.....apa saja yang terpikirkan,yang jadi perhatianku, kehidupanku, pengalaman(ku dan orang lain), apa yang kusukai, apa yang tidak kusuka,apa yang ingin kubagikan, apa yang menyentuhku,apa yang tidak ingin aku lupakan, yang menginspirasiku, yang menolongku, menguatkanku, dan berarti buatku.

Dan di atas segalanya, perjalananku bersama Yesusku, saat-saat aku belajar berjalan bersama-Nya, bergantung sepenuhnya kepada-Nya,menikmati pemeliharaan dan kasih-Nya yang sempurna atas hidupku.

Saturday, March 11, 2017

Ulangan 1-2, Hosea 10, Amsal 10

Ulangan 1-2

Musa menceritakan kembali kepada generasi Israel yang akan masuk ke tanah perjanjian berbagai peristiwa yang telah dialami bangsa Israel :
-riwayat pengalaman di gunung Horeb
-riwayat pengangkatan hakim-hakim
-riwayat kedua belas pengintai
-riwayat kegagalan serangan ke bagian selatan
-riwayat perjalanan di padang gurun
-riwayat peperangan melawan Sihon
Mereka yang akan masuk ke tanah perjanjian pada saat kejadian riwayat itu berusia di bawah 20 tahun bahkan mungkin ada yang masih kecil sehingga mereka tidak mengetahui dengan detail apa yang terjadi. Musa ingin mereka tahu sehingga mereka dapat belajar dari peristiwa yang lalu. Musa ingin agar mereka makin mengenal Tuhan. Menurutku luar biasa sekali Musa punya ide untuk menceritakan kembali apa yang telah terjadi dan alangkah baiknya kalau generasi muda mau belajar dari generasi tua. Adalah baik kalau kita belajar sari kesalahan kita, tapi lebih baik lagi kalau kita mau belajar dari kesalahan orang lain.

Aku mau belajar dari apa yang telah dialami orang lain dan pengalaman yang telah dilalui orang lain, aku mau mendengarkan cerita mereka dan belajar supaya aku gak mengulangi kesalahan mereka. Dan aku mau mengambil pelajaran dari tokoh-tokoh Alkitab yang telah mengalami berbagai hal di zamannya. Aku mau belajar dari hal baik yang mereka lakukan dan aku gak mau mengulangi kesalahan yang mereka lakukan.

Lumayan detail Musa menceritakan apa yang terjadi dan pasti banyak sekali yang dapat dipelajari oleh generasi muda Israel. Warisan cerita dari Musa ini pasti sangat berguna bagi orang Israel.

Aku juga mau mewariskan pengajaran dan didikan buat keturunanku nantinya lewat tulisan-tulisanku.  Aku rindu keturunanku boleh belajar untuk semakin taat dan mengasihi Tuhan,  biar mereka tahu kalau betapa banyak yang telah dibuat Tuhan dalam hidupku.

Hosea 10

Hosea 10:3 (TB)  Sungguh, sekarang mereka berkata: "Kita tidak mempunyai raja lagi, sebab kita tidak takut kepada TUHAN. Apakah yang dapat dilakukan raja bagi kita?"

1. Bangsa Israel lebih memilih dipimpin manusia dibanding Tuhan.
Sounds so stupid tapi it happened. Saul adalah raja pertama di Israel, sebelum dia tidak ada seorang pun yang menjadi raja bagi Israel. Dari zaman di Mesir sampe sebelum Saul, bangsa Israel menjadi bangsa yang istimewa dibandingkan bangsa lain, karena mereka dipimpin langsung oleh Allah. Ini yang membedakan pemerintahan bangsa Israel dibandingkan bangsa lain. Ada banyak nabi, yang menyampaikan suara Allah, tapi nabi hanyalah penyambung lidah Allah, raja yang sesungguhnya, alias pemimpin yang sesungguhnya adalah Allah. Namun seketika saja, bangsa Israel ingin menjadi sama dengan bangsa lain yang dipimpin seorang raja berwujud manusia.

Bandingkan dengan kehidupan orang Kristen di masa sekarang yang mirip dengan bangsa Israel saat itu, kebanyakan di antara kita lebih memilih mendengar suara manusia dibanding suara Tuhan. Orang Kristen tidak mau menerima pimpinan Tuhan karena pimpinan Tuhan berbeda dengan orang lain. Tuhan seringkali memimpin kita melakukan sesuatu yang berbeda dibanding yang kebanyakan dunia lakukan, tapi kita menolak menjadi berbeda dengan dunia, kita sering memilih menjadi sama dengan kebanyakan orang.

Aku mau belajar lebih mendengarkan Tuhan dan taat sama firmanNya dibandingkan pendapat dunia atau orang pada umumnya.Tiap ada masalah dan memerlukan keputusan dalam hidupku aku mau tanya Tuhan dulu.

2. Bangsa Israel tidak menganggap Tuhan sebagai rajanya sehingga merasa perlu mengangkat rajanya sendiri

Selama ini TUHAN sudah menjadi raja bagi mereka, tapi mereka tidak bener-bener menyadari kedudukan dan keberadaanNya sebagai raja. Seandainya mereka menyadari kalau TUHAN adalah rajanya, mungkin mereka gak perlu mencari-cari seorang raja di antara mereka.

Jadi membandingkan lagi dengan orang Kristen di masa sekarang, kalau aku belum menganggapNya raja, gak heran kalau aku gak menghormati dan memperlakukan Tuhan sebagaimana Dia sesungguhnya. Sudahkah TUHAN sungguh-sungguh menjadi raja atas hidupku? Atau jangan-jangan tanpa aku sadari aku telah mengangkat sendiri seorang raja atas hidup kita? TUHAN adalah raja atas hidupku, diakui atau tidak gak akui, Dia tetap raja, gak ada yang bisa mengubah hal itu. Sekarang tinggal aku, mau gak menyadari keberadaanNya sehingga mulai bertindak hormat dan tunduk pada kekuasaanNya.

3. Bangsa Israel iri terhadap bangsa lain, padahal bangsa Israel memiliki yang lebih baik

Ya iya lah. Dah punya Tuhan sebagai raja, eh…malah minta raja manusia seperti bangsa lain, padahal dah nyata dunk kalo manusia tu gak perfect. Ini ibarat misalnya aku punya mobil yang bagus banget trus iri sama tetanggaku yang punya sepeda. Kan bodoh kalo gitu. Sudah punya yang jauh lebih baik, ehhh…malah iri sama orang lain. Ini iri yang bodoh. Beda kali ya kalo aku iri sama orang lain yang lebih baik, ini masih manusiawi (asal gak lalu melakukan kejahatan yeee :p), malah bisa jadi pendorong untuk jadi lebih baik. Tapi kalo nyata-nyata dah memiliki yang juaaauuuhhhhh lebik baik lalu masi ngiri? Ini (sekali lagi) bodoh.

Dan rasa iri ini sesungguhnya bersumber dari tidak adanya rasa syukur di dalam diri ^^ Kalo kita banyak bersyukur, percayalah…kita akan dijauhkan dari rasa iri-mengiri ini :p Aku kembali diingatkan untuk bersyukur kepada Tuhan. Gak perlu iri dengan apa yang orang lain miliki, bersyukur Meg.

Tuhan,  Engkaulah raja atas hidupku,  aku mau menghormati Engkau dan tunduk padaMu. Selamanya hanya Tuhanlah rajaku. Amin

Amsal 10

Amsal 10:19 (TB)  Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi.

Menahan bibir = Berakal budi
Kenapa orang yang menahan bibir disebut berakal budi?
Karena orang yang berakal budi tahu kalau gak semua hal harus dikatakan. Jadi ingat sharenya Cella dulu kalau gak salah,  sebelum bicara,  THINK dulu. Mikir dulu...
T = is it True?
H = is it Helpful?
I = is it Inspiring?
N = is it Necessary?
K = is it Kind?
Kalo orang banyak bicara sih ga sempat mikir,  asal nyerocos,  asal ngoceh, asal nyablak.  Aku gak boleh gitu,  biar aja kata-kataku dikit daripada ngasal.

Dan baca ayat di atas aku jadi ingat ini:
Roma 12:2 (TB)  Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.
Orang yang menahan bibir👉 berakal budi👉 GAK SERUPA DENGAN DUNIA.
APA YANG KITA KATAKAN menunjukkan siapa kita, apakah kita sama dengan dunia atau ngga.

Aku gak mau jadi serupa dengan dunia, aku mau jadi berkat lewat kata-kataku. Tolong aku ya Tuhan.Amin

Kasongan,  10 Maret 2017
-Mega Menulis
-

No comments:

blog comments powered by Disqus

FoLLoWeRs