.....apa saja yang terpikirkan,yang jadi perhatianku, kehidupanku, pengalaman(ku dan orang lain), apa yang kusukai, apa yang tidak kusuka,apa yang ingin kubagikan, apa yang menyentuhku,apa yang tidak ingin aku lupakan, yang menginspirasiku, yang menolongku, menguatkanku, dan berarti buatku.

Dan di atas segalanya, perjalananku bersama Yesusku, saat-saat aku belajar berjalan bersama-Nya, bergantung sepenuhnya kepada-Nya,menikmati pemeliharaan dan kasih-Nya yang sempurna atas hidupku.

Wednesday, February 11, 2015

Bagimana Menghibur Mereka yang Putus Cinta

Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis! Roma 12:15
AMENNN!!!
Emang harus gitu lah ya kita saat hidup bersama orang lain, bahasa kerennya-BEREMPATI. Tapi  seperti biasa, easy to say not easy to do. Susah banget lo berempati dengan mereka yang diputusin pacarnya alias patah hati gara-gara di-PHK (Putus Hubungan Kasih), apalagi jika kita gak pernah ngalamin seperti yang mereka alamin. Dalam hati pengen teriak gini:
“IH, PATAH HATI AJA SAMPE SEGITUNYA?!! GAK USAH SEGITUNYA KALEEEE…!!!”

Dulu saat ada teman yang patah hati, diam-diam aku memandang dengan sinis tingkah laku mereka. Ngapain sih berlagak seperti orang  yang paling sengsara sedunia, padahal cowok kan gak cuma satu, masih banyak cowok lain di dunia, belum lagi kalo dah patah hati pake acara gak selera makan dan nangis melulu sampe berminggu-minggu.  Lah, buat apa coba menyiksa diri kayak gitu. Heran deh melihat teman yang patah hati gara-gara diselingkuhin terus menguras air mata lebih rajin daripada menguras bak mandi, hellloooowww….  ^^’ Satu lagi yang aku gak sukai dari orang yang patah hati adalah mereka jadi suka menjelek-jelekkan mantannya, lah…dulu aja waktu awal pacaran dunia serasa milik berdua, kemana-mana berdua, si dia jadi cowok terbaik termanis tercakep terperfect di dunia, mana ingat sama teman, eh sekarang dah gini baru aja nyari temen :p Akan lebih speechless lagi kalau ada yang pengen mati alias bunuh diri gara-gara diputusin sama pacarnya (ada loooo…).

Nah, saat ada teman yang patah hati, sebagai teman yang baik kita biasanya akan berada disampingnya, lalu berusaha menghibur, menasehati dan mengeluarkan berbagai kata bijak sampai berbusa-busa dengan harapan si teman ini segera move on dan gak berlarut dalam kesedihan, tapi dalam hati masih ngebatin kayak di atas, hayo ngakuuuu…Pernah gitu gak?Aku pernah.  Aku merasa sebagai orang yang munafik deh, di mulut menghibur lah di hati ngata-ngatain kayak di atas! Ya gimana ya, aku memang ingin menghibur, tapi juga gak suka melihat seseorang yang hanya karena patah hati lalu bersikap berlebihan seperti itu (itu=berlarut-larut mengasihani dirinya dan melakukan berbagai hal yang bodoh).
Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik.
Roma 12:9
Ternyata, bukan mengasihi namanya saat kita ingin si teman cepat move on dari patah hatinya tanpa memberikannya waktu untuk bersedih.Bagaimanapun, ini masalah hati, ada yang terluka, ada perasaan yang tersakiti, ada harapan yang hilang, ada waktu yang dilewati bersama,  ada impian yang sirna, lalu mengapa kita memaksa orang untuk cepat sembuh tanpa melalui proses untuk sembuh?

Bukan mengasihi namanya saat kita berusaha memakaikan sepatu ukuran kita  pada orang lain, padahal setiap orang unik, dan ukuran sepatunya bisa jadi berbeda, sepatu kita belum tentu muat di kakinya, demikian juga sebaliknya. Setiap orang berbeda, setiap hubungan berbeda, “kedalaman” rasa orang berbeda, jumlah harapan yang ditaruhkan dalam hubungan berbeda,seberapa jauh langkah yang ditempuh berbeda, cara menjalaninya berbeda, so…jangan main pukul rata.

Bukan mengasihi namanya saat kita  memaksa orang lain “menelan” obat yang sama  seperti yang kita minum saat putus dari pacar, untuk sembuh dari  luka-luka yang ada, Tuhan punya obat dan metode penyembuhan yang berbeda untuk setiap orang, Karena setiap orang berbeda dan Dia tahu mana obat dan metode yang paling cocok.

Bukan  mengasihi namanya saat kita memaksa teman kita menerima hikmah yang sama dengan yang kita terima saat putus dari pacar, bukannya tidak mungkin Tuhan ingin mengajarkan sesuatu yang berbeda padanya dengan pelajaran yang kita dapatkan.

Bukan mengasihi namanya saat kita ingin orang lain memiliki respon yang sama dengan yang kita miliki. Bisa saja melalui peristiwa yang sama, karakter lain sedang dipertajam oleh Sang Empunya Kehidupan, berbeda dengan karakter yang terbentuk bila kita mengalami. Ingat lagi, setiap orang unik.

Bukan mengasihi namanya saat seorang teman menangis tersedu-sedu bercerita tentang patah hatinya, dan kita langsung berkata,”Yok kita berdoa.” , tanpa melihat situasi dan kondisi padahal bisa saja saat itu yang dia perlukan adalah sebuah pelukan dan telinga yang mau mendengarnya.(Gak ada yang salah dengan berdoa, tapi bukankah kita harus lebih peka).

Bukan mengasihi namanya saat kita ikut memaki mantan pacar teman kita dan berbuat jahat dengan mulut kita, padahal sebenarnya bukan itu yang dibutuhkan teman kita. Percayalah, memaki-maki hanya membuat lega sang teman untuk sesaat :p Malah ujung-ujung ntar dia bilang,”Tapi aku masih sayang diaaaa..”. Ini akan membuat kita pengen jedutin kepala ke tembok.LOL

Marilah kita bersama-sama belajar mengasihi mereka yang baru saja mengakhiri hubungannya dengan sungguh-sungguh, dengan kepekaan dan kasih yang dia perlukan. Benar-benar mengasihi. Mengasihi yang bukan dengan perkataan atau dengan lidah saja, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.Memiliki sikap hati dan berbuat yang benar dalam menghadapi mereka yang baru diputusin pacarnya bukan sesuatu yang mudah, memerlukan kepekaan yang luar biasa untuk turut menangisi hal-hal yang  dialami orang lain. Kita perlu bersabar menunjukkan bahwa dunia gak berakhir saat mereka putus dari pacarnya, bahkan dalam kehilangannya, mereka dapat menemukan banyak hal yang berharga.  Berikut beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk menunjukkan kasih kita pada mereka yang baru saja diputusin pacarnya.
1.      Mendengarkan
Jikalau seseorang memberi jawab sebelum mendengar, itulah kebodohan dan kecelaannya. Amsal 18:13

Seringnya nih ya, kita terburu-buru ingin menghibur dan memotivasi teman yang baru putus dengan kalimat-kalimat yang kita kira akan menghiburnya, seperti:
“Udahlah, lupakan aja dia, dia tuh emang brengsek”. (Lah, belum tahu ceritanya langsung maen nuduh aja bilang brengsek)

“Tuh kan, bener kan apa yang aku bilang, cowokmu tuh emang gak beres, dari awal aku dah curiga looo..” (Orang yang sedang sedih tau-tau disemprot gini, apa gak tambah jengkel ya).

“Udahlahhhh...Gak usah dipikirin cowok kayak gitu. Jangan sedih gitu ah. Masih banyak cowok lain yang lebih baik. Berdoa yuk, supaya Tuhan segera kasih gantinya yang lebih baik.” (Alamakkkk, mosok orang gak boleh sedih sih, namanya juga ada perasaan yang harus diakhiri, gak mungkinlah secepat itu menghilangkan kesedihan, gak realistis).

“Tenang sis, Tuhan punya rencana yang indah buatmu, dan itu bukan sama dia, rancanganNya damai sejahtera kok dalam hidupmu. Bersyukur kamu dilepasin dari orang yang gak setia gitu, itu supaya kamu belajar bersyukur waktu dipertemukan Tuhan sama yang benar-benar setia” (Ga ada yang salah dengan menghibur dan menguatkan seperti ini tapi …kok jadi ngotbahin sih ^^’ Ya gak papa sih, kalo si teman udah tenang dan mau mendengarkan kita, lah iniiii….lagi nangis-nangis sambil sesenggukan malah digituin, kira-kira yang diomongin bisa diterima gak? Mikiiirrrrr *cak lontong mode on*)
Dll… (isi sendiri sesuai kalimat yang sering kamu gunakan)

Penulis Amsal bilang yang kalo kita ngomong gitu tanpa berusaha mendengar dulu berarti itu BODOH dan MENDATANGKAN CELA. Hayooo, sapa yang pernah ngomong kayak di atas? *Angkat tangan* Iyeee…aku pernah melakukannya, dan aku gak bangga karena pernah melakukannya. Karena patah hati gak enak, ampun-ampun dah, gak mau lagi, lagian emang serasa dunia rutuh lo awalnya :p Kalo orang lain salah ngomong dan mengatakan hal yang gak pas tanpa tahu ceritanya, aihhh….pengen gigit-gigit deh ^^’

Jadi plis, kalau menghadapi teman yang baru diputusin, siapkanlah telingamu lebih dibanding kamu menyiapkan mulutmu. Kamu lebih butuh telingamu untuk mendengarkan dia. Saat-saat awal putus biasanya dia lebih butuh didengerin daripada  dinasehatin atau dikhotbahin. Mengasihi orang lain tu berarti mendengarkan mereka lo. Kalau kita mengasihi orang lain, kita mendengarkan mereka. Tentu saja, membutuhkan waktu dan usaha untuk memberikan perhatian kepada mereka dan mendengarkan apa yang mereka katakan. Secara, terkadang kita lebih sibuk memberikan kalimat-kalimat yang dapat membuatnya segera move on. Secara, kita dah gregetan duluan  melihatnya bersedih dan mengasihani diri sendiri.  Secara, seperti kaset yang rusak, mereka akan berulang kali mengulang ceritanya hingga lega ^^

Memilih untuk mendengarkan dibandingkan berusaha menghibur menunjukkan perhatian dan rasa hormat yang tulus. Mendengarkan, mungkin merupakan hal yang  paling mereka butuhkan supaya memperoleh semangat kembali atau dapat melihat masalah dengan lebih jelas. Mari belajar mendengarkan. Allah sendiri menunjukkan bahwa kasih itu bersedia mendengarkan. Mari kita sampaikan itu kepada mereka yang baru putus.  Tidak hanya dengan mulut yang gak berhenti mengucap, tapi  juga dengan telinga yang mau mendengarkan. Kita bersedia mendengarkan karena Allah kita adalah Allah yang mendengarkan. Jika kita saja mau mendengarkan, apalagi Allah yang sangat mengasihi dan mempedulikan mereka. Allah rindu mendengar mereka menyampaikan keluh-kesah dan tangisnya.

Aku telah memerhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir, dan aku telah mendengar seruan mereka. Keluaran 3:7
Jika Allah saja mau memperhatikan dan mendengar umatnya sebagai wujud kasihnya, mengapa kita gak belajar dariNya dan melakukan yang sama.

2.      Berdoa
Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu  dalam Kristus Yesus. Filipi 4:6-7

Bukan yang berarti kita langsung ngajakteman yang baru putus untuk berdoa ya. Kebayang gak sih, lagi nangis-nangis dan sibuk cerita, langsung kita cut,”BERDOA DULU YOK!”. Krik.Krik.Krik. ^^’ Sebelum kita mengajak teman ini berdoa bersama, alangkah baiknya kita sendiri yang berdoa lebih dulu, sambil si teman ini bercerita dan kita mendengarkan, kita jangan sampai putus koneksi sama Tuhan, minta pertolongan Tuhan agar melalui apa yang dia alami, Tuhan bisa bekerja lebih leluasa di dalam dan melalui peristiwa ini . Beberapa hal yang perlu kita doakan:
-Ketenangan dan damai sejahtera bagi teman kita, karena kalau seseorang sedang kalut dan sedih luar biasa, ada kecenderungan untuk melakukan hal yang bodoh, makanya kita butuh Tuhan yang memelihara hati dan pikirannya, supaya walaupun sedih, dia tetap terbuka untuk mendengarkan suara Tuhan dan mau dikoreksi.
-Agar kita bisa berkata dan merespon dengan tepat  sesuai apa yang dibutuhkan, karena hikmat Tuhan saja yang memampukan kita merespon dengan benar kebutuhan teman kita saat itu. Mungkin saat itu dia hanya butuh ditemani, atau hanya butuh dipeluk, atau didengarkan, kita gak tahu dengan persis apa yang menjadi kebutuhannya, tapi Tuhan tahu. Kiranya Tuhan yang bekerja di dalam dan melalui kita untuk menunjukkan betapa Tuhan mengasihi teman kita.


3.      Berbicara
Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya
adalah seperti buah apel emas di pinggan perak. Amsal 25:11
Saat kita mengalami kesedihan akibat putusnya sebuah hubungan, kita bisa jadi merasa tersinggung jikaseseorang mengatakan bahwa sesuatu yang baik dapat muncul dari kesedihan yang kita alami. Apa yang baik coba dari putusnya sebuah hubungan yang telah dibina sekian lama? Seseorang yang bermaksud baik dan mendorong untuk memercayai janji-janji Allah, dapat dianggap sebagai orang yang gak punya perasaan atau bahkan gak realistis. Kadang-kadang luka yang dialami seseorang  dapat menutup telinganya  terhadap kata-kata Allah yang penuh dengan pengharapan. Karenanya kita perlu mendengarkan dengan seksama saat teman mencurahkan isi hatinya dan meminta hikmat Tuhan untuk memperkatakan perkataan penghiburan yang tepat. Apa yang kita katakan akan menjadi sesuatu yang berharga dan menolong sang teman melalui masa-masa sukarnya jika perkataan itu tepat sasaran.

4.      Melihat apa yang tidak terlihat, mendengarkan apa yang tidak terucapkan
Seringkali, akibat dari berakhirnya sebuah hubungan tidak hanya masalah kesedihan karena berakhirnya sebuah hubungan. Bukan sekedar tentang bagaimana melupakan si mantan dan move on. Putusnya hubungan sering diikuti berbagai trauma mendalam yang tidak dengan mudah diungkapkan oleh teman kita, terkadang luka itu dapat berupa:
-ketidakpercayaan terhadap lawan jenis
-gambar diri yang rusak
-rasa takut untuk memulai hubungan yang baru
-keinginan untuk hidup sendiri
-tidak bersedia membuka diri
-terlalu takut disakiti sehingga membatasi pergaulan
-perasaan benci
-keinginan membalas dendam

Sebagai teman, kita perlu peka untuk memahami apa yang terjadi, lalu berusaha membantu teman kita untuk sembuh dari luka-lukanya dengan memberikan dukungan yang diperlukan. Dan hal terpenting yang perlu diketahui mereka yang patah hati adalah:
TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati,
dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya. Mazmur 34:19
Kiranya melalui peristiwa “diputusin” ini, teman kita menyadari kalau Tuhan saja yang gak pernah “mutusin” dia, dan Tuhan jadi lebih dekat dari sebelum dia “diputusin” pacar. Pada akhirnya peristiwa diputusin ini akan mendatangkan kebaikan saat dia mengasihi Tuhan, karena Allah pasti turut bekerja di dalamnya. Sebuah proses yang gak mudah, dan bukan berlangsung sekejap mata. Karenanya dibutuhkan kesabaran saat mendampingi teman yang patah hati.

5.      Bersabar
Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya. Pengkhotbah 3:1
Ketidaksabaran kita mendampingi teman yang baru diputusin sering kali membuat kita bosan mendampingi mereka, apalagi kalau dia mulai terkenang dengan si mantan, atau saat teman kita melakukan berbagai hal bodoh dalam jangka waktu yang lama. Kita sih maunya dalam beberapa minggu teman kita sudah kembali menjadi pribadi yang sama seperti sebelum putus. Kita maunya mereka segera menjadi pribadi yang paling kuat setelah diputusin. SEGERA. Tapi kita lupa, semua butuh proses. Biarkan teman kita menjalani proses yang harus dialaminya, jangan memaksakan langkah kita padanya. Setiap orang memiliki waktunya tersendiri. Kesabaranlah yang kita butuhkan waktu mendampingi mereka, biarkan mereka menjadi kuat pada waktunya.

Btw, pernah dengar yang namanya Grief Cycle gak? Pengetahuan tentang Grief Cycle tersebut dapat menolong kita untuk  mengetahui bagaimana merespon dengan benar teman yang patah hati, sesuai dengan tahapan yang dialaminya. Secara umum, saat seseorang menghadapi kenyataan pahit yang menyedihkan seperti kehilangan orang yang dicintai, putus cinta, ditinggalkan keluarga, dan lain-lain terdapat 5 tahapan emosi  yang diperkenalkan oleh seorang psikiater bernama Elisabeth Kรผbler-Ross pada bukunya On Death and Dying (1969). Setidaknya itulah hipotesa yang dikenal dengan Kรผbler-Ross mode atau "5 Stages of Grief. (Sumber:http://www.businessballs.com/elisabeth_kubler_ross_five_stages_of_grief.htm), dalam bahasa Inggris 5 tahap ini disingkat dengan DABDA:
1.      Penolakan (Denial)
Penolakan merupakan suatu kegiatan sadar atau tidak sadar untuk menerima fakta, informasi, realitas, dll , berkaitan dengan situasi yang bersangkutan.Ini merupakan mekanisme pertahanan dan sangat alami.Beberapa orang dapat demikian susahnya menerima kenyataan dalam jangka waktu yang sangat lama.

2.       Kemarahan (Angry)
Kemarahan bisa diwujudkan melalui cara yang berbeda.Orang yang mengalami gangguan emosi dapat marah dengan diri mereka sendiri, dan / atau dengan orang lain, terutama mereka yang dekat dengan mereka.Mengetahui hal ini akan membantu kita menghadapi kemarahan seseorang yang sangat kecewa.

3.      Pengharapan/Tawar-menawar (Bargaining)
Tahap ini termasuk tahapan untuk mendapatkan keringanan. Ekspresi yang timbul misalnya bagi yang putus cinta, akan bertanya-tanya, "Apakah saya  masih bisa berteman dengan mantan?"

4.      Depresi (Depression)
Tahap ini adalah semacam tahapan yang harus dilalui sebelum dapat menerima secara emosional. Sangat wajar untuk merasakan kesedihan dan penyesalan, ketakutan, ketidakpastian, dll. Hal ini menunjukkan bahwa orang memiliki setidaknya mulai menerima kenyataan. Tahap ini menunjukkan bahwa seseorang mulai menerima situasi, namun masuk dalam kesedihan yang mendalam dan ditunjukkan dengan sikap diam, menyendiri dan menangis. Tidak direkomendasikan untuk mencoba menghibur seseorang pada tahapan ini, akan lebih baik membiarkan proses ini berjalan dengan alami.

5.      Penerimaan (Acceptance)
Merupakan tahap menerima, namun berbeda dengan keadaan depresi walaupun juga bukan berarti orang tersebut akhirnya bahagia. Ia hanya sudah dapat menerima kenyataan. Pada tahapan ini seseorang berpikir secara jernih dan menerima kaenyataan yang terjadi.
Model ini mungkin adalah sebuah cara untuk menjelaskan mengenai bagaimana dan mengapa "waktu akan menyembuhkan luka", atau bahwa "kehidupan terus berjalan". Dan bersamaan dengan setiap aspek emosi yang kita miliki, saat kita mengetahui lebih jauh tentang tahapan apa yang sedang terjadi, maka menjalaninya akan menjadi lebih mudah. "Grief cycle" tidak dimaksudkan sebagai tahapan-tahapan yang seragam. Urutannya bisa berbeda-beda, jangka waktu yang dialami masing-masing pelaku saat mengalami tiap tahap juga tidak sama. Model ini lebih merupakan sebuah panduan bagi pelaku untuk menjalani kedukaan yang mereka alami. Grief cycle model ini bisa menjadi perspektif yang berguna untuk memahami reaksi emosional saat menghadapi trauma atau perubahan, dengan sebab-sebab yang yang sulit kita terima. (Sumber: http://menangkappikirandengankata-kata.blogspot.com/2012_01_01_archive.html)
Akhir kata, bersukacitalah dengan mereka yang jatuh cinta, dan menangislah dengan orang yang putus cinta! ^^V

Ditulis untuk Majalah Pearl edisi 24 

No comments:

blog comments powered by Disqus

FoLLoWeRs