.....apa saja yang terpikirkan,yang jadi perhatianku, kehidupanku, pengalaman(ku dan orang lain), apa yang kusukai, apa yang tidak kusuka,apa yang ingin kubagikan, apa yang menyentuhku,apa yang tidak ingin aku lupakan, yang menginspirasiku, yang menolongku, menguatkanku, dan berarti buatku.

Dan di atas segalanya, perjalananku bersama Yesusku, saat-saat aku belajar berjalan bersama-Nya, bergantung sepenuhnya kepada-Nya,menikmati pemeliharaan dan kasih-Nya yang sempurna atas hidupku.

Wednesday, June 7, 2017

Amsal 16-18, Lukas 7, Amsal 7

Amsal 16:12 (TB)  Melakukan kefasikan adalah kekejian bagi raja, karena takhta menjadi kokoh oleh kebenaran.

Tahta menjadi kokoh oleh kebenaran.
KEBENARAN.
Apakah yang menjadi kebenaranku?
Yesus pernah berkata bahwa Dia lah jalan dan KEBENARAN dan hidup.
Kalau Yesus adalah kebenaranku harusnya aku tetap kokoh dong.

Apapun kondisi yang membuatku gak kokoh alias goyah, berarti saat itu aku gak menjadikan Yesus kebenaranku.
Bagaimana menjadikan Yesus kebenaranku?
Yesus seharusnya menjadi standarku dalam melakukan yang benar,karena Dia lah kebenaran itu.

Amsal 17:14 (TB)  Memulai pertengkaran adalah seperti membuka jalan air; jadi undurlah sebelum perbantahan mulai.

Untuk bertengkar memerlukan paling tidak dua orang yang berbantahan, kalau salah satu menahan diri maka tidak mungkin terjadi perbantahan. Tapi saat perbantahan dimulai pasti pertengkaran susah dihentikan.

Aku belajar diam saat aku melihat sesuatu yang menuju pertengkaran, terutama di dalam hubunganku dengan suamiku. Aku belajar menahan diri dan mendengarkan sebelum aku tahu apa maksudnya, karena kalau aku berbicara padahal belum mengerti pasti susah bagi kami untuk berhenti bertengkar.

Salah seorang om kami pernah memberi nasihat pernikahan yang sampai sekarang belum pernah kami lakukan, tapi sepertinya aku harus mulai melakukannya. Dia bilang,  kalau aku dan suami sedang marahan atau kesal,TULIS SURAT. Kenapa? Karena surat gak bisa dibantah dengan omongan, balasnya pake surat juga. Lagipula kalau menulis surat kita mikir sebelum nulisnya, bukannya seperti ngomong yang keluar tanpa mikir. Terus,yang membuat kita semakin emosi kan bantahan yang disertai nada suara tinggi, nah... Surat mana ada nadanya? ☺️ Masuk akal sih. Baiklah, aku mau coba! 💪

Amsal 7:4 (TB)  Katakanlah kepada hikmat: "Engkaulah saudaraku" dan sebutkanlah pengertian itu sanakmu,

Saudara dan sanak adalah hubungan karena darah yang begitu kuat dan gak mungkin terputuskan. Mau diakui atau tidak,  saudara ya saudara. Kebayang deh kalau aku harus menyebut hikmat dan pengertian sebagai saudaraku, berarti hubungan kami harusnya seerat itu dong.

Saat ada masalah, saat bersedih,  saat marah, saat kecewa,  saat tergoda berbuat dosa,  saat senang,  saat bosan,  saat malas,  setiap saat... Hikmat dan pengertian gak boleh aku tinggalkan. Dalam segala sesuatu yang aku alami, pengertian dan perkataan hikmat menjadi pertimbanganku dalam melakukan sesuatu.

Mulai bertanya:
Apa yang aku rasakan saat ini?
Malas.
Apa kata hikmat?
Malas adalah saudara perusak. Aku harus rajin seperti semut.
Apa yang aku lakukan seharusnya saat malas?
Mulai bergerak. Lakukan sesuatu yang berguna.
LAKUKAN MEG!💪
Orang yang berhikmat gak sekedar tahu apa yang benar tapi juga melakukan yang benar.

Lukas 7:33-34 (TB)  Karena Yohanes Pembaptis datang, ia tidak makan roti dan tidak minum anggur, dan kamu berkata: Ia kerasukan setan.
Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan kamu berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa.

Standar kebenaran orang Farisi dan Ahli Taurat adalah kebenarannya sendiri. Standar mereka bukanlah kebenaran Allah. Standar mereka ganda, mana yang menguntungkan diri mereka sendiri,  itulah yang benar bagi mereka. Bahkan saat orang lain melakukan yang benar pun bila tidak sesuai dengan apa yang mereka lakukan maka akan dianggapnya salah.

Aku gak mau seperti mereka. Aku mau hidup dengan standar kebenaran Tuhan,  apa kata firman Tuhan lah yang benar. Gak peduli berapa banyak orang melakukan, salah ya salah. Dan gak peduli sekalipun gak ada orang yang melakukan, kebenaran tetap kebenaran.  Aku gak mau menghakimi orang lain atas suatu hal yabg salah lalu aku berdiam saat melakukan yang sama.

Tuhan, berikan aku keberanian melakukan yang benar sekalipun orang lain melakukan yang salah. Biarlah firmanMu dan perkataanMu saja yang jadi standarku. Amin

Kasongan, 7 Juni 2017
-Mega Menulis-

No comments:

blog comments powered by Disqus

FoLLoWeRs