan sesama kita karena Allah itu suaaaaabarnyaaaaaa luar biasa. Jika Dia dengan sangat sabar memaklumi dan mengampuni kesalahan-kesalahan kita yang jauh lebih besar, mengapa kita membatasi kesabaran pada sesama kita?

Kita dapat berbuat baik pada sesama, tak peduli sikap mereka pada kita karena kita telah mengalami kemurahan hati Allah dan kebaikan-Nya dalam hidup kita yang tak pernah berhenti. Tak pernah satu hari pun kita lewati tanpa Dia berbuat baik pada kita. Jika demikian, bukankah sepantasnya kita juga berbuat baik kepada semua orang, bukan hanya mereka yang berbuat baik pada kita?

Kita seharusnya tidak berbuat curang pada sesama dan mencari keuntungan dari sesama kita, karena mengasihi berarti mengharapkan yang terbaik dan melakukan yang terbaik, sama seperti Allah yang telah mengasihi kita dengan memberikan yang terbaik bagi kita—diri-Nya sendiri. Jika Dia yang adalah Allah menunjukkan kasih-Nya dengan pengorbanan-Nya, mengapa kita, alih-alih berkorban bagi sesama, malah mencari keuntungan bagi diri kita sendiri?
Kita tidak perlu marah dan menyimpan kesalahan orang lain, karena mengasihi berarti tidak menyimpan dendam dan menjadi begitu kritis terhadap kesalahan orang lain. Apabila Allah yang tahu kesalahan dan dosa kita memilih tidak mengingat-ingat lagi pelanggaran kita, mengapa kita mengenang-ngenang kesalahan yang dilakukan orang lain?

Jika kita merasa sulit mengasihi sesama, ingatlah betapa Allah telah terlebih dulu mengasihi kita dengan kasih yang kekal, bahkan Ia tidak membiarkan ada yang  memisahkan kita dari kasih-Nya.
Ingatlah:

Allah mengasihi kita sebelum kita mengasihi-Nya
Ia mengasihi saat kita masih berdosa.
Tanpa syarat.
Dengan sadar Ia memberi.
Berkorban.
Bersabar.
Selalu.


Sebagai penurut-penurut Allah, tidakkah kita ingin mengasihi seperti Dia mengasihi?

Ditulis untuk Majalah Pearl edisi 32

Saturday, May 7, 2016

Ini Tanggung Jawab Kita

“Menginjili? Saya? Menginjili? Gak salah tuh! Ngapain? Itu kan tugas pendeta atau hamba Tuhan!”

Banyak dari kita berpikir demikian, saya pun dulu berpikir demikian. Saya merasa itu bukan tanggung jawab saya. Sampai kemudian saya menyadari bahwa pekabaran Injil juga adalah tugas saya. Perhatikan ini:

Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan.Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Roma 10:13-14
Tanyakan hal tersebut berulang kali pada dirimu sendiri. Bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia?
Mereka perlu mendengar tentang Dia!

At least, orang lain perlu mendengar tentang Kristus, perkara mereka percaya atau tidak. Atau mereka memutuskan berseru atau tidak pada-Nya bukan tanggung jawab kita. Biarlah itu menjadi bagian Roh Kudus yang bekerja di dalam mereka. Tapi jangan sampai kita melewatkan apa yang menjadi bagian kita. Sayang sekali jika kita melewatkan sukacita dalam memberitakan kabar keselamatan bagi mereka yang juga membutuhkan kasih BAPA.

Pernahkah mendengar istilah suku terabaikan? Sewaktu saya melayani di masa kuliah, saya menerima sebuah buku yang berisi profil suku-suku yang perlu didoakan agar menerima Kristus sebagai juruselamat. Semula, saya mengira suku-suku yang masuk di buku tersebut adalah suku yang berada di pedalaman dan tidak punya akses transportasi dan komunikasi yang memadai. Saya berpikir suku-suku ini adalah mereka yang tidak mengenal televisi, surat kabar, majalah, buku, Alkitab, radio, atau internet. Pendeknya, suku yang terasing. Saya mengira mereka yang tidak pernah mendengar tentang Kristus adalah orang-orang yang keberadaannya sulit dijangkau, baik secara langsung maupun melalui berbagai media tersebut. Bayangkan betapa kagetnya saya saat menemui Suku Jawa di situ. Hellloowwww… apa kabar? Kurang akses apa sih suku Jawa yang nyata-nyata kemajuan pembangunannya begitu luar biasa, ngapain perlu didoakan. Tapi nyatanya banyak di antara mereka yang belum pernah mendengar tentang Kristus. Aneh tapi nyata. Suku terabaikan bisa jadi orang-orang yang berada di sekeliling kita, mau suku Batak, mau suku Jawa, suku Betawi, atau suku Dayak, yang kita temui sehari-hari namun kita ABAIKAN keberadaannya! Kita tidak memberikan kesempatan bagi mereka mendengarkan Injil. Kita mengabaikan mereka yang perlu mendengar Injil keselamatan! Kita membiarkan mereka terhilang. Ke mana saja kita selama ini? Saat dulu saya merenungkan hal ini, saya menyadari banyak keluarga saya yang belum pernah mendengar tentang Kristus, mereka yang berbeda keyakinan dengan saya tahu kalau saya beragama Kristen, tapi saya tidak pernah berbicara tentang Kristus di hadapan mereka. Saya mengabaikan mereka. Bahkan mendoakan mereka untuk mengenal Kristus pun jarang sekali saya lakukan, apalagi membicarakannya. Fiuhhh… Jika banyak orang bersikap seperti saya, jangan heran jika begitu banyak suku yang terabaikan, begitu banyak orang yang tidak memiliki kerinduan memberitakan kasih Kristus. Begitu banyak orang yang terhilang saat ini.

Robertson McQuilkin pernah menulis tentang tiga respon terhadap keterhilangan, yaitu:

1. Mengingkari
Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Yohanes 14:6

Dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” Kisah Para Rasul 4:12
Mungkin ada yang berpikir, “Tak apalah, biarkan saja mereka dengan kepercayaannya, toh banyak jalan menuju Roma”. NO!!!  Perhatikan ayat-ayat di atas. Keselamatan hanya melalui Kristus. Tidak ada jalan lain.
Mereka yang mengingkari didukung oleh beberapa paham yang muncul belakangan ini:
Universalisme: Tidak ada manusia yang terhilang (manusia baik) atau semua manusia pada akhirnya akan selamat (Tuhan baik).
Universalisme Baru: Manusia terhilang dan perlu diselamatkan dan Kristus telah/akan menyelamatkan semua orang.
Pluralisme: Tidak ada suatu sistem berpikir tertentu yang dapat menjadi kebenaran mutlak. Ada banyak jalan menuju keselamatan.
Universalisme dan pluralisme menghina salib Kristus. Jika semua orang diselamatkan tanpa mendengar dan menanggapi Kristus, mengapa Kristus harus mati?

2. Mengabaikan
Ada juga orang yang mengetahui bahwa manusia terhilang akan mendapat penghukuman kekal dan Kristus adalah satu-satunya jalan keselamatan, tetapi pemahaman dan keyakinan ini hanya sedikit atau tidak sama sekali mengubah gaya hidup, sikap, dan prioritasnya. Penginjilan bukan menjadi prioritasnya, atau tidak pernah sama sekali terpikirkan baginya untuk mengambil bagian di dalamnya karena baginya itu bukan tugasnya, ia merasa tidak mampu lalu ia tidak mau mengambil bagian, atau ia merasa itu bukan tanggung jawabnya, seperti yang saya lakukan sebelumnya.

Kita tidak dapat begitu saja mengabaikan pemberitaan Injil karena beberapa hal di bawah ini:

- Allah mengasihi semua orang
Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal. Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.Yohanes 3:16,18
Orang lain memerlukan Kristus sama seperti kita memerlukan-Nya. Kristus begitu mengasihi dunia ini (Yes, dunia dan segala isinya ini, termasuk saya, kamu, mereka, luar biasa bukan?) sehingga menyerahkan anakNya yang tunggal supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya (sekali lagi, SETIAP ORANG YANG PERCAYA KEPADA-NYA, bukan hanya saya atau kamu, tapi bahkan juga mereka yang tidak ke Gereja setiap hari Minggu). Begitu besar kasih Allah sehingga Ia memberi jalan agar semua orang lepas dari hukuman kekal dan menerima keselamatan kekal melalui penebusan Kristus. Ia hanya ingin kita mempercayai-Nya. Tapi, sekali lagi, bagaimana mungkin orang mempercayai Dia jika tidak pernah mendengar tentang Dia? Jika kita mengharapkan hanya pendeta, hamba Tuhan, atau misionaris yang memberitakan tentang Dia, betapa banyaknya orang yang akan terhilang. Betapa banyaknya orang yang akan menerima hukuman kekal.

-Banyak Orang yang Menuju Penghukuman Kekal Jika Tidak Diselamatkan

Dan saya melihat orang-orang mati, besar dan kecil, berdiri di depan takhta itu. Lalu dibuka semua kitab. Dan dibuka juga sebuah kitab lain, yaitu kitab kehidupan. Dan orang-orang mati dihakimi menurut perbuatan mereka, berdasarkan apa yang ada tertulis di dalam kitab-kitab itu.Maka laut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya, dan maut dan kerajaan maut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya, dan mereka dihakimi masing-masing menurut perbuatannya.Lalu maut dan kerajaan maut itu dilemparkanlah ke dalam lautan api. Itulah kematian yang kedua: lautan api. Dan setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis di dalam kitab kehidupan itu, ia dilemparkan ke dalam lautan api itu.Wahyu 20:12-15
Inilah yang akan terjadi jika mereka yang terhilang tidak percaya pada Kristus, mereka akan menerima hukuman kekal. Apakah kita akan membiarkan hal itu terjadi?

Sebuah ilustrasi yang sangat mengena saya dapatkan dari mentor saya. Dia bercerita mengenai Seorang satpam yang bertugas menjaga bangsal rumah sakit di lantai 10. Jika terjadi kebakaran, tanggung jawabnya adalah menuntun pasien menuju tangga darurat, mengikuti denah ruangan yang sudah ditandai dengan jelas. Ketika terjadi kebakaran  manakah tindakan yang paling tepat baginya: Mendiskusikan dengan pasien atau rekannya kemungkinan adanya jalan aman selain melalui tangga darurat tsb, membicarakan tayangan berita tentang seseorang yang terjun dari lantai 10 dan tetap hidup, atau embawa pasien secepat mungkin menuju tangga darurat yang sudah jelas ditunjukkan di denahnya.

Apakah yang akan kita lakukan? Menjadi satpam yang bagaimanakah kita saat ini terhadap pasien yang harus diselamatkan dari kebakaran?

Kalau saja ada kesempatan berada ‘satu malam di neraka’ maka kita akan melihat urgensi tugas penginjilan. William Booth (pendiri Bala Keselamatan).

- Kita dipanggil menjadi berkat
Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: "Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; Saya akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.Saya akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat."Kejadian 12:1-3
Kita adalah keturunan Abraham yang dipanggil untuk menjadi berkat bagi bangsa-bangsa. Bisa jadi itu berupa berkat keuangan maupun berkat yang lain. Tapi, ada satu kebutuhan yang menjadi kebutuhan semua orang, semua orang membutuhkan Kristus, semua orang membutuhkan keselamatan dari-Nya. Berkat keselamatan adalah berkat yang diperlukan semua orang yang terhilang di dunia ini. Semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, hukuman kekal telah menanti mereka yang tidak percaya pada Kristus. Upah bagi dosa adalah maut dan maut menanti mereka yang tidak memperoleh berkat keselamatan dari Allah. Kita yang telah menerima berkat ini dipanggil untuk membagikannya bagi yang belum mendengar.


- Amanat Agung Yesus
Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Saya menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."Matius 28:19-20
Sebelum meninggalkan dunia ini, Yesus memberikan pesan penting bagi murid-murid dan pengikut-Nya, termasuk kita. Bayangkan, orang yang sangat penting bagimu akan pergi meninggalkanmu namun sebelum pergi ia menyempatkan untuk meninggalkan pesan penting yang dia ingin untuk kamu lakukan. Apakah kamu akan mengabaikannya? Sedemikian pentingnya semua bangsa bagi Yesus, sehingga Ia ingin pengikut-Nya menjadi murid-Nya.

Amanat ini disebut sebagai Amanat Agung (The Great Commission) karena besarnya otoritas yang memerintahkannya (segala kuasa di sorga dan di bumi), luasnya lingkup yang dicakup (semua bangsa), tingginya standar yang dicapai (murid Kristus), menyeluruhnya proses yang dikerjakan (baptis, ajar segala sesuatu yang diperintahkan, pergi), dan panjangnya janji penyertaan yang mengikutinya (sampai kepada akhir zaman). Adakah amanat yang lebih besar dari Amanat Agung ini? Sesuai struktur tata bahasa aslinya (Yunani), kalimat induk dalam amanat ini adalah "Jadikanlah semua bangsa murid-Ku". Di sini kita dihadapkan dengan standar kuantitas dan kualitas hasil pelayanan yang diinginkan Tuhan Yesus. Kuantitas merujuk pada berapa murid yang dihasilkan. Kualitas merujuk pada bagaimana murid yang dihasilkan (Pola Pelayanan Amanat Agung)

- Tidak mengabarkan Injil adalah dosa
Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.Yakobus 4:17
Seseorang yang kukenal pernah berkata, dosa adalah aktif berbuat jahat dan pasif berbuat baik. Kita yang dipercaya banyak akan dituntut banyak, kita yang diberi banyak akan dituntut banyak pula.

3. Memenangkan
Orang yang terlibat aktif dalam usaha memenangkan jiwa melalui doa, kehidupan, dan perkataannya karena memahami signifikansi dan urgensi Injil.

Di antara ketiga respon tersebut, yang manakah respon kita?

Keadaan manusia yang terhilang begitu menghancurkan hati BAPA kita.

Apa pengaruhnya pada hatimu?

Ditulis untuk Majalah Pearl edisi 31

Thursday, May 5, 2016

Firman Allah Menjadikan Kita Bijaksana


Perintah-Mu membuat aku lebih bijaksana dari pada musuh-musuhku, sebab selama-lamanya itu ada padaku. Aku lebih berakal budi dari pada semua pengajarku, sebab peringatan-peringatan-Mu kurenungkan. Aku lebih mengerti dari pada orang-orang tua, sebab aku memegang titah-titah-Mu. 
(Mazmur 119:98-100)

Bijak. Bijaksana. Kebijaksanaan.  Apakah itu?
Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan bijaksana sebagai berikut:
bijaksana/bi·jak·sa·na/ a1 selalu menggunakan akal budinya (pengalaman dan pengetahuannya); arif; tajam pikiran; 2 pandai dan hati-hati (cermat, teliti, dsb) apabila menghadapi kesulitan dsb: dng -- ia menjawab pertanyaan yg bersifat menjerat;

kebijaksanaan/ke·bi·jak·sa·na·an/ n1 kepandaian menggunakan akal budinya (pengalaman dan pengetahuannya): berkat - beliau, terlepaslah kita dr bahaya besar;2 kecakapan bertindak apabila menghadapi kesulitan dsb: perkara ini terserah kpd - orang tua si anak

Mari kita lihat menurut firman Tuhan, apa sih sebenarnya bijaksana itu:
-       Mengerti maksud Tuhan dan tahu apa yang harus dilakukan
Kata Firaun kepada Yusuf: "Oleh karena Allah telah memberitahukan semuanya ini kepadamu, tidaklah ada orang yang demikian berakal budi dan bijaksana seperti engkau. (Kejadian 41:39)
Di seluruh Mesir saat itu hanyalah Yusuf yang disebut Firaun bijaksana karena hanya Yusuf yang dapat mengartikan dengan tepat mimpi yang diberikan TUHAN kepada Firaun.  Dia mengerti maksud TUHAN karena Tuhan telah memberitahukannya.  Namun tidak hanya itu, dia mengerti tindakan apa yang harus dilakukan jika terjadi seperti arti mimpi Firaun tersebut.

-       Memiliki hikmat dan pengertian sehingga dapat memutuskan suatu perkara
Lalu Huram melanjutkan: "Terpujilah TUHAN, Allah orang Israel, yang menjadikan langit dan bumi, karena Ia telah memberikan kepada raja Daud seorang anak yang bijaksana, penuh akal budi dan pengertian, yang akan mendirikan suatu rumah bagi TUHAN dan suatu istana kerajaan bagi dirinya sendiri! (2 Tawarikh 2:12)
Salomo anak Daud disebut bijaksana karena ia meminta kepada TUHAN supaya diberikan hati yang paham menimbang suatu perkara, kemudian Tuhan memberikan hati yang penuh hikmat dan pengertian (1 Raja-Raja 3:9-12). Masih ingat saat Salomo dihadapkan pada 2 orang ibu yang berebut bayi?  Tentu kita tahu akhir kisah ini, ia dapat menyelesaikan perkara ini.

-  Tidak menolak firman Tuhan
Orang-orang bijaksana akan menjadi malu, akan terkejut dan tertangkap. Sesungguhnya, mereka telah menolak firman TUHAN, maka kebijaksanaan apakah yang masih ada pada mereka?  (Yeremia 8:9)

-       Mendengarkan perkataan Tuhan dan melakukannya.
Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu.  (Matius 7:24) 

Bijaksana ternyata tidak hanya berarti pintar atau cerdas, bahkan mengerti pun belum disebut bijaksana. Bijaksana berkaitan erat dengan apakah kita yang kita mengerti apa yang kita lakukan berserta konsekuensinya, dan apa tindakan yang perlu dilakukan selanjutnya.
Lalu, bagaimana bisa firman Tuhan membuat bijaksana? Check this out!

Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan TUHAN itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman. (Mazmur 19:7)
Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan, dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.  (2 Timotius 3:16)
Bagaimana seseorang tidak menjadi bijaksana jika ia diajar siang dan malam oleh firman Tuhan yang dibacanya?
Bagaimana seseorang tidak gelisah hidup dalam dosa jika firman Tuhan terus-menerus mengkoreksi kesalahannya?
Bagaimana mungkin seseorang tinggal dalam kelakuannya yang buruk jika ia bergaul akrab dengan firman Tuhan yang terus menerus memperbaiki kelakuannya?
Dan bagaimana mungkin seseorang tahan hidup dalam ketidakbenaran jika firman Tuhan terus-menerus mendidiknya untuk hidup dalam kebenaran?

Firman Tuhan berkuasa mengubah hidup seseorang karena firman-Nya hidup.  FirmanNya bukan perkataan manusia atau tulisan karangan manusia belaka. Firman Tuhan adalah perkataan Tuhan yang diilhamkannya melalui penulis-penulis-Nya. Firman-Nya akan ‘mengganggu’ kita dan menggelisahkan kita saat kita memilih melakukan sesuatu yang bertentangan dengan firman-Nya. Pilihan untuk menjadi bijaksana dan tidak menolak firman Tuhan kembali pada kita, maukah kita tunduk pada firman-Nya yang akan menjadikan kita bijaksana?

Suatu kali, aku membagikan informasi lowongan pekerjaan sebuah stasiun televisi rohani yang mencari host untuk salah satu acaranya, salah satu kriterianya adalah menguasai injil. Salah seorang kawanku menanggapi dengan bertanya demikian: menguasai injil atau dikuasai injil?

Pertanyaan tersebut begitu menggelitik-ku. “Apakah hidupku menguasai firman Tuhan atau dikuasai firman Tuhan?”

Ada perbedaan besar antara menguasai injil dan dikuasai injil, ada jurang yang lebar antara menguasai firman Tuhan dan dikuasai firman Tuhan. Jika kita hanya menguasai firman Tuhan, belum tentu kita menjadi pribadi yang bijaksana. Bisa jadi kita menjadi ahli taurat dan orang farisi yang hapal mati firman-Nya, tapi tidak melakukan firman-Nya. Dikuasai firman Tuhan berbeda, firman Tuhan telah mempengaruhi hidup kita sedemikian rupa sehingga kita memilih berlari pada firman-Nya saat harus memutuskan sesuatu, firman-Nya yang menuntun kita dalam perjalanan hidup yang tak tentu, firman-Nya yang meneguhkan kita saat bimbang melangkah karena kita tahu hanya firman-Nya yang sempurna memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman.

Mungkin ada beberapa di antara kita yang berpikir, “Bukankah jika kita kekurangan hikmat maka kita tinggal meminta pada TUHAN yang empunya hikmat saja, tidak perlu membaca firman TUHAN bukan untuk mengerti dan tahu apa yang harus kita lakukan?”

Benar, kita perlu meminta hikmat kepada Tuhan, tapi bagaimana jika Tuhan menyediakan hikmat itu dalam firman-Nya. Bagaimana kita tahu, pemikiran yang timbul kemudian adalah hikmat dari Tuhan atau bukan jika kita tidak pernah membaca atau menyelidiki firman-Nya? 

Hikmat yang datang dari Tuhan tidak akan bertentangan dengan firman Tuhan. Ya iya lah, wong sumbernya sama. Mungkin ada pula yang berkata begini, “Ah, aku tinggal bertanya langsung ke TUHAN, biasanya Roh Kudus akan menjawab melalui suara hatiku, tak perlulah aku membaca firman-Nya.”

Well, bagi yang berpikir demikian, silakan baca ini:
Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya.  (Yeremia 17:9)
Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat.  (Matius 15:19)
Percaya tidak percaya, hati kita dapat menipu kita dan membuat kita melakukan pilihan-pilihan yang salah ... hati kita bisa tidak murni dan dapat membuat kita memilih melakukan yang tidak benar, karena kecenderungan hati kita adalah melakukan yang jahat.  Lalu, bagaimana kita dapat memilih melakukan yang benar jika demikian?  Bagaimana kita menjadi bijaksana jika hanya mendengarkan suara hati kita?  Firman Tuhan saja yang dapat membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita. Firman-Nya mengoreksi hati dan keinginan kita.

Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita. Ibrani 4:12
Kita perlu kudu wajib harus cross check setiap kata hati kita dengan firman Tuhan, sudah sesuaikah dengan firman-Nya. Ujilah dulu segala sesuatu yang kamu dengar, benar dari Tuhan apa ngga. Jangan asal percaya seseorang yang bilang, ”Roh Kudus bilang bla..bla…bla…”, ingat, ujilah segala perkataan tersebut. Gimana ngujinya?  Cek dengan firman TUHAN!  Biar pun yang ngomong hamba Tuhan, kalau itu bertentangan dengan firman Tuhan, jangan percaya! Manusia gak sempurna, tapi taurat Tuhan itu sempurna loh, karenanya kita perlu memahami firman-Nya supaya tahu dan melakukan yang benar.

Apalagi di dunia ini sudah semakin jahat, seringkali mungkin kita bingung menilai sesuatu, karena yang benar dianggap salah, yang salah bisa dianggap benar. Untuk itulah kita perlu membaca firmanNya, jangan malas memahami dan merenungkan firman Tuhan. Jangan hanya mengandalkan orang lain (termasuk khotbah dan bahan perenungan), karena pengajaran di dalam gereja pun bisa melenceng, selidiki dan belajar langsung dari firman itu sendiri.

Karena hanya lewat firman Tuhan yang dapat memberikan pengetahuan yang benar tentang Allah yang benar, menumbuhkan iman kita, mengubah karakter kita semakin serupa dengan Kristus, membuatnya teguh sehingga tidak diombang-ambingkan pengajaran manusia yang menyesatkan.

Terakhir, aku ingin membagikan sebuah kutipan yang pernah aku dapatkan bertahun-tahun lalu: Tidak pernah aku menemukan orang yang Alkitabnya hancur (karena dibaca) memiliki hidup yang hancur. Anonim


Ditulis untuk Majalah Pearl edisi 30 
blog comments powered by Disqus

FoLLoWeRs