.....apa saja yang terpikirkan,yang jadi perhatianku, kehidupanku, pengalaman(ku dan orang lain), apa yang kusukai, apa yang tidak kusuka,apa yang ingin kubagikan, apa yang menyentuhku,apa yang tidak ingin aku lupakan, yang menginspirasiku, yang menolongku, menguatkanku, dan berarti buatku.

Dan di atas segalanya, perjalananku bersama Yesusku, saat-saat aku belajar berjalan bersama-Nya, bergantung sepenuhnya kepada-Nya,menikmati pemeliharaan dan kasih-Nya yang sempurna atas hidupku.

Wednesday, March 8, 2017

Bilangan 28-29, Amsal 6, Hosea 6

Bilangan 28-29

Kalau pada zaman dahulu Allah ingin orang Israel mempersembahkan berbagai jenis persembahan:
-korban pagi dan petang
-korban sabat dan korban bulan baru
-korban pada hari raya
Dengan ketentuan persembahan tersebut:
-yang tidak bercela
-yang terbaik
-yang menyenangkan Tuhan
Maka sekarang Tuhan ingin supaya aku gak mempersembahkan korban lagi tetapi mempersembahkan diriku,  seperti tertulis:
Roma 12:1-2 (TB)  Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.
Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Sebagai persembahan buat Tuhan, hidupku harus kudus dan berkenan kepada Tuhan.
Caranya?
1.Gak boleh serupa dengan dunia ini
2.Mengetahui kehendak Allah
Bagaimana mengetahui kehendak Allah?
Bersukutu dengan Tuhan dalam doa dan firmanNya.

Tuhan,  aku mau mempersembahkan hidupku sebagai persembahan yang hidup, kudus dan berkenan di hadapan Tuhan. Tolong aku ya Tuhan,  aku mau mengetahui kehendak Tuhan dan menaatinya. Amin

Bilangan 30:2 (TB)  Apabila seorang laki-laki bernazar atau bersumpah kepada TUHAN, sehingga ia mengikat dirinya kepada suatu janji, maka janganlah ia melanggar perkataannya itu; haruslah ia berbuat tepat seperti yang diucapkannya.

Tuhan ingin seorang laki-laki bertanggung jawab terhadap ucapannya dan gak sembarang bernazar. Tuhan menghargai kata-kata yang diucapkan seorang laki-laki. Tuhan juga ingin seorang suami atau ayah memiliku tanggung jawab menjadi pelindung seorang perempuan.

Lalu bagaimana dengan seorang perempuan?
Bukan berarti perempuan gak menaati nazarnya,  perempuan harus menepati nazarnya namun juga tunduk pada otoritas, entah ayahnya atau suaminya. Tuhan sudah menentukan seorang suami atau ayah menjadi pelindung seorang perempuan,  masalahnya maukah perempuan tersebut dilindungi?

Awalnya aku sempat berpikir kalau Tuhan kok kayaknya ga adil ya sama perempuan,  mosok untuk bernazar saja sepertinya harus dengan persetujuan suami atau ayahnya. Tapiii... Pas baca berulang kali pasal ini,  berasa banget kalau Tuhan bilang gini karena Dia sangat mengenal para perempuan. Tuhan tahu kalau perempuan terkadang ngomong tanpa berpikir panjang (me!!! #sigh) jadi Dia ingin melindungi perempuan supaya berhati-hati dalam bernazar,  Dia menempatkan suami atau ayah seorang perempuan menjadi pelindungnya.

Hosea 6

Hosea 6:3 (TB)  Marilah kita mengenal dan berusaha sungguh-sungguh mengenal TUHAN; Ia pasti muncul seperti fajar, Ia akan datang kepada kita seperti hujan, seperti hujan pada akhir musim yang mengairi bumi."

Berusaha sungguh-sungguh mengenal Tuhan berarti kita harus bersedia memberikan waktu yang berkualitas buat Tuhan, memberikan diri kita sepenuhnya buat Tuhan supaya Tuhan bisa memberikan diriNya dan mencurahkan isi hatinya. Kita SENGAJA memberikan waktu kita,  bukan waktu luang kita,  bukan sisa waktu kita.

Aku mau menyediakan waktu untuk mengenal Tuhan melalui firmanNya setiap hari. Seperti halnya orang yang punya janji ketemu. Aku mau berjanji bertemu Tuhan dan mengenal Dia setiap hari.
Kapan? Jam 4 pagi, jam 9 malam.
Dimana? Ruang tamu dan kamar tidur.

Tuhan,  aku mau mengenalMu lebih lagi setiap hari,  nyatakan diriMu Tuhan melalui firmanMu. Aku mau mengenal Tuhan lebih dalam supaya aku mengasihi Tuhan lebih sungguh. Amin

Amsal 6

Amsal 6:9 (TB)  Hai pemalas, berapa lama lagi engkau berbaring? Bilakah engkau akan bangun dari tidurmu?

"Aku gak mau lagi ah, dimintain tolong bangunkan kamu dek. Dibangunin berkali-kali  malah marah. Minta dibangunin tapi gak niat",kata suamiku beberapa hari yang lalu.
Tuing...  Tuing...
NIAT.
Kalo emang niat katanya pasti bisa! Pasti ada jalan! Kalo ngga ma biar gimana pun juga percuma. Aku pernah membaca kutipan yang mengatakan alau hati ingin akan ada 1001 cara, tapi kalau hati gak ingin akan ada 1001 alasan. Tapi hati pemalas dipenuhi dengan keinginan yang sia-sia. Gimana gak sia-sia kalau gak ada TINDAKAN? Niat ditunjukkan dengan TINDAKAN!!!
Bangun dan bertindak Meg! Jangan tidur doang! Jangan tinggal dalam kemalasan.

Aku masih belum bisa bangun jam 4 untuk saat teduh, padahal sudah ngidupin alarm. Harus diubah ni posisi hp agak jauh, jangan terlalu dekat dengan badan supaya aku gak bangun cuma buat matikan hp, supaya aku BENAR-BENAR BANGUN!!!

Tuhan,  aku gak mau beralasan,  aku gak mau tinggal dalam kemalasan. Tiap Tuhan taruhkan dalam hatiku sesuatu untuk aku kerjakan,  aku mau bersegera mengerjakannya. Aku percaya, aku akan menemukan cara tiap Tuhan mau aku melakukan sesuatu. Dan aku mau LAKUKAN hari ini juga.

Kasongan,  6 Maret 2017
-Mega Menulis-

No comments:

blog comments powered by Disqus

FoLLoWeRs