Posts

Showing posts with the label kemarahan

Sedikit tentang Marah Berjenjang dan MUSA

“Kadisku yang dulu enak banget. Gak ada tuh ceritanya dia marah-marahin staf kalau salah mengerjakan sesuatu. Yang dimarahin atasan stafnya dulu. Baru nanti atasan staf tersebut marah ke stafnya, jadi berjenjang marahnya”, ucap seorang kawanku. Abangku yang juga mendengar hal tersebut mengiyakan,”Emang seharusnya seperti itu pimpinan yang benar. Jadi ada tanggung jawab juga tuh mereka yang punya jabatan”.

Marah Itu Pilihan

Bahagia itu sederhana. Kalimat ini jadi tema statusku dan beberapa kawan saat mengikuti kuis yang diadakan oleh Morris. Dan aku bersyukur mengikuti kuis itu,membuatku menyadari kalo bahagia itu gak cuma sederhana,sesederhana saat kita memutuskan buat bahagia. Bahagia itu keputusan.

tentang KESABARAN dan KEMARAHAN

Image
Mari lihat ini :

1 Korintus 13:5

Peringatan:Postingan ini panjang looo.... ^^ Menghapal dan merenungkan FirTu tentang kasih pada bulan ini, setiap hari aku diajak membandingkan diriku dengan apa yang Tuhan harapkan dalam FirTu. Seperti aku dihadapkan pada model yang sempurna-model KASIH, yang Tuhan inginkan aku menjadi. Dan semakin dipandang,diamati KASIH ini, lalu memeriksa diri, semakin menyadari kalau aku masih jauh dari apa yang Tuhan inginkan.

Aku Maraahhhhh..!!!!

Image
“AKU MARAAHHHH.....!!!” Hahahahaha, pernah ga gitu? Marah yang sampe pengen makan orang!!! Gkgkgkgkgk Owww, sering tah? ^^ Dulu, aku memandang marah tu sebagai emosi yang negatif banget, jadi aku berupaya sebisa mungkin menekan amarahku. Kalo marah ma orang aku lebih memilih diam daripada ngomel-ngomel gak jelas. Males banget kalo marah ngomong langsung ke orangnya, mending diam dah. Soalnya kalo marah trus ngomong langsung, aku bisa pake acara nangis lo! Aneh kan? Udah diam aja pikirku. Ntar lama-lama reda sendiri, dan ilang, gitu deh pikirku. Benarkah amarahku ilang? SALAHHHH....!!!! Aku bagai bom waktu yang siap meledak, tinggal nunggu waktunya aja. Tik...tik...tik.... DUAAARRR!!!!! Ya iya lah, numpuk...pukkk....pukk... Makin terakumulasi lah ‘alasan-alasanku’ marah (karena masalah yang seblomnya blom selese), dan udah ga kuat lagi, meledaklah!!! Itu yang pernah aku alami *curhat* Kenapa aku memilih diam kalo marah? Nih alasanku (dulu) : Aku mau tu orang nyadar kalo aku marah...

LisTeNing

Tuhan menyuruh kita untuk mendengarkan. “Setiap orang hendaklah cepat mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah!” (Yakobus 1:19). Untuk beberapa orang (termasuk aku) , pengaturan kata-kata untuk ayat ini sering dirubah – “Lambat mendengar, cepat berbicara dan cepat marah.” Apa hubungan antara tidak mendengar dan marah? Ketika kita tidak mengambil waktu untuk benar-benar mendengarkan apa yang seseorang katakan, kita bereaksi atas hal pertama yang mereka ucapkan dan tidak menunggu sampai kita benar-benar mengerti apa yang mereka hendak mereka sampaikan. Pendengar yang baik berusaha untuk mendengarkan hati si pembicara di balik perkataan yang sedang mereka ucapkan, kebutuhan mereka. Orang-orang yang lebih suka berkata-kata kebanyakan memperoleh informasi yang tidak lengkap, dan hanya apa yang di permukaan saja. Tidak mendengarkan, tidak ada pengertian. Tidak ada pengertian, kesimpulan yang salah – dan kemarahan. Ada beberapa hal yang dapat k...