.....apa saja yang terpikirkan,yang jadi perhatianku, kehidupanku, pengalaman(ku dan orang lain), apa yang kusukai, apa yang tidak kusuka,apa yang ingin kubagikan, apa yang menyentuhku,apa yang tidak ingin aku lupakan, yang menginspirasiku, yang menolongku, menguatkanku, dan berarti buatku.

Dan di atas segalanya, perjalananku bersama Yesusku, saat-saat aku belajar berjalan bersama-Nya, bergantung sepenuhnya kepada-Nya,menikmati pemeliharaan dan kasih-Nya yang sempurna atas hidupku.

Thursday, October 11, 2012

Single On Mission-Pelayanan Pendidikan


Seorang ibu berusia 51 tahun, Ibu Novi Astuti Y.L  telah melayani di Papua, tepatnya di Kabupaten Yahukimo sebagai tenaga administrasi di Sekolah Kristen Anugerah Dekai yang didirikan Forum Pelayanan Papua (FPP) sejak tahun 2007. Selain tugas utamanya sebagai tenaga administrasi, dia juga mengajar apabila ada guru-guru yang berhalangan di sekolah tersebut. Kesaksiannya selama melayani di sana sungguh memperkaya hidup saya (Mega), sungguh suatu kehormatan dan sukacita mengenal ibu Novi ini.
Berikut sedikit perbincangan saya dengannya.

Mega : Bu Novi, sejak kapan berada di Yahukimo? Dan apa saja yang dikerjakan di sana?
Bu Novi : Pertama kali kami membuka sekolah TK tahun 2007 di Yahukimo,  tetapi karena saya sakit, saya kembali ke Jawa. Tapi bulan Januari tahun berikutnya saya kembali ke sini untuk mengerjakan ekonomi, kami membina putra daerah untuk menjadi pedagang, dan itu saya kerjakan selama 2 tahun. Sekolah tetap jalan, teman-teman lain yang mengerjakannya. Sampai 2010, masalah ekonomi selesai, pada bulan Juni saya mulai ditempatkan di sekolah sebagai tenaga administrasi.

Mega : Mengapa pada awalnya yang didirikan TK bu?
Bu Novi : Karena kami berpikir ini kan meletakkan landasan, dan landasan harus dimulai dari nol, dari awal sekali. Nah, sekolah kami ini semua mata pelajarannya diintegrasikan dengan Firman Tuhan. Kami berpikir harus mulai TK, karena kalau kami mulai dari SD, murid-murid awalnya tidak terlalu memahami. Pada awal 2007 itu, kami mendapatkan siswa dengan masuk ke hutan-hutan, karena kami ingin putra daerah yang menjadi siswa sekolah ini. Sehingga komposisi siswa di sini 80 % adalah putra daerah, 20 %nya lagi yang Muslim dan pendatang.

Mega : Ada berapa siswa yang diajar di sekolah ini bu?
Bu Novi : Pada awalnya Cuma 20  orang, itupun belum ada TK A atau B, yang penting kami terima dulu. Sekarang ada 8 kelas di sekolah ini, TK A  1 kelas, TK B 2 kelas, dan 5 kelas SD, dari kelas 1 sampai dengan kelas 5.

Mega : Bagaimana dengan jumlah tenaga pengajar di sana?
Bu Novi : Sekarang kami memiliki 12 pengajar. Sebagian besar dari Forum Pelayanan Papua. Tapi kami juga mulai merekrut putra daerah dan mengajarkan mereka mengintegrasikan pelajaran dengan Alkitab, ada 2 orang guru dari Papua.

Mega : Menurut ibu, apa yang membedakan sekolah ini dari sekolah biasa?
Bu Novi : Visi kami bukan untuk menjadikan anak nomor 1 dan pandai saja, tapi juga yang takut Tuhan. Karena kami berpikir kalau mereka menjadi pemimpin, mereka harus menjadipemimpin yang takut Tuhan dan tidak Cuma pandai. Kalau Cuma pandai, bisa saja mereka menjadi pemimpin yang koruptor besar to? Dan kami tidak ingin itu terjadi. Kami ingin mereka menjadi pemimpin Papua yang takut Tuhan. Kemudian, hal lain yang membedakan, masalah mengintegrasikan Alkitab.

Mega :  Bagaimana bu mengintegrasikan Alkitab dengan pendidikan atau kurikulum biasa?
Bu Novi : Kami juga mengacu pada kurikulum biasa, hanya pada setiap pelajaran kami selalu mengingatkan bahwa Tuhan tetap berperan. Misalkan di pelajaran Matematika, di situ kami ingatkan mereka untuk teliti, karena Tuhan kita teliti to? Contohnya waktu Tuhan memerintahkan Nuh membuat bahtera, Dia memberikan ukuran-ukuran bahtera itu sekian hasta lebar dan panjangnya dengan teliti to? Belajar matematika bukan sekedar bisa hitung-hitungan, tapi juga mengingatkan Allah kita demikian teliti. Di matematika kalau tidak teliti, bisa salah kan kalau salah sedikit saja?

Mega : Wowwww...!!! Saya jadi ingin sekolah lagi lho bu. Mengajar itu menarik ya ternyata bu? ^^ Bahkan saat mengajar pelajaran formal pun kita bisa menyelipkan pengajaran tentang Alkitab, bisa bercerita, “Tuhan itu seperti ini lho...” Wowwww...!! Asyik banget ibu.
Bu Novi : Iya Megaaa....Dari mengajar anak-anak, kita bisa belajar banyak lhooo....

Mega : Apakah ada hukuman bu di sekolah?
Bu Novi : Oh, adaaaa...Di sini ada punishment dan reward. Jadi jika ada anak-anak yang rajin atau bersikap baik, kami berikan hadiah kecil yang menarik. Kalo punishment, yang penting mereka tidak keluar kelas, jadi misalkan mereka dihukum berdiri di dalam kelas, mereka masih bisa mengikuti pelajaran. Ada kan anak-anak kecil yang suka lari-lari sewaktu pelajaran, kursinya kami ambil, jadi selama pelajaran tidak bisa duduk, hahahahaha

Mega : Ada-ada saja ya bu.... Bu Novi, kok mau sih ke Papua? Apa yang mendorong ibu melayani di Papua?
Bu Novi : Sebenarnya waktu SMP saya pernah ikut KKR, kemudian memang rindu pelayanan ke Papua sejak itu. Tapi seiring berjalannya waktu, saya mulai melupakan itu. Terutama karena tidak mendapat jalan ke sini. Tapi suatu ketika, seorang kawan saya yang menjadi dokter di Papua, sharing pada saya, dan kerinduan itu muncul lagi. Dokter ini yang memperkenalkan saya pada FPP. Saya rindu berbagi di Papua juga karena banyak membaca buku tentang Papua, saya tahu Papua daerah tertinggal, dan saya ingin sekali melayani di sini. Membagikan apa yang saya punya. Jadi, Tuhan perkenalkan saya kepada FPP, saya anggap ini jalan bagi saya.

Mega : Ibu, kok tahan sih di sana? Padahal saya dengar sering ada konflik kan di sana?
Bu Novi : Selama ini saya merasa oke-oke saja. Pernah sih suatu kali ada ribut-ribut. Tembakan berdesing di luar sekolah, tapi pada saat bersamaan ada kerusuhan di daerah Temanggung, Jawa Tengah. Gereja Tuhan dianiaya di sana, dan keponakan saya yang disana tidak bisa kemana-mana. Saat itu hati saya ngeri dengan apa yang terjadi di sini, tapi lebih ngeri lagi memikirkan keponakan-keponakan saya yang disana. Saat saya berdoa sampai menangis, saya merasakan bahwa tidak ada tempat yang lebih aman di dunia ini selain di tangan Tuhan. Ya sudah, dimanapun kita, berserah saja kepada Tuhan.

Mega : Hmm.... Iya bu ya, tidak ada tempat yang lebih aman di tangan Tuhan. Lalu,bagaimana respon pemerintah dan masyarakat terhadap sekolah ini?
Bu Novi: Wah...positif sekali Mega. Banyak orang tua yang ingin memasukkan anaknya di sekolah ini, sampai-sampai yang tidak diterima mengamuk lhooo..... Pemerintah juga mendukung dan memberikan dana BOS untuk sekolah ini.

Mega : Wah, dapat dana BOS juga ya bu, luar biasa berarti ya dukungan pemerintah. Bagaimana dengan sumber dana lain bu, apakah ada?
Bu Novi : Ada. Selama ini kami mendapatkan dana utama dari Forum Pelayanan Papua, yang mendapatkan dananya dari gereja-gereja yang ada di Pulau Jawa, sekolah juga memungut iuran seperti sekolah lainnya. Itu sumber dananya. Bantuan-bantuan dari gereja diperuntukkan untuk biaya hidup kami di sini. Biaya di sini kan mahal sekali Mega. Sekali makan nasi dengan ayam dan sedikit sayur saja sampai Rp. 25 ribu looo....

Mega : Apakah ada rencana untuk menambah kelas sampai SMP?
Bu Novi : Rencana awal sih membangun sekolah sampai SMA, tetapi melihat perkembangan, sepertinya kami hanya akan sampai SD saja, tetapi kami akan fokus.

Mega : Apa yang diharapkan dari keberadaan sekolah ini bu?
Bu Novi : Kami berharap sekolah ini bisa berlanjut dan menjadi model bagi sekolah-sekolah lain di Papua, sehingga mendorong guru-guru yang ada di Papua memiliki kesungguhan hati ketika mendidik anak-anak. Karena banyak yang statusnya di sini, tapi secara fisik tidak ada di sini. Kami rindu supaya teman-teman pengajar dari sekolah lain di sini berada di tempat  dan mendidikr anak-anak. Dan anak-anak kami bisa tumbuh pintar dan jauh lebih penting lagi takut akan Tuhan. Itu saja harapan kami.

Mega : Bu, selama hidup di sana, adaptasi-adaptasi bagaimana yang harus ibu lakukan? Kan di sana sepi ya bu? Tidak seperti di Jawa?
Bu Novi : Adaptasi harga Megaaaa, hahahahaha, biaya hidup di sini mahal. Tapi lama-kelamaan, kami terbiasa. Kalau masalah sepi, bagi saya secara pribadi, walaupun aslinya saya suka jalan-jalan, tetapi karena karunia Tuhan, selama di sini saya tidak merasa stres dengan masalah sepi ini. Hiburan saya adalah membaca buku, jadi asal ada buku tahan saja, biarpun tidak ada mall, hahahaha....

Mega : Ibu, dulu kan ibu punya kerinduan melayani di Papua sejak SMP, terus ternyata baru Tuhan wujudkan pada umur 46 tahun. Pernah gak sih bu, bertanya ke Tuhan,”Tuhan, kok baru sekarang ya saya ke Papua?”
Bu Novi : Pernah donggg....Dan sekarang saya merasakan Tuhan kirimkan saya ke sini untuk sekolah loooo.Bukan sekedar melayani. Saya ke sini bukan untuk mengajar saja  Mega. Saya ke sini untuk sekolah. Sekolah kesetiaan, sekolah kesabaran, banyak sekali pelajaran yang Tuhan berikan kepada saya di sini. Dan saya bersyukur diberi Tuhan kesempatan belajar di sini. Saya sungguh-sungguh merasakan dulu belajar Firman Tuhan  dan pelayanan di Jawa, belum merasakan benar-benar Tuhan beker ja di situ. Nah, di sini saya betul-betul merasakan pimpinan Tuhan, dan di sini saya benar-benar gak bisa mengharapkan orang lain selain Tuhan. Saya merasakan benar-benar belajar di sini.

Mega : Bagaimana reaksi keluarga sewaktu ibu memutuskan ke Papua bu?
Bu Novi : Pada awalnya bapak saya tidak setuju Mega, bapak saya kan Muslim,sudah sepuh juga, ibu saya sudah meninggal. Tetapi ketiga orang kakak saya mendukung, dan mereka mengatakan,”Kalau kamu terbeban untuk pelayanan ini, pergi”. Dan sampai sekarang mereka terus mendukung, saat saya mengeluh beratnya pelayanan di sini,”Coba kamu renungkan, kalau kamu ke sana karena dipanggil Tuhan, pasti Tuhan menguatkan kamu”. Kakak saya yang kedua juga sering mengirimkan ayat-ayat Alkitab yang menguatkan saya. Dan sekarang ayah saya juga sudah merelakan saya melayani di sini.

Mega : Masih ada gak bu perekrutan dari FPP untuk mencari tenaga pengajar di sana? Siapa tahu ada teman-teman pembaca Majalah Pearl yang punya kerinduan untuk melayani di Papua.
Bu Novi : Masih Mega. Senang sekali bila ada teman-teman yang ingin bergabung. Bagi teman-teman yang punya kerinduan melayani di Papua bisa menghubungi :
Forum Pelayanan Papua
Jl. Gunung Batu No.201
Ruko Maple Kav. B
Bandung 40175
Contact Person: Bapak Hery Kristian (08122044818)

Mega : O, iya bagi teman-teman yang ingin ikut mengajar di sana, latar belakang pendidikannya harus pengajar atau bukan bu?
Bu Novi : Kerinduannya memang yang memiliki latar belakang pendidikan pengajar. Tapi jika tidak pun tidak apa-apa, yang terpenting sarjana dan hatinya untuk pelayanan ke Papua, itu yang nomor satu.

Mega : Apa bu persyaratan mengikuti pelayanan ini?
Bu Novi : Ada training yang harus diikuti dan jika telah mengikuti training dinyatakan lolos, ada kontrak dengan pihak FPP untuk melayani selama 2 tahun di sini.

Mega : Pertanyaan terakhir bu, apa sukacita terbesar yang ibu rasakan di sana?
Bu Novi : Sukacita terbesar saya adalah waktu melihat mata anak-anak itu berbinar sewaktu diajar,waktu melihat mereka senang diajar, orang tuanya juga senang, itu paling senang sekali. Apalagi melihat orang tua yang senang melihat anaknya bisa membaca, dari awalnya yang tidak bisa berbahasa Indonesia, wahhhh...saya senang sekali.

Mega : Bu Novi, terima kasih banyak bu. Saya sangat diberkati dengan kesaksian ibu. Terima kasih bu. Tuhan Yesus memberkati.

Girls, selama wawancara dengan Bu Novi, saya merasa sangat bersukacita \(“,)/ Tertular semangat Bu Novi nih.... Dengan umurnya yang sudah separuh abad, dia begitu bersemangat menjawab setiap pertanyaan saya, dan sukacitanya melayani Tuhan di Yahukimo begitu nyata bagi saya. Ahhh, Tuhan aneh ya, di umur 46 tahun seorang wanita  baru dipanggilNya melayani ke Papua, padahal ibu ini sudah punya kerinduan sejak SMP coba. Tapi waktu Tuhan selalu tepat, Dia tidak terlambat, Dia penuhi hasrat ibu ini melayani di Papua. Dan yang luar biasa lagi, Bu Novi memenuhi panggilan Tuhan. Dia tidak menggunakan usianya sebagai alasan untuk tidak pergi. Saat Tuhan bukakan jalan, dia berjalan dengan sukacita menuju tanah yang dirindukannya sejak SMP. Ahhhhh......Sungguh kesaksian yang luar biasa. Saya diberkati mengenal Bu Novi dan diizinkan mendengarkan kesaksiannya. Tuhan berkarya luar biasa.

Saat Tuhan memanggil kita, Tuhan tidak main-main dengan panggilanNya. Dia sendiri yang akan memperlengkapi kita dengan apapun yang kita perlukan. Berapa pun usia kita, bagaimanapun keadaan kita, tidak ada yang mustahil jika Dia ingin memakai kita. Dia hanya melihat hati kita. Apakah hati kita siap diutusNya? Maukah kita memenuhi panggilanNya?

Ini aku, utuslah Tuhan
Ini aku, utuslah Tuhan
Ke mana pun Kau pimpin
Ke negeri yang Kau pilih
Ini aku utuslah Tuhan
Dan ku kan pergi

Lalu aku mendengar suara TUHAN berkata: Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku ?” Maka sahutku: “ Ini aku, utuslah aku!” Yesaya 6:8

-Mega Menulis-

*Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Pearl  Edisi 12*


No comments:

blog comments powered by Disqus

FoLLoWeRs