Gak semua anak punya privilige untuk beli buku. Tapi anak bisa punya akses ke buku kalau ortunya mau mengenalkan buku ke anak. Serius. Aku anak itu. Orang tuaku jarang banget membelikan kami buku. Sesekali mereka membeli Majalah Bobo. Buku anak? Nggak. Bukan gak punya uang. Punya. Tapi bukan prioritas mereka membeli buku bacaan untuk kami. Nah, puji Tuhannya, mereka memberikan kami anak-anaknya akses ke buku dengan cara lain. Kami diantar ke tempat penyewaan buku setiap hari Sabtu atau hari libur atau ke perpustakaan daerah. Serasa ke surga kalau sudah ke book rental. Ketemu komik, novel, ah....masa kecilku sungguh indah. Begitu dewasa dan bekerja aku mulai membeli buku-buku yang aku sukai. Sempat terpikir untuk mencari buku-buku lama yang pernah aku baca untuk dikoleksi. Tapi ternyata tidak dicetak ulang. Kalau pun ada yang dicetak ulang, untuk mengoleksinya membutuhkan biaya besar. Ya sudahlah, kulepaskan keinginan itu. Sekarang aku membeli buku-buku untu...
Ulang tahun ini aku dihadiahkan transferan uang dengan amanat untuk membeli mixer, gkgkgkgk, soale aku pernah berucap pengen mixer. Ini gara-gara keseringan liat resep kue, kan rata-rata pake mixer tuh buang ngocok telur dan bahan-bahan lainnya, jadi pengen punya deh... Lah, tapi begitu udah ditransferin sendiri, jadi mikir, ngapaen beli mixer dulu, secara mau baking juga gak punya oven, huahahahaha *telat mikir*
Kemaren, Rabu 26 Maret 2014 aku mengalami banyak hal yang lumayan bikin diri ini pengen tereak ato nangis-nangis, tapi pada akhirnya gak ada drama kayak gitu :p Simak yang aku alami kemaren:
Comments