.....apa saja yang terpikirkan,yang jadi perhatianku, kehidupanku, pengalaman(ku dan orang lain), apa yang kusukai, apa yang tidak kusuka,apa yang ingin kubagikan, apa yang menyentuhku,apa yang tidak ingin aku lupakan, yang menginspirasiku, yang menolongku, menguatkanku, dan berarti buatku.

Dan di atas segalanya, perjalananku bersama Yesusku, saat-saat aku belajar berjalan bersama-Nya, bergantung sepenuhnya kepada-Nya,menikmati pemeliharaan dan kasih-Nya yang sempurna atas hidupku.

Thursday, April 11, 2013

Tentang Rumahku, Menikah dan Melajang



Married or not to be Married?, judul tulisan Nita yang terbaru membuatku tersenyum. Mengingat kejadian setahun yang lalu, aku membaca buku berjudul Haruskah Aku Melajang, dan beberapa kawanku menertawakanku. Pikir mereka, aku sedang berputus asa kali ya, secara umurku saat itu 27 tahun dan belum juga merit (eh, sekarang juga blom looo...gkgkgk), boro-boro merit, wong punya pacar aja belum kok waktu itu, pantaslah ya mereka prihatin.  Bukannya aku gak pernah berpikir melajang ya,awal-awal hubunganku dengan seorang pria berakhir, hasrat (halaahhhh) untuk melajang ini semakin kuat, rasanya kapok jatuh cinta (yaelah, melow banget sih daku). Pokoknya...Lebay-lebay syalala gitu deh.



Dan saat aku mulai berdamai dengan kenyataan kalau pria yang meninggalkanku bukan pria yang tepat, pikiran untuk melajang hilang, pikiran untuk menikah pun hilang. Nah lho, gimana maksudnya? Maksudnya ialah, aku emang gak mikirin lagi hal melajang or merit ni. I enjoy my life ajahhhh. Mulai merasa utuh dan puas di dalam Tuhan Yesus walaupun gak punya pacar. Beberapa keputusan aku ambil tanpa mempertimbangkan aku bakal menikah suatu hari nanti. Pokoknya melakukan banyak hal yang mungkin gak akan kulakukan seandainya aku punya rencana merit dalam beberapa tahun. Apa yang baik dan benar menurut Tuhan, ya itu aja yang aku lakukan.

Salah satu keputusan yang aku buat tanpa mempertimbangkan aku menikah apa gak adalah keputusanku mengambil kredit rumah. Pada waktu itu menurutku rumah adalah hal yang sangat kubutuhkan, aku berdoa, Tuhan buka jalan, dan selanjutnya aku memiliki rumah kredit, hahahaha. Banyak yang bilang, yang kulakukan itu hal bodoh, ada beberapa kawan yang bilang:
“Ngapain beli rumah? Itu kan tugas suami, keenakan suamimu dunk ntar...” (Dan aku malah heran orang ngomong gini, lah namanya tar suami istri tu jadi 1, kalo suami enak ya aku enak dunk. Lagian gak mungkin aku ntar memiliki suami yang gak bekerja.)
“Gimana nanti kamu kalau menikah, uangmu dah habis buat uang muka rumah? Biaya dari mana?” (Yah, emang si gaji PNS kecil, wajar aja ada yang ngomong gitu. Tapi ya, kalo misalkan Tuhan ingin aku menikah, masa sih dia gak sediakan dana untukku menikah? Hahahaha.)

Kenapa juga sih, keputusanku punya tempat bernaung harus tergantung pada aku akan melajang ato merit. Funny, isn’t it? Waktu itu aku mikirnya, okey, dah hampir 3 tahun aku tinggal ikut tanteku, tanteku baik dan aku gak punya masalah dengannya, aku betah banget di rumahnya (terlalu betah malahan), Cuma aku mau mandiri dunk, masa kuliah bareng eyang, trus dah kerja pun ikut tante. Kenapa gak kos Meg? Lah, coba dipikir, aku keluar rumah tanteku Cuma buat ngekos, apa kata orang dunkkkk, dikira ada alasan yang gak baik aku pindah. Lagian, bayar kos setiap bulan paling gak 300-500 ribu, kalo ambil rumah tinggal nambah sedikit, 15 tahun (alamakkkk, lama amat ya...) kemudian aku punya rumah sendiri. Nah, kalo kalian jadi aku, keputusan paling logis ambil rumah ato gak? Emang sih, tabungan habis gara-gara bayar uang muka, tapi sampai sekarang aku gak menyesal tuh.

Asli dah...menjalani hidup tanpa mikir bakal merit ato gak tuh menyenangkan banget. Aku mulai gak terlalu peduli dan ngurusin apa kata orang tentang diriku yang masih single. Eh, tapi kadang heran juga sih melihat tatapan kasihan bin prihatin dari mereka yang dah merit melihat diriku yang blom merit, seakan-akan aku orang ternista di dunia, hahahahaha. Oke, aku lebay. Well, ini aneh, seolah-olah kebahagiaan terbesar adalah merit dan yang gak merit tu gak bahagia, gkgkgkgk. Padahal, buatku pribadi ya, kalau aku waktu single berbahagia, bukankah waktu merit aku juga akan berbahagia juga. Kebahagiaanku gak tergantung statusku. Kebahagiaanku adalah karena aku hidup di dalam Tuhan dan merasa utuh di dalam dia,single or double.

Tanpa harus mikir merit apa gak, kapan dan segala tetek bengek lainnya, aku jadi punya banyak waktu untuk mengerjakan mimpi dan keinginanku, serius. Harus aku akui, ini nampaknya (dan awalnya) pikiran orang yang mau menghibur diri, hahahaha. Tapi ini beneran kok. Dulu, waktu aku terlibat hubungan dengan seorang pria, aku menunda keinginanku untuk punya rumah looo...dan itu sungguh kusesali. Aku melewatkan kesempatan memiliki banyak hal gara-gara “menabung” untuk menikah. Menyesal banget kan? Bukan berarti aku menghabiskan tabunganku pasca hubunganku berakhir ya, tetap aja berhikmat memakai uang. Tapi selagi belum menikah, aku menikmati apa yang bisa aku nikmati saat ini.

Menikah itu karunia, melajang pun juga. Tidak ada yang salah dengan melajang, begitu juga dengan menikah. Paulus melajang, Abraham menikah. Gak ada yang salah. Gak ada yang lebih bahagia. Semua memiliki sukacitanya masing-masing. Semua memiliki masalahnya masing-masing. Semua memberi kita kesempatan bertumbuh makin serupa dengan Kristus, jika kita mau mengambil kesempatan itu. Yang single tidak perlu iri dengan yang menikah, demikian sebaliknya. Nikmati aja peran yang Tuhan berikan pada kita masing-masing. Berbahagialah tanpa tergantung status.

Setuju dengan Nita, aku juga dah sampai pada fase gak tertekan lagi dengan omongan orang lain. Selama aku mengalami kepenuhan di dalam Tuhan, aku pastinya merasakan damai sejahteraNya, melajang or merit. Kalo mau jujur, banyak lo orang yang merit dan masih-masih berandai-andai, “Coba aku gak menikah, coba aku masih single, aku bisa....”. Kupikir salah satu penyebabnya adalah waktu single dia gak maksimal, jadi kebayang-bayang deh mimpinya or keinginannya, lalu deh mengharapkan yang gak mungkin-being single again. Nah, sayang banget kan kalo seperti ini. Kehidupan menikah yang berbahagia gak bisa dijalani gara-gara ada hal yang belum dia lakukan waktu single. Kehidupan pernikahan adalah kehidupan yang pastinya punya tanggung jawab yang lebih besar daripada sebelum menikah. Jangan lupa, dipercaya banyak berarti dituntut banyak. Jadi, enjoy every season in your life aja dah...! Ada hal-hal yang gak bisa kita nikmati waktu musim berganti, jangan menyia-nyiakan waktu dengan mengharapkan keindahan di musim yang lain saat kita sedang mengalami musim tertentu,tiap musim punya keindahannya masing-masing kok ^^ Selamat menikmati musimmu.

Kasongan, 11 April 2013
-Mega Menulis-


8 comments:

Asyiknya Menulis said...

ye ye ye. aku merasa diberkati dengan postingan ini. Yah, sama aku juga kadang mengalami hal2 seprti itu disaat-saat ini, well banyak yg kudapat dari jawabannya. memberi diri lebih lagi untuk pelayanan :)

Mega said...

Betullll....memberi diri lebih lagi untuk melayani. kalo dah berkeluarga, pastinye fokus kita melayani keluarga yang dipercayakan sama Tuhan d^^b

Stephanie Gunawan said...

Like this Mega!! :)

Mega said...

Stephanie : tengkyuuuu...^^

Lasma Frida said...

"Lagian, bayar kos setiap bulan paling gak 300-500 ribu, kalo ambil rumah tinggal nambah sedikit, 15 tahun (alamakkkk, lama amat ya...) kemudian aku punya rumah sendiri. Nah, kalo kalian jadi aku, keputusan paling logis ambil rumah ato gak?"

Suka banget sama kalimat ini. Akakakakka.... Emang kadang2 cewe kurang realistis. kudu belajar sama cowo soal logika dan masuk akal.

Mega said...

Lasma : betul banget, kita sering banget ngambil keputusan berdasarkan emosi sesaat, ato feeling doang, kadang perlu niru cowok yang logis dan mikirnya panjang gitu, jadi terhindar dari melakukan hal yang bodoh.

marthavina said...

hidup melajang...:D , hidup juga dah yg merit xi..xi..Mega izin share yak...

Mega said...

Yeeee....Hidup semuaaaa \(",)/ Monggo dishare mbak ^^

blog comments powered by Disqus

FoLLoWeRs