.....apa saja yang terpikirkan,yang jadi perhatianku, kehidupanku, pengalaman(ku dan orang lain), apa yang kusukai, apa yang tidak kusuka,apa yang ingin kubagikan, apa yang menyentuhku,apa yang tidak ingin aku lupakan, yang menginspirasiku, yang menolongku, menguatkanku, dan berarti buatku.

Dan di atas segalanya, perjalananku bersama Yesusku, saat-saat aku belajar berjalan bersama-Nya, bergantung sepenuhnya kepada-Nya,menikmati pemeliharaan dan kasih-Nya yang sempurna atas hidupku.

Wednesday, April 5, 2017

Hakim-Hakim 19-21, Matius 5, Amsal 5

Hakim-Hakim 19-21

Hakim-Hakim 19

Pasal ini bercerita tentang orang Lewi yang menjemput gundiknya. Di tengah perjalanan dia menginap di Gibea. Malam itu penduduk kota itu menggedor rumah itu dan ingin memperkosa dia. Ternyata setelah peristiwa Sodom dan Gomora, orang-orang masih melakukan praktek homoseksual #sigh. Orang Lewi ini, untuk menyelamatkan dirinya memberikan gundiknya keluar sebagai ganti dirinya untuk diperkosa. Dan semalaman gundiknya diperkosa orang Gibea. Pagi harinya gundiknya sudah mati. Lalu dia memutilasi gundiknya, memotongnya menjadi 12 bagian dan dikirimkannya ke semua suku Israel untuk membangkitkan kemarahan semua suku tersebut.

Aku gak mengerti dengan perbuatan orang Lewi ini,  dia memberikan gundiknya untuk diperkosa,  lalu dia memutilasi gundiknya dan mengirimnya ke semua suku Israel untuk minta pembelaan mereka. PADAHAL, dia loo....yang menyerahkan gundiknya untuk menyelamatkan dirinya. Dia juga turut andil dalam kejahatan tersebut. Kenapa sih dia gak menjaga gundiknya? Kenapa dia cuma memikirkan dirinya sendiri? Kenapa dia mengorbankan orang lain?

Aku ingat kutipan yang berkata,  orang jahat meraja lela karena orang baik hanya diam. Atau kutipan yang bilang kalau dosa bukan hanya aktif berbuat jahat tapi juga pasif berbuat baik.

Tuhan,  berikan aku kekuatan dan keberanian untuk melakukan yang benar dan gak hanya mementingkan diri sendiri.  Jangan biarkan aku mengorbankan orang lain hanya demi diriku sendiri.

Hakim-Hakim 20

Seluruh Israel berkumpul menghukum Gibea. Tapi suku Benyamin membelanya, terjadilah perang saudara. Puluhan ribu orang mati, dan dari suku Benyamin hanya tersisa 600 orang laki-laki saja. Semua wanita (dan anak-anak?) sudah dibunuh oleh suku-suku Israel yang lain. Ngeri ya!

Kenapa sih suku Benyamin membela orang Gibea yang nyata berbuat salah?
Kenapa sih peristiwa ini harus berujung perang saudara yang kejam? Gak adakah hukuman atau pendekatan yang lain untuk menyelesaikan masalah di Gibea?

Aku diingatkan untuk gak membela orang yang salah sekalipun dia saudaraku,  jika perlu menegur aku harus mau menegur. O, iya belajar juga untuk menyelesaikan masalah dengan kasih.

Hakim-Hakim 21

Orang Israel menangis dan menyesal karena orang Benyamin hanya tersisa 600 orang pria. Padahal mereka bersumpah untuk tidak memberikan anak perempuan mereka kepada orang Benyamin. Maka bagaimana suku Benyamin bisa bertahan? Orang-orang Yabesh-Gilead (bagian dari Israel) yang tidak ikut berperang dibunuh semuanya, laki-laki atau perempuan, hanya yang masih gadis yang tidak dibunuh. Mereka dibawa untuk dikawinkan dengan orang Benyamin. Saat ada perayaan di Silo orang-orang Benyamin atas restu suku Israel lain, menculik perempuan-perempuan Silo yang menari-nari dan memaksa mereka menjadi istri.

Sepanjang baca Hakim-Hakim ini aku bingung kenapa orang Israel melakukan banyak hal yang aneh,  kenapa mereka sampai berbuat demikian. Dan di ayat terakhir pada pasal ini tertulis:
Hakim-hakim 21:25 (TB)  Pada zaman itu tidak ada raja di antara orang Israel; setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri.

KEMBALI geleng-geleng deh,  bukannya hukum Taurat sudah ada? Mungkin kayak jalannya pemerintahan ya,  aturan banyak tapi kalau gak ada yang mengawasi atau menindak yang berbuat salah maka kekacauan terjadi.

Ingat Meg! Belajar dari orang Israel. Jangan melakukan yang mereka lakukan. Taatlah pada firman Tuhan tanpa harus ada yang melihat atau karena diawasin.  Taat sama Tuhan bukan karena dilihat orang lain tapi karena kamu mau menaati Dia.

Matius 5

Matius 5:20 (TB)  Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.

Bagaimana sih kehidupan ahli-ahli Taurat dan orang Farisi, sampai-sampai dibilang kalo hidup keagamaan kita ga lebih benar dari mereka maka kita ga akan masuk sorga?

1.Orang Farisi
Farisi diambil dari kata kerja “Parash” yang berarti “memisahkan”.  Seorang ahli yang bernama Kohler menjelaskan nama farisi tersebut dengan arti “orang yang memisahkan diri”, atau menjaga jarak/menjauh dari orang-orang atau hal-hal yang najis, dalam hal untuk mencapai tingkat kekudusan dan kebenaran yang diperlukan bagi orang yang ingin bersekutu dengan Allah.

Pernah dengar cerita orang Farisi yang berdoa?
Lukas 18:11-12 (TB)  Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini;
aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.

Orang Farisi ini menganggap hanya dirinya yang benar, dia hanya meninggikan dirinya dan merendahkan orang lain. Dia sombong. Dia gak sadar kalau dia gak berbuat dosa pun hanya karena kasih karunia Allah. Orang yang merasa dirinya sudah benar dan gak berbuat dosa lagi berbahaya, karena dia akan merasa gak memerlukan Tuhan.

2.Ahli Taurat
Ahli Taurat sebenarnya merupakan suatu jabatan, bukan orang yang dengan penuh kesetiaan memelihara Hukum Taurat. Mereka adalah orang-orang yang ahli dalam mempelajari Hukum Musa (Taurat) dan kegiatan utama mereka ialah mempelajari Taurat. Mereka memelihara hukum lisan dan dengan setia mewariskan Kitab-Kitab Suci Ibrani kepada murid-murid dan mengharapkan murid-murid menaatinya dengan sungguh-sungguh.

Orang Farisi dan ahli Taurat memberikan standar sangat tinggi untuk orang lain, tetapi sebenarnya mereka hidup di dalam standar yang jauh lebih rendah dari yang mereka telah tetapkan untuk orang lain. Gaya hidup keagamaan mereka yang cenderung legalistik, munafik. Mereka melakukan Hukum Taurat tersebut tanpa pengenalan akan Hukum Taurat dan Allah yang benar, sehingga mereka jatuh ke dalam legalistik sehingga jadi mengabaikan hukum yang terutama, KASIH.

Aku gak mau hanya melakukan​ perintah Tuhan tanpa mengenal Tuhan dengan sungguh. Aku mau mengasihi orang lain seperti Tuhan sudah mengasihiku. Tolong aku ya Tuhan supaya aku gak jatuh ke dalam dosa yang dilakukan orang Farisi dan ahli Taurat, ampuni aku ya Tuhan kalau sering menganggap diriku lebih benar dibanding orang lain. Tolong aku Tuhan,  aku tahu aku bisa melakukan sama seperti ahli taurat dan orang Farisi. Jagai aku ya Tuhan. Amin

Amsal 5

Amsal 5:6 (TB)  Ia tidak menempuh jalan kehidupan, jalannya sesat, tanpa diketahuinya.

YA! Biasanya seseorang baru sadar tersesat setelah jauh melewati jalan yang salah tersebut (karena gak sampai -sampai ke tujuan)  atau baru sadar saat orang lain mengingatkan.Aku bisa berada dalam posisi yang tersesat atau jadi orang yang memberi tahu jalan yang benar.

Bagaimana supaya gak tersesat?
TAHU jalan yang benar.
MEMILIH jalan yang benar.

Tuhan,  aku mau jadi orang yang mengingatkan orang lain yang tersesat,  aku gak mau jadi orang yang tersesat 😁 Aku mau mengetahui kebenaran dan hidup sesuai kebenaranMu. Aku gak mau tersesat. Tapi, saat aku tersesat, jangan biarkan aku berjalan terlalu jauh ya Tuhan, kirimkan orang-orang yang mau mengingatkanku dan berikan aku hati dan telinga yang mau mendengar supaya segera berbalik dan menempuh jalan yang benar. Amin

Kasongan,  5 April 2017
-Mega Menulis-

No comments:

blog comments powered by Disqus

FoLLoWeRs