.....apa saja yang terpikirkan,yang jadi perhatianku, kehidupanku, pengalaman(ku dan orang lain), apa yang kusukai, apa yang tidak kusuka,apa yang ingin kubagikan, apa yang menyentuhku,apa yang tidak ingin aku lupakan, yang menginspirasiku, yang menolongku, menguatkanku, dan berarti buatku.

Dan di atas segalanya, perjalananku bersama Yesusku, saat-saat aku belajar berjalan bersama-Nya, bergantung sepenuhnya kepada-Nya,menikmati pemeliharaan dan kasih-Nya yang sempurna atas hidupku.

Wednesday, July 15, 2015

Sacred Marriage



Kak Nugie dan istrinya menghadiahkan buku Sacred Marriage dan devotionsnya (YESSSS!!! Dua bukuuuuu..\(“,)/ So happy. Hehehehe) untukku dan abangku sebagai hadiah pernikahan. Walau aku belum selesai membacanya, aku merekomendasikan buku ini bagi mereka yang ingin menikah, akan menikah, dan telah menikah. Bagusss bangeettttt d^^b Kalimat-kalimatnya jleb jleb jleb banget deh. Makasih Kak Nugie dan Mbak Tari, we are so blessed \(",)/



Di sampulnya aja (depan dan belakang), kita diizinkan ‘mengintip’ isi buku ini, cekidot:
Bagaimana seandainya Tuhan merancang pernikahan lebih untuk menguduskan kita daripada untuk menyenangkan kita?
Pernikahan anda lebih dari sebuah perjanjian yang kudus dengan seseorang?
Pernikahan anda adalah disiplin rohani yang dirancang untuk menolong anda mengenal Tuhan lebih baik memercayai-Nya lebih penuh dan mengasihiNya lebih dalam.
Kali ini aku akan share hal-hal yang yang aku pelajari dari buku ini ^^

Para bapa gereja mula-mula setidaknya sependapat bahwa tujuan utama pernikahan adalah memberikan analogi tentang rekonsiliasi, yaitu menjadi suatu model yang menunjukkan hubungan Kristus dengan jemaat-Nya. Rasul Paulus membahas tema ini dengan jelas dalam suratnya kepada jemaat di Efesus (Efesus 5:22-33).


Salah satu pemikir Kristiani dalam sejarah, yaitu Agustinus (354-430 Masehi), berpendapat bahwa ada tiga berkat dari pernikahan: keturunan, iman (kesetiaan) dan sakramen. Dari ketiga hal tersebut, menurutnya sakramen adalah berkat terbesar. Orang masih mungkin menikah tanpa memiliki keturunan atau iman, tetapi tidak mungkin bisa menikah tanpa memiliki komitmen yang permanen, yang ditunjukkan melalui sakramen. Selama sepasang suami istri masih dalam status menikah, mereka masih terus menjadi sarana yang menunjukkan-meskipun jauh dari sempurna-komitmen antara Kristus dengan jemaat-Nya. Sebab itu, mempertahankan keutuhan pernikahan sangatlah penting. (Sacred Marriage, Gary Thomas, hal.37)


Membaca bagian itu, aku mengangguk-angguk namun juga berpikir demikian, iya….ya…sakramen inilah-komitmen untuk menjadi sarana yang menunjukkan hubungan Kristus dengan jemaatNya inilah yang membuat pernikahan menjadi berbeda. Orang-orang bisa saja memiliki anak tanpa menikah, orang-orang bisa saja hidup bersama dan setia walaupun tanpa mengucapkan komitmen (seperti dilakukan banyak orang yang hidup bersama tanpa menikah) TAPIIIII….pemberkatan nikah yang sesungguhnya adalah komitmen pria dan wanita untuk menjadi sarana yang menunjukkan hubungan Kristus dan jemaatNya.

Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan,karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu.Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya. Efesus 5:22-25

Ayat ini kalau aku bilang indah namun mengerikan, hahahaha. Abangku protes saat kami berdiskusi dan aku bilang mengerikan tapi ya gimana sih, emang ngeri-ngeri sedap ^^’ Indahnya karena kami membayangkan betapa banyaknya orang diberkati saat melihat kehidupan pernikahan yang menjadi gambaran yang jelas bagaimana hubungan Kristus dan jemaatNya, suami yang mengasihi istrinya dan rela mengorbankan segala kenyamanannya demi istrinya, istri yang mau tunduk dan taat pada suami dalam segala sesuatu, suami dan istri yang saling setia, suami dan istri yang tetap bersama walaupun di tengah segala kesulitan, suami istri yang begitu intim hingga tidak ada lagi rahasia di antara mereka, indah bukan?

Nah, bagian mengerikannya adalah hal tersebut tidak otomatis terjadi. Suami istri harus bekerja keras mewujudkan semuanya itu. Secara, dengan Tuhan yang kita tahu baik dan luar biasa mengasihi kita aja, kita sulit untuk taat dan tunduk,wong setiap hari kita mendukakannya, sengaja maupun tidak sengaja. Apalagi pada suami yang kita tahu gak sempurna, dan kita sudah tahu jelek-jeleknya *sigh* Begitu juga dengan suami, tentunya bukan hal yang mudah mengasihi istri apapun yang terjadi, apalagi saat istri sedang tidak cantik. No, ini bukan tentang cantik fisik, tapi istri seringkali jadi makhluk paling ndablek di seluruh dunia, bukannya menjadi penolong malah perongrong, belum lagi si istri yang seharusnya menjadi penyemangat suami malahan mengeluh dan tidak tahu bersyukur padahal suami sudah bekerja keras demi keluarganya. Mengerikan, karena membuatku bertanya-tanya, sanggupkah abangku berlaku seperti Kristus yang senantiasa mengasihi dan berkorban bagiku, sementara aku istri yang (harus jujur kuakui) sulit sekali untuk tunduk, fiuhhh… Kami berdua perlu belajar mengasihi tanpa syarat seperti Kristus mengasihi kami. Aku perlu belajar tunduk dan percaya pada abangku sebagaimana aku perlu tunduk dan percaya pada Kristus, kedua-duanya sama sulitnya. Sulit karena aku lemah dan egois, karena aku menganggap diriku benar. Sulit untuk tunduk dan percaya sepenuhnya. ARRGGHHHHH…Ini perjuangan kami seumur hidup deh. Hanya Kristus yang memampukan, kalau dengan kekuatan sendiri mending lambaikan tangan ke kamera deh :p

Suami istri tentunya tahu betapa hal ini tidak mudah dilakukan. Di awal-awal menikah, sekali atau dua kali mungkin kita masih dapat berkompromi, mengampuni, tapi…lama-kelamaan kita merasa bosan dengan pengorbanan yang kita lakukan. Mengapa kita harus mengasihinya? Mengapa kita harus selalu mengampuni pasangan? Mengapa kita harus bertahan dengan seseorang yang menyebalkan ini?  Karena Tuhan menginginkannya, sesimple itu. Tapi apakah kita juga menginginkannya? Tentu saja ingin. Siapa sih yang tidak ingin. Tapi menginginkannya sebesar Tuhan menginginkannya tidak mudah. Kembali, kita harus mengusahakannya-menjadikan pernikahan kita sarana memuliakan Tuhan dan menyenangkan hatiNya, bahkan jika itu membuat kita merasa tidak nyaman atau menderita. Kalau ingin hidup nyaman tanpa derita, well…mungkin sebaiknya kita tidak usah menikah. Pernikahan melibatkan dua orang dewasa yang begitu mengasihi sehingga bersedia berkorban demi satu sama lain. Pernikahan melibatkan dua orang yang berkomitmen untuk tetap bersama apapun terjadi.

Jika pernikahan hanya bertujuan mendapatkan keturunan atau hanya untuk hidup bahagia, tentunya tidak mengherankan jika banyak pernikahan yang tidak bertahan alias cerai. Atau, kalaupun bertahan, maka penyebabnya hanyalah keterpaksaan, ‘terlanjur’ katanya, apa kata keluarga dan orang lain jika sampai bercerai? Di luar rumah, pernikahan terlihat baik-baik saja, orang lain melihat suami istri sebagai pasangan yang mesra, tapi ternyata di rumah suami istri saling berkata sinis, tidak ada keintiman, tidak ada kasih. Ini bukanlah gambaran hubungan Kristus dan jemaat yang kita inginkan, ya kan?

Semoga aku dan abangku sungguh-sungguh menyenangkan Tuhan dan memuliakanNya dalam kehidupan pernikahan kami. Semoga pernikahan kami sungguh-sungguh menjadi gambaran hubungan Kristus dan jemaat. Amin.

Kasongan, 15 Juli 2015
-Mega Menulis-

No comments:

blog comments powered by Disqus

FoLLoWeRs