.....apa saja yang terpikirkan,yang jadi perhatianku, kehidupanku, pengalaman(ku dan orang lain), apa yang kusukai, apa yang tidak kusuka,apa yang ingin kubagikan, apa yang menyentuhku,apa yang tidak ingin aku lupakan, yang menginspirasiku, yang menolongku, menguatkanku, dan berarti buatku.

Dan di atas segalanya, perjalananku bersama Yesusku, saat-saat aku belajar berjalan bersama-Nya, bergantung sepenuhnya kepada-Nya,menikmati pemeliharaan dan kasih-Nya yang sempurna atas hidupku.

Friday, June 9, 2017

Amsal 22-24, Lukas 9, Amsal 9

Amsal 22:15 (TB)  Kebodohan melekat pada hati orang muda, tetapi tongkat didikan akan mengusir itu dari padanya.

Amsal 22:15 (BIMK)  Sudah sewajarnya anak-anak berbuat hal-hal yang bodoh, tetapi rotan dapat mengajar mereka mengubah kelakuan.

Nah loooo....Anak-anak ma biasa berbuat bodoh, tapi apa kita akan membiarkan?

Aku pernah membaca artikel yang katanya tiap membentak anak maka itu akan mematikan sel otak. Lalu di lain artikel katanya orang tua tidak boleh memarahi anak,  menggunakan kata 'jangan'  pada anak, dll. Selama ini aku dilema berusaha tegas sewaktu geregetan dengan Sara tanpa membentak, susah sekali. Beda dengan papanya Sara yang cuek, kalau menurutnya Sara salah ya dia akan tegas, ga ada dilema. Aku iri. Lol. Kupikir anak umu 10 bulan kalo ditegur keras kasihan tapi kalo didiemin juga aku takut ntar dia terbiasa seenaknya.

Baca ayat ini aku juga teringat status Glory yang kubaca kemarin:
Lihat acara tentang mendidik anak. "Jangan dibentak." "Jangan dimarahi." "Jangan membuat dia merasa tertekan." "Jangan memukul." Intinya jangan diapa-apain deh ya. Hahaha

Benar sekali ayat ini. Anak-anak memang melakukan banyak hal bodoh karena mereka belum mengerti, ya makanya harus dikasih tahu, harus dididik! Harus tegas! Kalo perlu dimarahi ya dimarahi. Jangan ragu! Kalo ragu ya minta hikmat dari Tuhan.  Sedangkan Tuhan aja menghajar anak yang dikasihiNya, Dia beri teladan dalam mendidik kita, masa aku gak menuruti teladanNya.

Tuhan, tolong aku supaya mampu mendidik Sara dengan benar. Supaya dia gak terus-menerus tinggal dalam kebodohan tapi sungguh mau diajar. Berikanlah hikmat bagi kami kedua orang tuanya untuk mendidiknya. Amin

Amsal 23:13-14 (TB)  Jangan menolak didikan dari anakmu ia tidak akan mati kalau engkau memukulnya dengan rotan.
Engkau memukulnya dengan rotan, tetapi engkau menyelamatkan nyawanya dari dunia orang mati.

Kembali diteguhkan untuk mendidik anak dalam kebenaran. Kalau gak dididik dari kecil, apa jadinya anakku kalau sudah besar nanti. Di sini dikatakan boleh memukul dengan rotan, aku belum pernah membicarakan ini dengan suami. Kupikir kami perlu membicarakannya,apakah perlu memberikan pukulan, kalau iya, kapan, dimana,  batasan-batasannya kami belum tahu, belum pernah kami bicarakan. Mungkinkah kami memukul nanti saat harus mendidiknya kami belum tahu, tapi ini akan jadi bahan diskusi kami sebagai orang tua. Saat pukulan dilakukan aku harus ingat kalau tujuannya adalah MENDIDIK bukan melampiaskan amarah atau dilakukan saat emosi. Yang jelas, aku gak mau anak kami tumbuh jadi anak yang kurang ajar.

Amsal 9:8 (BIMK)  Jangan mencela orang yang tak mau diajar, ia akan membencimu. Tetapi kalau orang bijaksana kautunjukkan kesalahannya, ia akan menghargaimu.

Ciri orang yang bijaksana :
- bersedia dikritik/ditegur
- menghargai orang yang menegur
Tadi malam aku ditegur suami karena lengah saat menjaga Sara. Sara sedang senang belajar berdiri jadi saat dia belajar berdiri harus ada orang lain di belakangnya yang menjaganya kalau-kalau dia terjatuh. Aku membuat susu untuk Sara di dotnya, di kamar juga, tapi gerakan Sara sangat cepat, tahu-tahu dia terjatuh dan menangis. Suami datang dan waktu aku ceritakan apa yang terjadi, suami langsung menegurku. Harusnya aku fokus ke Sara. Aku diam. Tapi dalam hatiku aku marah, aku gak terima. Di pikiranku, aku memang lalai tapi aku gak terima dimarahi seperti itu. Aku merasa gak adil karena pernah suamiku lalai menjaga Sara dan aku gak marah sebesar itu,  aku berpikir kalau suamiku pasti gak sengaja jadi buat apa aku marah.

Baca ayat ini aku diingatkan kalau aku seharusnya gak marah dengan suamiku. Aku salah jadi harus mau menerima teguran, tujuan suamiku baik,  supaya aku lebih berhati-hati saat menjaga Sara. Aku gak boleh lalai karena akan membahayakan Sara. Walaupun suami pernah berbuat kesalahan tapi dia sudah lebih hati-hati,lah masa aku yang malah melakukan kesalahan dengan gak lalai.

Gak dengan suami aja, dengan orang lain pun aku harus menerima kalau ditegur. Gak peduli orang itu bagaimana (pernah melakukan kesalahan atau nggak) yang jelas aku harusnya tetap menghargai orang tersebut.

Lukas 9:3 (TB)  kata-Nya kepada mereka: "Jangan membawa apa-apa dalam perjalanan, jangan membawa tongkat atau bekal, roti atau uang, atau dua helai baju.

Kenapa saat Yesus mengutus muridnya,  Ia tidak mengizinkan mereka membawa apa-apa? Dahulu tongkat berfungsi untuk melindungi dari binatang buas,  bekal berupa roti atau uang sebagai simpanan bila memerlukan makanan,  baju tentunya untuk melindungi tubuh kita dari panans dan hujan. Lalu kenapa Yesus gak mengizinkan mereka membawanya? Bukannya itu kebutuhan sehari-hari mereka?

Yesus ingin mengatakan kalau saat Ia mengutus seseorang maka tidak perlu lagi menguatirkan banyak hal. Kalau untuk kebutuhan sehari-hari saja Tuhan akan memenuhi segala keperluan mereka, apalagi keperluan yang lain. Gak perlu kuatir! Lakukan saja panggilan kita dengan setia.

Belakangan ini aku kuatir akan banyak hal, tetapi pasal ini mengingatkanku betapa Tuhan itu setia. Gak perlu mengkuatirkan banyak hal. Saat Dia utus kita maka Dia akan memperlengkapi apa yang kurang.

Tuhan,  Engkau tahu isi hatiku,  Engkau tahu kekuatiranku. Terima kasih untuk FirmanMu ya Tuhan, aku gak mau kuatir. Aku percaya Tuhanlah yang akan memenuhi segala keperluan kami. Amin

Kasongan,  9 Juni 2017
-Mega Menulis-

No comments:

blog comments powered by Disqus

FoLLoWeRs